
Setelah beberapa menit, Sheila bangun dengan wajah ceria dan menggeliat. Kedua temannya masih ada menunggunya bangun. Kebetulan bel istirahat juga berdentang.
"Akhirnya..." kata Erin tertawa.
"Ayo ceritakan seperti apa yang kamu lihat," kata Karin dengan antusias.
"HOAAAMM ceritakan dulu deh kabar yang kalian dengar soal kamar 105 karena aku terpaksa di sana selama setahun kan," kata Sheila agak lemas.
"Hmmm seperti apa ya? Kalau aku hanya mendengar dari kakakku yang masih bergabung dengan klub voli. Kata dia, di kamar nomor 105 muncul hantu Anak kecil berusia lima atau enam tahun," jelas Karin.
Mereka berdua merinding mendengarnya.
"Sama dengan yang aku lihat dong," kata Sheila.
"Tapi masalahnya belum ada orang yang pernah melihat jelas wajah anak itu dan hantu itu tidak selalu muncul juga. Yang berdiam di kamar 105 ada yang bisa melihatnya namun ada juga yang tidak," kata Karin.
Sheila merinding begitu juga keduanya mereka bersyukur belum pernah sekalipun menginap di asrama sekolah.
"Ngomong-ngomong kalian penasaran tidak sih dengan rupa wajahnya? Bagaimana kalau ternyata wajah anak itu hancur?" Tanya Karin penasaran.
"Hentikaaan pikirkan dong aku yang harus di sana selama setahun," kata Sheila menangis.
"Hahaha maaf maaf. Kami lupa," jawab mereka berdua.
"Lalu ada cerita versi lainnya? Bagaimana denganmu, Erin?" Tanya Sheila memandangi Erin.
"Aku hampir sama kabarnya lalu untuk orang yang bisa melihat wajahnya, karena disukai hantu itu. Lalu mereka akan ditangkap dan dibawa ke dunianya. Kalau ada yang beruntung bisa selamat juga bisa kena gangguan mental," jelas Erin.
"Tunggu tunggu masalahnya bagaimana dengan kasus Sheila?" Tanya Karin.
Mereka bertiga hening sejenak saling berpandangan lalu tertawa bersama. Sheila memucat wajahnya memikirkan kemungkinan dia akan dibawa ke dunia roh.
"Kalian," kata Sheila memucat.
"Tidak apa-apa jangan dipikirkan itu kan hanya gosipnya sampai sekarang juga yang selamat baik-baik saja meski trauma," kata Erin tertawa menenangkan Sheila.
__ADS_1
"Iya iya," kata Karin yang juga menyemangatinya.
"SUDAH TERLAMBAT TAHU! Lalu, jelaskan kenapa hantu itu muncul di hadapanku? Jelaskan!" Kata Sheila mengguncang-guncang bahu mereka berdua dengan pandangan seram.
"Ka-kami tidak tahu soal itu. Mungkin juga karena kamu peka," kata mereka berdua.
"Aku tidak sepeka itu," kata Sheila merenggut.
Saat mereka kembali ribut, bel berbunyi. Mereka bertiga berjalan kembali ke kelas sedangkan Sheila masih memikirkan nasibnya di asrama itu.
"Bagaimana ini nasibku dalam asrama itu?" Tanya Sheila.
"Tenang saja itu kan hanya kabar angin. Oh iya kamu sudah mengerjakan tugas Kimia?" Tanya Erin memandangi Sheila yang membeku.
"Lihat dooong," pinta Sheila memelas.
Mereka akhirnya akan membantu tapi saat memasuki kelas ternyata guru killer Kimia telah menunggu. Sheila pasrah karena saking ketakutannya sampai lupa mengerjakan tugas dan malah tertidur.
Otomatis saat guru sampai di mejanya, dia di usir keluar kelas sambil memegang banyak buku dan ember.
"Akibat mendengar suara aneh dia sampai kekurangan tidur," kata Erin.
"Lalu disini juga dia tidur dan lupa dengan tugas Kimia. Malang sekali nasibnya," kata Karin menghela nafas.
Sheila terpaksa menahan wajah merahnya saat melewati mejanya dan melihat Angkasa menertawainya. Di luar kelas dia berdiri tegak membelakangi jendela kelas.
"Hahh sial sekali hari ini sudah dikerjai hantu anak kecil, lupa mengerjakan Kimia, sekarang disuruh berdiri sambil membawa buku berat ini. Mana Angkasa menertawai juga begini ini kali ya yang disebut babak belur," kata Sheila bicara sendiri.
Dia masih kepikiran mengenai apa yang dikatakan oleh kedua temannya, bulu kuduknya berdiri tatkala mengingat kejadian itu.
Sudah beberapa tahun kamar itu tidak ditempati sekalipun ada, tidak terjadi apapun. Lalu kenapa sekarang harus dia yang mengalami?
"Tapi tidak bisa seperti ini terus, tidak bisa selesai hanya dengan tertawa atau mendengarkan desas desus semata. Karena aku... sudah melihat anak itu," pikir Sheila.
Akhirnya Sheila diijinkan masuk kelas kembali saat 10 menit menuju jam pulang. Sheila duduk sambil memijat-mijat punggung dan kakinya yang pegal. Sambil membungkuk agak meringis, Angkasa datang menaruh salep anti encok di mejanya.
__ADS_1
Sheila lalu duduk tegak dan melihat benda kecil tersebut. "Lho? Siapa yang menaruh salep ini?" Tanya Sheila memegang dan mencari pelakunya.
Erin dan Karin menghampiri dengan senyuman mengembang.
"Cieeee yang diberi Angkasa salep dia tadi kesini tapi kamu sibuk memijat," kata Karin duduk di meja orang.
Sheila kaget dan dia tersenyum malu, kedua temannya menggoda dia untuk menyatakan cinta.
"Tidak tidak sekarang ada yang lebih kritis daripada cinta!" Kata Sheila menggunakannya ke tempat yang sakit.
"Ya ampun masih saja dipikirkan," kata Karin menepuk jidatnya.
"Sudahlah, pikirkan Angkasa saja dia sudah memberikan lampu hijau tuh," kata Erin menggoda.
Mereka pulang bersama dan berpisah di jalanan yang berbeda. Sheila memandangi asrama bobrok itu dengan menghela nafas lagi dan menuju kamarnya.
Malam harinya karena Sheila penasaran, dia mencari kakak senior yang dulu pernah menyapanya.
"Kak, maaf bisa bicara sebentar?" Tanya Sheila menghampirinya yang sedang membaca majalah.
"Tentu. Ada apa?" Tanya Anoko menyilah kan Sheila duduk dengannya.
Sheila agak ragu untuk bertanya tapi ini semua harus jelas secepatnya! "Anu, soal kamar 105 itu,"
"Eh? Kamu mau dengar lebih rinci lagi? Jadi itu kamu ya yang sering ribut-ribut kalau malam. Kamu melihat sesuatu kan?" Tanya Anoko yang gembira.
Sheila berwajah datar, ekspresinya sama dengan kedua temannya. "I-iya maaf ya kak pasti teriakan saya mengganggu kakak," kata Sheila menundukkan kepalanya.
"Yah, tidak apa-apa sudah biasa juga. Kami di sini sama sekali tidak aneh dengan teriakan histeris. Temanku juga pernah menempati kamar itu, dia cerita melihat bayangan anak kecil," jelas Anoko.
"S-s-sama dengan saya," kata Sheila terkejut. Dia lega ternyata bukan hanya dia saja yang menemukan kejadian itu.
"Dia anaknya penakut sih, aku sering menemaninya di kamar itu tapi tidak melihat apa-apa," jelas Anoko.
Bersambung ...
__ADS_1