Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 169.Bertemu


__ADS_3

Setelah sarapan mereka pagi kerena segera ke temapat yg di beritau, ketika mereka masuk terlihat ada dua karangan baunga namun Abraham tak memperhatikan dari siapa salah satu karangan bunga tersebut lalu tak lama seorang peria yg melihat Abraham langsung menuntun untuk masuk ke sebuah ruangan dan pada saat mereka masuk ke ruangan tersebut sudah ada berberapa orang di sana sepertinya teman bisnis peria paruh baya itu dan windi serta suaminya pun menghampiri peria paruh baya yg ada berdiri di samping peti jenazah Lisa, ketika ia melihat Abraham ia langsung menatap peria itu dan Abraham yg berada di depanya mulai memperkenalkan diri "Tuan, Saya sangat beduka cita atas kejadian ini."


Peria itu mengangguk lalu ia menoleh pada Windi ia menghampirinya "Saya harap anda bisa memaafkanya." Windi mengangguk dan tiba-tiba windi meneteskan air matanya"Tenang saja saya sudah memaafkanya." Windi menatap Lisa untuk terkhir kalinya "Sekarang kamu tak perlu lagi hawatir, beristirahatlah dengan tanang bersama bayi mu dan bahagialah." Windi yg sudah tak kuasa menahan tangisnya segera memeluk suaminya dan di dada suaminya ia menangis Abraham membawa mereka ke pinggir ia memeluk istrinya dan gadis itu terus menangis.

__ADS_1


Walau mereka hanya bertemu singkat namun windi tak bisa menahan tangisnya apa lagi menggingat dia mengalami kecelakan berapa jam setelah dari ruamahnya dan yg paling membuat ia sakit adalah ketika ia tau Lisa sedang mengandung dan bayinya tiada pada saat kejadian itu, Windi tak bisa membayangkan bertapa sakitnya itu, dia saja ketika dia mengalami keram atau pendarahan ia pasti akan sangat panik. Tanpa mereka sadari dari sudut dua orang menatap mereka berdua dari kejauhan, seorang peria berbicara pelan pada istrinya "Tak ku sangka aku akan bertemunya di tempat ini.." dan istrinya tak memperdulikan kata-kata suaminya ia hanya berguma dalam hati 'Tak ku sangka mereka sudah sedekat ini..' Wanita itu terdiam melihat ke arah mereka.


Dan waktu berganti dan Lisa pun mulai di kremasai telihat peria paruh baya itu begitu sedih ketika melihat peti itu di bawa untuk mulai di kreamasi, dan hari itu windi dan Abraham baru bisa pulang sore harinya, di perjalanan ke parkiran mereka di jaga oleh dua bodyguard dan Abraham terlihat merangkul istrinya sedangkan windi terlihat lelah dan pada saat mereka sampai di mobil dari arah belakang dua orang yg tak asing bagi Abraham melewati mereka dan Abraham yg sekilas melihat hal itu terdiam karna ia sedikit tekejut namun salah satu dari mereka berhenti sontak yg satunya menoleh "Ada apa Sayang??" Wanita itu berbalik lalu menghampiri Abraham "Hay...." Windi terkejut karna setaunya wanita yg di depanya ini adalah wanita yg pernah menarik rambutnya dan wanita yg pernah suaminya sebut sebagai mantan kekasihnya sontak windi menoleh pada suaminya namun peria itu terlihat terdiam seperti tak memperdulikanya dan bahkan kata katanya tak di jawab sama sekali dan Tiara terlihat sedikit kecewa.

__ADS_1


Windi yg bisa melihat kekecewanya segera menyapanya "permisi, apa anda wanita yg namanya Tiara??" Sontak Tiara menoleh pada Windi dan windi langsung mengulurkan tanganya "Perkenalkan ku aku windi istri dari Abraham." Dan Tiara menerima uluran tangan dari Windi "Tiara.." saliman tangan itu pun berakhir dan windi pun mulai basa basi terlebih dulu "Ini kali kedua kita bertemu bukan, yg pertama kita belum mengenal satau sama lain makanya tak berjalan dengan mulus." Tiara yg mendengar hal itu mengingat pada saat ia menarik rambut gadis itu dan windi kembali melanjutkan kata-katanya "Dan suamiku menceritakan banyak tentang mu pada ku, jadia aku sedikit mengenal mu." Windi sangat bersikap hangat padanya namun berbeda dengan Abraham yg seperti tak senang dengan kehadiranya dan Jordan pun menghampiri istrinya "Sayang ayo kita pergi, nanti Jors mencari kita."


Abraham terlihat sangat kasar menariknya, dan setelah mereka duduk di dalam mobil Abraham segera menutup pintu "Jalan.." dan seorang supi yg sudah dari tadi berada di dalam mobil langsung menjalankan mobilnya  namun Abraham masih belum melepas genggaman tanganya yg masih terus menggegam erat lengan istrinya "Sayang lepas, sakit tauk..." peria itu yg baru sadar segera melepas genggaman tanganya "Maaf kan aku..." ia terlihat seperti orang yg berusaha menahan Amarahnya dan windi yg melihat lenganya yg memerah karna suaminya kasar padanya "Tu kan jadi merah gini." Sontak Abraham menoleh pada istrinya lalu ia melihat lengan istrinya merah karna perbuatanya tadi "Maaf sayang aku tak sadar tadi.." Windi menjawabnya "Gak papa, mungkin nanti sembuh sendiri." Abraham menggeleng "Gak, sepertinya kita harus ke rumah sakit untuk memeriksanya.." Windi menggeleng "Gak usah sayang, tenang saja ini gak papa. Mending kita ke supermarket di dekat rumah saja untuk membeli setok popok buat anak-anak." Abraham menatap istrinya "Apa benar ini tak papa??" Windi menjawabnya "Iya, tak papa kok sayang, nanti juga kalok aku makan cemilan entar merahnya hilang juga kok." Abraham menatap istrinya "Katanya mau kurus tapi hobinya ngemil apa kamu mau ku ketek kening cantikmu itu." Windi tersenyum dan suasana tegang itu kini di penuhi dengan canda tawa.

__ADS_1


Abraham begitu bersyukur karna memiliki istri yg bisa mengerti dia, sekesal-kesalnya dia windi selalu bisa  membuatnya tersenyum mereka terliht seperti dua insan yg saling melengkapai selama perjalanan Windi terus membuat Abraham kesal dalam artian kesal karna tingkah lau aneh istrinya dan bukan tentang masalah tadi ia seperti lupa hingga mereka sampai ke suprmarket tempat tujuan mereka lalu mereka membeli berbeara popok, susu untuk ibu menyusui , serta berbagai cemilan, kue, buah, dan berberapa perlengkapan Bayi lainya. Dan setelah dari sana mereka kembali pulang dan sesampinya di depan rumah windi cepat-cepat turun lalu masuk ke rumahnya dan rupanya mereka sudah di tunggu oleh dua buahatinya yg terlihat sedang di gendong oleh para baby sitter mereka "Astaga pangeran mama, mama sangat merindukan kalain." Windi segera mengakat Farel lalu menciumnya setelah itu ia mendekati Rafayel dan kembali mencium bayi itu yg sedang di gendong oleh Baby sitternya dan abraham yg melihat hal itu begitu bahagia lalu menghampiri mereka seakan tak ada masalah yg terjadi hari itu.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2