
Malam pun tiba Kini Kristin tengah membantu Jesi untuk make up ia memasakan softlens warha Coklat pada mata Jesi, lalu ia mengunkan Foundaton pada wajahnya dan di lapaisi oleh bedak, lalu ia mengunkan eyeshadow pada kelopak matanya, lalu ia kembali menjepit bulumatanya mengunakan penjepit bulumata dan di pakaikan maskara, tidak lupa ia sedikit menebalakan alisnya , lalu ia pakaikan lipstick , dan yg terakhir ia semprotkan setting spray pada wajah Jesi agar make upnya tidak mudah luntur, Kristin menggambil catokan dan mencatok rambutnya hinga Bergelombang lalu membantunya memakai Dress hitam yg di berikan Roy, Jesi begitu terkejut karna pakain itu sangat pas pada tubuhnya.
"Bagai mana bisa baju ini pas pada ku, sedangkan aku belum pernah memberi tau ukuran baju ku pada Kak Roy." Kristin tersenyum "Mingkin ia bertanya pada nona Windi." Jesi menjawab "Aku harap begitu" Tiba tiba terdengar suara ketukan dari luar dan memangilnya, Jesi begitu panaik ia segera mengumpulakan barang-barangnya yg akan dia bawa ke dalam tas seperti hp, Dompet, Tisu basah yg berukuran kecil, tisu kering berukuran kecil , lipstick dan Bedak. Ia pamit pada Kristin lalu segera keluar dan memakai Sepatunya setelah itu ia membuka pintu terlihat Roy yg mengunakan Jas biru gelap menungunya di luar, Roy sediri juga terkejut pada saat Jesi membuka pintu dan situasi mulai canggung, Roy membuka pembicaraan lalu menyapa Jesi "Hay..." Jesi membalas "Hay.." Kristin pun keluar dari kamar dan menghampiri mereka "Eh, kok malah berdiri begini, sana pergi ganggu aja ketenangan Orang jomblo." Kristin mendorng Jesi pelan keluar dari kamar "Hati-hati nanti di jalan, jangan pulang telat nanti aku akan mengunci pintu kamar." Kristin pun menutup pintu.
__ADS_1
Roy berusaha memberanikan dirinya lalu menggenggam tangan Jesi lalu mereka bersama sama berjalan menuju lift menuju parkiran hotel Situasi di dalam luft sunyi karna mereka masih malu untuk berbicara , lift berhenti dan pintu terbuka lalu mereka berdua pun turun dan berjalan bersama ke mobil Roy, tidak lupa Roy membukakan pintu untuk pujaan hatinya itu setelah itu ia masuk dan pada saat mereka sibuk memakai sabuk penagam Roy baru sadar ternyata Jesi memakai sepatu "Asataga aku lupa.."sontak Jesi menoleh padanya "Lupa apa kakak Roy??" Roy pun melepas sabuk pengamnya lagi lalu mengambil sebuah paper bag yg berada di kursi tengah dan memberikanya pada Jesi "Pakai lah..." Jesi membuka Paper bag tadi ternyata isinya adalah sebuah high heels berwarna hitam tingginya 5 Cm.
Jesi menatap Roy "Untuk apa??" Ray mejawab "Untuk kamu pakay." Jesi ingin sekali mengatakan pada Roy kalu dia tak pernah memakai high heels namun ia tak mau mengecewakanya jadi ia menggunakanya dan Roy yg melihat hal itu sangat bahagia lalu ia kembali memasang sabuk pengamanya dan menjalankan mobilnya pergi di perjalan Roy kembali membuka pembicaraan "Jesi, sepertinya selama dua minggu ini aku belum bisa bertemu kedua orangtua mu." Jesi terkejut lalu membalas "Kenapa kak Roy tidak bisa menemui merka??" Roy menjawab "Karna selama dua minggu ini aku masih sibuk di kantor, karna tuan dan nona kan pergi liburan jadi pekerjaan kantor aku yg ambil alih sementara tuan pergi." Jesi menghela napas pelan "Gak papa, nanti Jesi kasih tau bapak." Roy tersenyum "Tadi ada mama ku telfon dia ingin bertemu dengan mu." Jesi terkejut lalu menoleh pada Roy "Apa mama mu sudah tau??" Roy menjawab "Iya,mama ku sudah tau dan dia mau cepat-cepat bertemu dengan mu. Bahkan dia sudah memesan tiket untuk ke sini." Jesi menjawab "Apakah kita harus menjemputnya nanti??" Roy tersenyum "Bukan kita tapi kamu,aku memperkirakan mama sampai besok jam 3 sore sedangkan jatwal miting dengan kariawan jam 3 sore, jadi aku tak bisa menjemputnya, nanti aku titipkan saja kunci rumah dan ATM ku untuk kalian gunakan."
__ADS_1
Di rumah Abraham dan Windi masih bersantai karna memang jatwal keberangkatan mereka jam 12 malam dan itu masih jam 9 malam, mereka berdua tengah asik dengan kesibukan masing-masing, abraham sibuk bekerja sedangkan Windi menonton Anime di Tv, istrinya terus tertawa dan membuat Abraham tidak konsen dalam bekerja lalu dengan terpakasa ia mematikan leptopnya dan menghampiri istirnya yg asik menontong dengan kucinya yg ia beri nama 'mimi' itu dan ia duduk di sampinya, "Kamu sedang menonton apa??" Windi dengan santai menjawab "Aku sedang menonton suami ku." Abraham menatapnya kesal "Apa bagusnya punya suami gepeng gitu." Windi menjawab dengan kesal tanpa menoleh pada suaminya "Cih,urusai" soantak Abraham menoleh pada istrinya "Sayang, kamu kira aku bodoh , sekarang semua yg kamu ucapakan aku tau artinya." Windi malah mengejeknya, dan abaham pun langsung mengangkat istrinya sontak Windi terkejut "Apa yg kamu lakukan.." Abraham pun menarunya ke pangkuanya, dan mimi yg tidur di pangkuan Windi sontak terbangun langsung melompat pergi.
"Tukan, gara-gara kamu mimi jadi kebangun." Abraham mencium pipi istrinya "Buiarin , siapa surauh kamu berani membuat ku kesal dan mengabikan ku." Windi dengna kesalnya berbicara "Siapa suruh tadi siang cari masalah sama aku." Abarham menatap istrinya "Jadi kamu masih ngambek ini??" Windi tak mau menjawabnya sama sekli, Abraham pun mengelus pelan perut istrinya "Nak, lihat mama mu ini dia masih ngambek, padahal papa mu waktu itu cuman bercanda kan." Windi memegang perutnya lalu berbicara "Jangan percaya papa mu nak, dia itu orangnya suka buat mama kesal. Sudah tau mood mama lagi bagus-bagusnya mlah di ejek jelek, marah lah mama karna nya." Abraham kembali mencium pipi Windi "Sudah-sudah, gak usah ngambek terus, kasian anak kita nanti bingung mau pilih papanya atau mamanya nanti." Windi dengan santai menjawab "Biarin." Abraham tersenyum dan terus mencum pipi istrinya "Ih sayang udah..." abraham masih tak peduli dan malah beralih ke leher Windi, sontak windi menutup mulutnya "Udah na sayang. Geli, aku menyerah kamu yg menang." Abraham tersenyum "Yaudah jangan ngambek lagi yah." istrinya mengangguk lalu Abraham memeluk istrinya dari belakang sambil menikmati Anime yg istrinya tonton.
__ADS_1
Bersambung.....