
Setelah selesai Rapat Abraham langsung pulang di perjalanan,"Tuan, saya mau melaporkan hasil investigasi saya mengenai kebakaran tadi, Dari ber-berapa saksi yg saya di sekitar pada saat kejadian katanya ada ber-berapa peria bertato masuk kedalam rumah, setelah 15 menit di dalam mereka keluar dan saat itu masih belum terjadi apa apa hinga terdengar suara ledakan yg diakibatkan oleh gas yg bocor lalu terjadilah kebakaran. Warga di sana sudah berupaya menyelamtkan penghuni rumah namun gagal karna api semakin membesar."
"Dari hasil otopsi di salah satu korban yg wanita terdapat luka memar pada lengan kanan dan kiri korban dan terdapat kandungan obat tidur yg cukup besar. Sedankan hasil otopsi dari anak laki laki yg di temukan sebuah pukulan yg cukup kuat pada leher korban hinga membuat tulang leher anak tadi patah dan keduanya di temukan hangus terbakar. Lalu di ketahui kedua korban adalah cucu dan anak kandung dari wanita yg pernah ku tanyakan tentang iformasi mengenai CEO Bakti Grup."
"Cari tau tentang tato pada ber-berapa peria yg masuk ke dalam rumah tersebut. Aku curiga mereka adalah Geng Mafia yg katanya melarikan diri dari Rusia ."
"Baik tuan." Mobil mereka pun sampai di mansion dan terlihat para pekerja yg sedang bekerja di depan rumah Abraham "Ada apa ini???" Abraham turun dari mobilnya dan terlihat Windi yg tengah berdiri di teras rumah. Abraham langsung menghampirinya "Ada apa dengan semua ini??".
"Entah kenapa melihat tanah yg luas dan kosong di depan rumah aku kepikiran mau membuat taman dan di depan rumah aku buat air pancur."Abraham menatap bingung pada Windi "Untuk apa air pancur."Justru Windi juga kembali menatap bingung suaminya itu"Tentu saja untuk anak kita, anak anak suka air pancur, apa kah kamu waktu kecil tidak suka air pancur???"
"Tidak juga, terserah kamu saja yg penting kamu suka." Windi yg bahagia langsung memeluk suaminya itu" Makasih yah sayang. Oh iya.." Windi langsung melepas pelukanya "Apa kamu sudah membeli apa yg ku minta??." Abraham bingung "Emang kamu meminta apa??".
"Apa kamu tidak melihat pesan ku, aku meminta mu 'jika nanti pulang ke rumah untuk membelikan ku nasik padang ." Abraham terkejut "Oh maaf aku tidak melihat pesan mu, aku sehabis rapat langsung pulang..." Araham terlihat takut ,karna ia kawatir istrinya akan marah."Oh kalok gitu minta Roy untuk pergi membeli." Abraham terlihat tenag "Roy, apa kamu dengar apa yg di minta istri ku??" Roy dari belakang menggangguk "Ia tuan. Kalok gitu saya permisi dulu." Roy pun langsung pergi.
__ADS_1
Abraham dan Windi pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah dan seperti biasa mereka selalu menghabiskan Waktu di kamar, pada saat Abraham masih sibuk mengganti bajunya tiba tiba ia mendengar teriakan dari luar dan langsung berlari ke luar ruang ganti baju.
"Ada apa sayang..."Windi yg tengah berdiri di pojokan ruamah langsung menoleh ke belakang sambil menunjuka Ekspresi sedihnya Windi langsung berjalan cepat dan langsung memeluk suaminya itu "Ada apa sayang, nanti kalok cemburut terus entar cantiknya hilang lo". Windi melepas peluksnya lalu menatap suaminya "Apa kau terlibat gemuk??" Abraham menatap Windi dari atas sampai bawah "Tidak , kamu seperti ibu hamil pada umumnya."
"Bukan itu, apa pipi ku terlihat cabi??" Abraham menatap Wajah istrinya lalu menarik kedua pipi istrinya pelan "Pipi mu tidah cabi kok" Windi tetap mengeluarkan Ekspresi sedihnya "Pada saat aku timbang berad badan ku 50."
"Terus emang apa masalahnya??" Windi merasa kesal karna suaminya tidak peka sama sekali "Masalahnya aku bertambah gemuk, dulu berat badan ku 45 sekarang sudah naik 5 kilo"Abraham bingung "Emang apa masalahnya kamu naik 5 kilo, bukanya bagus."
Namun Abraham yg sadar ia terlalu berlibihan langsung menghampiri istrinya yg tengah duduk di pinggir ranjang dan memeluknya namun Windi yg masih kesal memalingkan Wajahnya dari sang suami." Maaf kan aku, tadi aku cuman bercanda kok."
"Bercanda apa kayak gitu, bilang aja itu yg selama ini yg kamu pikirkan mengenai ku."Abraham mengecup leher sang istri, sontam wajh Windi merah "Kamu apa ann sih.." Abraham tersenyum "Sayang kita sudah lama..." Windi segera membalikan badanya lalu menutup mulut sang suami dengan tanganya "Sut... aku lagi hamil...."
Abraham tersenyum lalu mencium tangan sang istri wajah Windi semakin merah tiba tiba terdengar suara ketukan dari luar. "Sepertinya ada orang di luar sana..." dengan tergesah gesah "Pelan pelan jalanya.."
__ADS_1
"Iya..." pada saat Windi membuka pintu terlihat Roy yg memegang sebuh keresek , Windi segera mengambilnya "Terima kasih Roy, berapa totalnya biar uang mu ku ganti."
"Tidak usah nona,tuan sudah mengantinya."
'Guma Roy'
Bahkan ia menggantinya tiga kali lipat dari harganya.
"Kalok gitu makasih yah, maaf repotin kamu. Lain kalu nanti saya suruh Jesi atau Kristin aja..." Roy tersenyum "Nona tidak merepotkan saya kok, justru saya yg untung..ups maaf salah, maksudnya saya senag membantu nona. Kalom gitu saya permisi dulu nona" Windi membalas dengan senyuman lalu Roy pun segera pergi.
Windi masuk lalu segera duduk "Sayang ayo kita makan sama sama." Abraham pun segera menghampiri sang istru lalu duduk di sampingnya mereka pun menikmatai makana tadi dan seperti lupa yg barusan terjadi.
Bersambung....
__ADS_1