
"Oke deh, jadi hanya kita berdua saja ya," kata Hera sambil membuka buku dan sekotak peralatan tulis.
"Iya kalian berdua kan belum dapat kostum," kata yang lain duduk di depan mereka.
"Nanti setelah dari toko buku, kita berdua yang berbeda arah dengan yang lainnya," Kata Hera yang duduk sebelah Andriani.
Mereka berdua mengeluarkan buku materi dan buku catat serta peralatan menulis. Untungnya tempat duduk mereka jauh dibelakang. Dosen mereka masuk dan pelajaran dimulai, sambil memperhatikan dosen di depan, Hera dan Andriani masih sesekali mengobrol.
"Jadi kita mau beli dimana dong? Aku kemarin bertemu dengan anak kecil yang memakai baju gothic. Kamu pasti tahu kan baju itu seperti apa. Hanya..." kata Andriani sambil mencatat.
Hera mengangguk mendengarkan. Telinga mereka berada dalam dua arah agar dosen tidak ketahuan mereka sedang mengobrol.
"Kenapa?" Tanya Hera memandangi temannya itu.
"Kalian catat semua teori ini nanti catatan ini akan berguna saat kalian magang diluar," kata dosen tersebut lalu menyuruh ketua kelas untuk mencatatnya di papan tulis.
Sambil mencatat, semua mahasiswa/i ramai mengobrol yang penting apa yang disuruh dosen itu mereka kerjakan. Kesempatan juga untuk mereka berdua, apalagi Hera semakin tertarik mendengar kisahnya.
"Anaknya dingin. Aku sempat bertanya sih tempat yang menjual baju itu dimana eeh malah dicuekin sama dia coba. Aku kan hanya ingin tahu alamat tokonya, coba deh kalau kamu lihat bajunya," kata Andriani.
"Anak kecil? Hahaha masa sih ada anak kecil pakai baju gothic? Lalu karena itu kamu tertarik mencari toko tersebut? Kenapa tidak cari kostum yang lain saja sih. Tidak mungkin deh kamu bisa bertemu lagi, entah anak itu berada di jalan mana sekarang kan," kata Hera yang tertawa tapi ditahan.
"Iya siiiih," kata Andriani yang menggambarkan sosok anak kecil itu.
"Perbandingannya 10 : 90 persen, Ni. Syukur kalau bisa bertemu, kalau tidak lantas mau bagaimana? Sudaaah lebih baik ikut dengan aku saja yuk ke toko yang aku kemarin temukan. Tidak akan rugi deh kamu, memang sih aku tidak sempat melihat-lihat ke dalamnya tapi dari cerita kami tadi jangan-jangan ada hubungannya," kata Hera menambahkan.
Andriani tampak heran. "Maksudnya?" Tanyanya.
"Aku sempat melihat ada beberapa baju aneh ya yang disebut Gothic. Tergantung di depan meja resepsionis aku pikir mungkin itu seseorang yang memesan. Bajunya bagus banget! Aku teringat kamu kan memang suka baju tipe seperti itu ya, tidak heran benar," kata Hera dengan wajah yang yakin.
"Tapi Hera, aku kan tidak pernah..." kata Andriani tidak meneruskan perkataannya.
"Kalian sedang mengobrol?" Tanya dosen yang menangkap basah mereka.
"Menulis kok, Pak," kata mereka berdua memperlihatkan catatan mereka.
Dosen lalu kembali ke tempat duduknya dan membuat soal dan tugas kelompok.
Hera menggerakkan jarinya berputar ke arah kepala Andriani, sebuah asap berwarna hijau memasuki pikirannya dan mengganti bahwa dirinya pernah menceritakan soal itu padanya. Hera pun tersenyum
"Maaf ya aku ingat pernah cerita sama kamu. Entah kenapa denganku akhir-akhir ini," kata Andriani menatap kosong pada Hera.
"Tidak apa-apa," tepuk Hera di bahu Andriani lalu kedua matanya kembali normal.
Andriani menggaruk kepalanya merasa aneh. "Aku kenapa ya?" Tanyanya kebingungan.
"Kamu hanya melamun lalu aku sadarkan kamu," kata Hera tertawa renyah.
"Oalaa lalu lalu? Cerita yang tadi bagaimana?" Tanya Andriani.
"Aku lihat pemilik rumah itu tapi memang kesannya aneh dan misterius. Sekejap melihat ada anak kecil," kata Hera membuat Andriani melongo.
"ITU YANG AKU TEMUI!" Teriak Andriani kelepasan. Semua orang termasuk dosen memandanginya.
"Kamu menemui siapa di jam kuliah saya?" Tanya Dosen dengan wajah kesal.
"Maaf Pak," kata Andriani menyesal melirik Hera yang terpingkal-pingkal.
"Saya lihat catatan kamu. Sini!" Perintah dosennya. Andriani melihat buku catatannya, hanya ada gambar anak kecil dan dia belum selesai menulis. Dia pasrah saat dosen itu melihat ke dalamnya dan mengangguk.
"Maaf Pak, saya belum selesai menulis," kata Andriani membuat dosennya heran.
__ADS_1
"Kamu ini mengantuk ya? Catatan kamu sudah penuh. Ya sudah duduk lain kali jangan terlalu berisik," kata dosennya mengembalikan buku catatan Andriani.
Dengan heran, dia melihat bukunya. Memang tulisannya sudah penuh, dia tampak semakin pusing. Hera tertawa menyeringai tapi tidak menampakkannya.
"Kamu mengantuk? Sampai tidak sadar kamu sudah menulis banyak," kata Hera.
"Aneh. Ya sudahlah mungkin memang aku mengantuk lalu lanjutkan lagi ceritanya," kata Andriani.
Tentu saja Hera bisa melihat asap yang keluar dari tubuh Andriani, hal ini pasti akan memikat Eris untuk menyambutnya. Tentu saja Eris berada tepat di depan kelasnya Andriani. Dia tahu keberadaan Hera karena Hera merupakan wujud reinkarnasi bibinya di masa Yunani dahulu. Bibi tersayang yang selalu siap membantunya kapan saja.
Eris baru menyadari bahwa semua dewa dewi ternyata bereinkarnasi saat mereka tutup usia. Sebagian ingat dan sebagiannya hidup layaknya manusia biasa, melupakan siapa jati diri mereka dan menjalankan hari-hari damainya di Bumi. Dia teringat pada musuhnya disana, bertanya-tanya apa dia juga akan menemukan mereka disini?
"Penasaran tidak? Siapa tahu anak yang aku lihat ternyata anak yang kamu cari itu," kata Hera senyum ceria.
"Boleh! Aku akan ajak sekalian kakakku ya kalau begitu. Dia juga penasaran okeh kecantikan anak itu siapa tahu anak itu memakai sesuatu di kulitnya," kata Andriani kemudian mengeluarkan ponselnya. Lalu mengetik kalimat.
Hera memperhatikan Andriani lalu pintu keluar kelasnya. Eris menghilang saat tahu itu dan Hera tersenyum.
"Apa nama tokonya?" Tanya Andriani selesai.
"Hmmm apa ya? Aneh juga namanya, sebentar aku ingat-ingat dulu. Zalaam kalau tidak salah ya," kata Hera dengan sengaja berpikir.
"Zalaam? Nama apa tuh? Aneh sekali. Benar isi toko itu bagus-bagus, Ra? Jangan-jangan isinya barang yang membosankan dan suram seperti kebanyak toko antik di Jalan Heboh," kata Andriani agak sangsi.
"Hahaha ya bedalah. Ada banyak barang yang sering kita lihat apalagi mereka menyediakan yang paling baru. Handphone model terbaru, kosmetik, hiasan dinding, dia juga punya mobil terbaru berwarna merah," kata Hera dengan kedua mata yang menyala kalau Andriani bisa melihatnya.
"Ah kalau mobil aku tidak tertarik aku kan tidak bisa menyetir," kata Andriani mengibas tangannya.
"Ya memang tidak bisa dipakai juga sih," kata Hera.
"Lalu sistem pembeliannya pakai kartu kredit?" Tanya Andriani, dia bisa saja meminjam milik ayahnya.
"Tidak cara pembayarannya mungkin terkesan sangat tidak masuk akal," kata Hera memberitahukan.
"Iya lebih mudah. Aturannya kita hanya meminjam," kata Hera.
"Itu bukannya akan rugi?" Tanya yang lainnya yang ikut mendengarkan. Dosen mereka keluar dan menyerahkan sisa materi pada ketua kelas.
"Iya tidak butuh uang untuk jaminan?" Tanya yang lainnya lagi.
"Tidak butuh uang, pemiliknya hanya terkesan puas dan kalau kalian bisa mengembalikannya sesuai waktu dan pas, maka pembayarannya selesai," kata Hera.
"Jadi kita juga bisa belajar agar tepat waktu mengembilkan barang yang bukan milik kita ya," kata Yani bergabung dengan mereka.
"Ya bisa jadi. Kita kan berbeda perilaku, sifat dan kebiasaan kalau sudah keenakan biasanya mau dikembalikan agak merasa sayang kan," kata Hera membuat mereka setuju.
"Lalu kalau misalkan kita terlambat mengembalikan apa akan kena denda?" Tanya Li yang ikut.
"Tidak apa-apa selama kamu terus ingat akan hutang pengembalian. Tentu saja jangan sampai disengaja. Terlambat masih lebih baik daripada tidak punya niat mengembalikan," kata Hera duduk dengan santainya.
"Lalu kalau masalahnya tidak dikembalikan, apa yang akan terjadi?" tanya Andriani.
Hera tidak menjawab walaupun mereka semua menanti jawabannya. Saat itulah bel materi pertama berbunyi artinya mereka harus berganti kelas dan mereka termasuk Andriani dengan cepat membereskan buku.
"Kita lanjutkan nanti deh. Hera enak ya sudah ini langsung ke gedung Gym," kata Andriani dengan sedih.
"Ya. Nanti aku tunggu di bangku depan ya," kata Hera yang dengan tenang membereskan buku.
Semuanya kemudian berjalan keluar kelas sedangkan Hera paling belakang. "Kalau kalian tidak kembalikan, nyawa kalianlah yang menjadi pembayarannya," kata Hera menampakkan wujud aslinya lalu menghilang begitu saja.
"Ngomong-ngomong tadi kamu bicara dengan siapa? Barisan belakang kan hanya ada Andriani dan Li saja," kata teman lainnya.
__ADS_1
Yani dan ketiga temannya juga bingung entah kenapa mereka merasa ada satu orang lagi yang berbicara dengan mereka tapi tidak ada satupun yang mampu mengingatnya. Dirasa itu hanya pikiran lelah mereka saja, mereka tidak melanjutkan obrolannya.
Setelah itu 3 materi perkuliahan akhirnya selesai. Hera kembali datang dan menunggu Andriani serta kakaknya di bangku depan. Kedatangan Hera sudah tentu berpengaruh lagi dengan teman yang lainnya. Hera sengaja memancarkan kekuatannya agar semua orang mengenalnya, membantunya bisa hidup secara alami di Bumi.
"Hera! Maaf menunggu lama ya," kata Andriani yang sudah terpengaruh pada kekuatannya.
"Tidak apa-apa aku baru selesai kok," kata Hera senyum.
Lalu bertemu kakaknya, Sarah dan mereka mengobrol. Kadang Sarah merasa asing memandangi Hera tapi ditepisnya pikiran itu dan mereka berjalan menuju parkiran mobil.
"Kamu bertemu David tadi? Bagaimana kelanjutannya?" Tanya kakaknya penasaran.
"Entahlah. Kata dia sih sedang sibuk dengan tugas dan skripsinya. Tahu tidak ada perempuan lain yang menyusulnya. Aku sebal benar apa kata kakak, dia punya lagi yang lain," kata Andriani yang masuk ke mobilnya. Begitu juga Hera.
"Iyalah, soalnya aneh saja sudah hampir 2 bulan tidak ada kabar. Kakak sendiri pernah lihat sih dia ada jalan dibelakang kamu tapi kakak pikir mungkin saudaranya," kata Sarah mulai menjalankan mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Hera.
"Lihat saja nanti di acara itu adek akan memikat senior yang paling tampan. Baju yang adek pakai pasti akan menarik hatinya karena sudah pasti yang paling berbeda. Hera, kamu jangan ikut kostum yang sama ya dengan aku," kata Andriani menatap temannya itu dengan tajam.
"Hahaha tenang tenang aku sudah pesan kostum kok temanya juga berbeda dengan punya kamu," kata Hera tertawa menenangkan Andriani.
"Memangnya senior yang mana sih dek? Memangnya ada ya yang tampan sekali jauh dari David? Jurusan mana?" Tanya kakaknya yang menyetir. Andriani duduk bersama kakaknya sedangkan Hera di kursi belakang.
"Ada dong kak, itu jurusan Hukum. Namanya aku hapal dong. Kak Kratos," kata Andriani.
Hera terdiam. Kratos hmmm... dewa perang dalam dunianya dulu, orang yang paling sering banyak berbuat ulah. Memancing emosi prajurit sampai mereka akhirnya bertarung. Disini bagaimana ya??
"Kratos? Kamu yakin? Dia sudah punya kekasih. Dek, jangan sampai ya kamu jadi pelakornya," kata Sarah tertawa.
"Kenapa kak? Siapa tahu Andriani bisa mendapatkannya kan tidak ada yang mustahil kalau niatnya penuh," kata Hera.
"Iya sih tapi kekasihnya itu gila parah, cantik sekali! Lebih baik cari yang lain deh jangan dia nanti kamu kualat kalau misalkan ternyata salah dugaan. Bisa jadi perempuan yang kamu lihat dekat David itu adiknya kan," kata Sarah.
"Huh aku yakin itu pacarnya yang baru. Adek akan tinggalkan dia sebelum dia yang meninggalkan adek. Aku yakin baju yang disiapkan anak itu ditakdirkan hanya aku yang memilikinya. Wah, jadi tidak sabar," kata Andriani dengan semangat.
"Dek, bagaimana kalau kita cari pakaian yang lain saja? Di toko lain kan masih banyak tinggal cari model yang sama, kostum yang hanya ada satu juga ada kan," saran Sarah yang masih tidak mau kesana.
Hera kesal juga dengan kakaknya dan hanya diam melihat Andriani.
"Kakak kenapa sih? Kan adek sudah bilang, adek sukanya sama baju yang dipakai anak kecil kemarin! Pokoknya mau yang itu. Lagian kakak tahu tidak, kata Hera cara sistem pembayaran di toko itu berbeda kita tidak perlu bawa uang sebanyak apapun," kata Andriani.
"Serius mana ada sistem seperti itu. Kalau ada, kamu harus curiga Dek bukannya semangat," kata kakaknya.
"Tapi benar kok kak, saya baca sendiri aturannya. Tidak membutuhkan uang," kata Hera yang agak memaksa.
"Tuh kan masa Hera bohong? Ayolah kak, kapan lagi kita kesana untuk meminjam bajunya. Nanti kalau acaranya sudah beres, adek tinggal kembalikan saja," kata Andriani membujuk kakaknya.
"Janji ya setelah selesai kamu kembalikan baju itu. Jangan berlama-lama, hari itu juga. Janji?" Tanya kakaknya sambil menyetir.
"Kakak ini sama dengan Mama cemas sekali sih. Iya aku janji saat itu juga akan aku kembalikan," kata Andriani menyetujuinya.
"Memangnya ada ketentuan berapa hari bisa dipinjamnya?" Tanya Sarah pada Hera.
"Setahun juga bisa," jawab Hera membuat Sarah kaget.
"Setahun!? Wah, kak berarti tidak harus hari itu juga dong?" Tanya Andriani antusias.
"Ya kebanyakan. Tapi itu terserah pemiliknya Andriani. Nanti dia akan mengatakan berapa hari kamu bisa meminjamkannya, tidak semua barang bisa selama itu," jelas Hera.
Andriani sudah senang bila dia bisa meminjamnya lebih lama tapi tidak dengan Sarah, dia merasa ada sesuatu yang janggal.
Kostum Hera
__ADS_1
Bersambung ...