
Sesampai di depan rumah keluarga pradipta Abraham belum masuk karna ia masih menunggu Roy karna tak mungkin ia masuk tanpa membawa apa pun dan tak lama terlihat dari sepion mobil abraham jika mobil yg di pakai Roy tadi berhenti di belakang mereka dan Zefano yg melihat hal itu langsung melapor "Roy sudah sampai tuan." Ia turun lalu membuka pintu mobil untuk tuannya lalu abraham keluar ia menoleh pada Roy yg datang membawa sebuah paper bag biru "Sudah tuan.." Abraham menatap Roy "Kamu terlalu lama." Abraham segera pergi di ikuti Zefano sedangkan Roy yg mendengar perkatan Abraham tadi menjadi sedikit kecewa, tanpa ia sadari dari belakang mario langsung menepuk pundaknya "Hey, jangan cengeng, tuan itu memang seperti itu jadi santai saja." Lalu mario berjalan pergi sedangkan Roy kembali bersemangat, padahal ia selalu di marahin seperti ini tapi entah kenapa berapa hari ini ia sangat sensitif padahal dia orangnya tak pernah seperti ini, Gumanya dalam hati 'Aku kenapa , aku kok jadi sensitif begini padahal sudah lama aku bekerja pada tuan Abraham dan tak pernah sekali pun aku berani melawannya.' Ia menepis pikiran itu dan kembali fokus ke pekerjanya dan berlari menyusul mertuanya yg lebih dulu berjalan.
__ADS_1
Di dalam ruamah suasana mulai hening hinga terdengar tawa seorang peria yg sudah lanjut usia "Hahah, astaga anak muda lama tidak berjumpa. Apa kabar mu?" Abraham tersenyum "Saya baik, bagia mana anda." Peria itu tersenyum pada Abraham "Seperti yg kau lihat, aku masih sehat dan bahkan aku mersa seperti terlahir kembali, bukan begitu mario."Roy yg mendengar hal itu berguma dalam hati 'Makin tua bukanya gengsinya di turun tapi makin tinggi aja itu gengsinya.' Dan Mario menjawabnya "Ya begitulah, tapi kalok aku masih bisa berlari dan melompat bagia mana dengan mu mungkin jika kamu berlari dan melompat mungkin saja kamu akan di rawat di rumah sakit selama seminggu karna sakit pingang." Mario meminum kopinya yg sudah di hidangngkan sedangkan peria itu sama sekali tak tersenggung ia malah tertawa "Hahah, dari dulu samapai sekarang lawakan mu masih segaring itu, tapi aku tetap suka mendengarnya. Bukan begitu nak Abraham ." Abraham hanya mengangguk tanpa reaksi sama sekali sedangkan Roy yg melihat hal itu berguma lagi 'Kenapa aku di kerumuni orang orang yg aneh ini.Rasanya pengen cepat cepat pulang saja aku.' Tak lama terdengar peria tua itu mulai berbicara namun kali ini ia serius "Oh iya maksud kedatangan nak Abraham kesini apa??, tidak mungkin kamu datang hanya untuk menjenguk aku yg sudah tua ini bukan." Abraham menghela napas pelan dan mengangguk "Aku ingin meminta bantuan mu lagi pak burhan pradipta."
__ADS_1
Peria tua itu tersenyum "Cepat katakan apa mau mu." Abraham menjawabnya "Carilah informasi mengenai anak buahnya Kevin." Peria tua itu mengangkat satu alisnya "Bukanya kamu punnya anak buah sendiri??" Mario menjawabnya "Kami di kecoh, apa kamu ingin setelah kami berhasil membuatnya menajauh dari perusahan berapa tahun lalu. Tanpa kami sadari data anak buah kami semuanya berhasil mereka ambil dan Ada dua mata mata kami yg di masukan untuk mengawasinya langsung di tangkap dan mereka terluka senginga harus masuk UGD dan di rawat di rumah sakit selama satu bulan karna lukanya separah itu." Peria tua itu tertawa "Hahaha, cerita kalian ini sangat lucu dan sangat menghibur ku, jadi maksud kedatangan kalin ke sini untuk meminta ku mencari info mengenai anak buahnya.." berlum selesai ia berbicara Abraham menyelanya "Pak tua katakan saja berapa nominal yg kamu mau maka aku akan mengirimnya ke no rekening mu." Peria tua itu lantas tersenyum "Tenang saja kali inj aku tak mau uang mu." Abraham terdiam mendengarnya dan peria tua itu kembali berbicra "Aku sudah cukup tua, dan kedua anak laki laki ku tak ada yg mau menerus usahaku kata mereka itu usaha yg tidak benar padahal mereka makan dan bersekolah memakai uang hasil dari pekerjaan ku. Anak pertama ku kini merantau ke paris dan membuka usaha di sana sebagai desainer yg bahkan kini dia bisa di bilang sangat sukses di sama dan ia sama sekali tak ada niat untuk meneruskan bisnisku, sedangkan si bungsu ia lebih suka berekting dari pada mengurus bisnis ku padahal tiap bulan aku selalu mengirim uang padanya dari hasil bisnis ku."
__ADS_1
Tak lama terdengr suara tangis dari belakangnya ia melirik sedikit rupannya Roy menangis sedangkan Zefano menutup. Matanya mungkin berusaha menahan tangisnya sedangkan anak buah Burhan yang ada di ruang itu juga menangis, abraham menghela napas "Kenapa harus aku, bukanya masih ada tempat yg lebih baik." Burhan tersenyum "memang banyak tempat yg lebih baik tapi belum tentu mereka akan di perilaku kan dengan baik di sana, sedangkan dengan mu aku sangat percaya pada mu bisa membimbang mereka suatu saat nanti."abraham menghela napas pelan "Terserah kamu saja, yg jelas permintan ku harus di penuhi dulu." burhan tersenyum "Tentu saja, aku takan mengingkari janji ku. Oh iya apa anak-anak mu sehat??" Abraham mengangguk "Mereka bahgkan sangat gemuk." Peria paruh baya itu tersenyum "lalu nama mereka." Abraham menajwabnya "Farel Putra dan Rafayel Putra."ia menjawabnya "Nama yg bagus, bagia mana istri mu aku dengar ia sangat cantik maklum aku tak bisa menggunakan sosial media jadi tak tau seperi apa wajahnya." Abraham masih tenang menjawabnya "Ia cantik, dan bahkan jika di sandingkan dengan simpanan mu yg masih usia 20 tahun itu istri ku lebih cantik."pak tua itu pun tertawa dan suasana yg tadinya sedih kini sudah kembali tenang dan bahkan mereka sama tertawa mendengar perkatan Abraham tadi karna orang yg abarham maksud simpanan itu bukan wanita buhan melainkan anak dari adik burhan namun karna mereka dekat jadi Abraham salah sangka.
__ADS_1
Bersambung.....
__ADS_1