Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
2


__ADS_3

Sang nenek menundukkan kepalanya mengetahui bahwa dirinya tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan anak lagi.


Beberapa waktu berlalu sang anak dipercaya untuk dititipi rumah selama mereka berdua akan ke kota untuk membeli beberapa kebutuhan.


"Nak, jangan masuki kamar yang ada di depanmu ya," pesan sang nenek.


"Kenapa?" Tanya anak itu berpura-pura.


"Jangan." Kata sang nenek dengan nada sangat galak.


Anak mengangguk mengerti, nenek berjalan menuju mobil sambil sesekali melirik ke belakang. Anak itu melambaikan tangannya. Sang kakek hanya tertawa dalam mobil.


Akhirnya mobil itu menjauh sang anak lalu membawa potongan-potongan kayu yang kakek kerjakan tadi pagi. Kesempatan itu dia gunakan setelah selesai merapihkan kayu menuju kamar di depannya.


Di depan kamar tersebut dia mengetuk-ngetuk lalu terdiam untuk mendengar suara dari dalam. Terdapat suara gesekan entah dari mana.


SREEEK SREEEK


"Kamu masih di sini? Pergilah! Cepat!" Bisik anak dalam kamar tersebut.


"Ini rumah apa?" Tanya anak itu enggan pergi.


"Penjagalan. Jangan pernah memakan apapun yang kakek itu berikan kecuali pemberian sang nenek," kata suara itu lagi.


Anak setan itu terdiam, dia sebenarnya selalu menangkap aroma darah yang pekat keluar dari kamar tersebut.


"Di dalam ada berapa anak?" Tanya Anak setan.


"Sembilan. Termasuk saya total sepuluh. Pergilah! Lari! Kakek itu sinting dia juga akan memukulmu mau kamu anak penurut atau bukan. Selamatkan nyawamu, sekarang masih sempat," bisik anak itu tampak panik.


"Tenanglah. Aku tidak akan apa-apa justru merekalah yang harus takut," kata anak itu menenangkan.


"Apa maksudmu?" Tanya anak di dalam.


"Jangan dipikirkan. Sedari kemarin aku mencium aroma darah dari kamar ini. Apa yang sebenarnya kakek lakukan pada kalian?" Tanya anak itu.

__ADS_1


Tidak ada jawaban sesaat anak itu mendengar ada banyak suara tangisan meraung-raung. Persis seperti dia dengar di bulan lalu.


"Iyu adalah jeritan mereka yang tertahan di rumah ini," kata Eris yang muncul di belakang anak setan.


Anak setan itu berbalik menatap kedua mata Eris bersinar merah keemasan. Dia tahu, Dewi Kegelapan ini tidak menyukai keadaan rumah. Energi merah keunguan keluar dari tangannya, dia bermaksud membakar rumah beserta isinya.


"Jangan! Kalau rumah ini terbakar bagaimana dengan nenek?" Tanya anak tersebut agak cemas.


"Wah wah wah, kamu tersentuh oleh perasaan manusia? Yah, hanya kakek itu yang memasuki lingkaran setan. Dia membantai semua anak yang dia ajak masuk ke rumah ini. Kamu," kata Eris menatap anak yang memandangi.


"Apa?" Tanya anak itu ketakutan. Tahulah kekuatan Eris tidak setara dengannya.


"Kamu yang anak setan pasti sudah lebih dahulu tahu bukan. Anak di dalam yang berbicara denganmu sebenarnya sudah tidak ada sejak lama. Itu adalah sisa dari keinginan mereka untuk bisa lari dari rumah ini," kata Eris lalu menghilang.


Anak itu sedih dan menelan ludah kemanapun dia pergi tampaknya selalu terjadi bencana. Untuk memastikan kebenaran kata Eris, anak itu menyentuh kenop pintu dan terbuka.


Aroma darah dan aura kesadisannya yang pekat menyeruak ke arah hidungnya. Dia sendiri meski berasal dari negeri setan tidak berani melangkah masuk. Hanya dengan melihat dari depan pintu dia bisa melihat keadaan kacau kesadisan dari perbuatan kakek.


Tulang belulang yang retak, entah yang mana kepala, yang mala tangan. Semua berantakan, jejak darah berhamburan di mana-mana. Dia menghitung memang ada 10 anak dengan keadaan sudah tak berdaging.


Terdapat baskom hitam dia yakin itu adalah sisa-sisa dari anak-anak tersebut yaitu darah. Dia ingat minuman segar yang diberikan oleh sang kakek kepadanya dan nenek. Meski bagiannya sudah ditukar dengan minuman sirup oleh Eris.


"HUWAAAAAA," anak tersebut menangis keras.


Dia berjongkok menangis sekerasnya, bagaimana bisa ada manusia sekejam ini pada anak-anak yang tidak bersalah.


Beberapa menit kemudian meski dia masih terisak-isak berkata, "Eris, bila kamu membakar rumah ini bagaimana dengan kakek sendiri?" Tanyanya.


"Dia akan ikut terbakar juga," bisik Eris.


Anak itu menyeka air matanya. "Nenek?"


"Sebenarnya mereka bukan sepasang suami istri. Dia juga korban, dia adalah saksi pembunuhan keji sang kakek. Dia diculik dan dijadikan pasangannya yang akhirnya menikah dan memiliki anak. Namun nasibnya juga tidak beruntung. Sang kakek menderita sakit gila sejak muda dan melakukan ritual memperpanjang usia bersama dengan nenek. Itulah awal dari bencana rumah ini," bisik Eris berlanjut.


Kilatan bila roh warna warni muncul memperlihatkan seperti apakah mereka wujudnya pada anak setan. Mereka semua menangis, satu anak yang di duga bicara dengannya.

__ADS_1


Anak itu seorang perempuan berambut seperti laki-laki. Kedua matanya sembab menatap anak setan itu. Eris muncul dan mereka menatap Eris.


"Kemari lah, anak-anak malang," kata Eris membuka tangannya.


Anak-anak itu berjalan mendekati Eris sambil menangis dan berubah menjadi sepuluh bola kehidupan. Eris tersenyum, kapan lagi dia mendapatkan banyak bola secara gratis.


"Bakar lah rumah ini saat mereka pulang nanti. Aku akan bawa nenek keluar," kata anak itu menatap ruangan penjagalan lalu menutup pintu.


"Hmmm kenapa kamu bisa sedih? Seharusnya senang bukan, kakek itu bisa menjadi budak mu di lain kesempatan," kata Eris mengirimkan bola-bola itu ke tokonya.


"Dia tidak pantas berada di dunia kami," kata anak itu dengan wajah yang kejam.


"Padahal sudah tugas setan ya menyesatkan manusia. Tapi dengan kakek itu semuanya jadi terbalik," kata Eris tertawa dingin.


"Aku ingin berubah meskipun aku tahu tugasku sejak lahir adalah membuat mereka tersesat tapi kalau bisa. Aku ingin..." kata anak itu yang harus terpotong dengan suara klakson mobil tua.


Dia dengan cepat ke bawah, menyambut mereka berdua. Dia merapihkan baju yang terdapat noda darah.


"Ada sesuatu?" Tanya nenek melihat keadaan anak yang tidak biasa.


Anak itu menggeleng tidak menjawab.


"Ada apa?" Tanya kakek tiba-tiba.


"Tidak, aku habis merapihkan potongan kayu di sudut sana," kata anak itu menunjuk.


"Hebat! Lihat kemari lah Nak, aku habis membeli gergaji baru dan pisau ini tajam bukan?" Tanya sang kakek memperlihatkan.


"Wah! Banyak sekali. Kakek mau memotong daging sapi?" Tanya anak itu bertanya pura-pura tidak tahu.


Sang nenek sudah tahu terlebih dahulu, kakek akan melakukan ritual lagi mengorbankan anak yang mereka temukan.


"Kumohon, hentikan. Ini sudah cukup," kata nenek.


Kakek menepis tangan nenek lalu membawa anak tersebut masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2