
Dua minggu pun berlalu dan dengan berapa bukti yang ada akhinya selena di jatuhi hukuman deportasi dan ia akan menjalani hukumanya di jerman sesuai dengan perbuatan pidana yg telah ia lakukan dan ia terlihat sangat hancur karna putusan hakim, sedangkan Abraham ia sangat puas dengan keputusan pengadilan setidaknya akan ada unsur jera untuk selena, dan sehabis dari pengadilan mereka segera ke bandara dan kali ini mereka menggunkan pesawat peribadi Abraham namun selama penerbangan Windi dan abraham besrta anak anaknya kompak mereka tidur selama perjalanan hingga sampai ke tanah air baru Mereka di bangunkan oleh Roy "Permisi tuan nona kita sudah sampai." Abraham perlahan membuka matanya "Apa kita sudah sampai." abraham menolah pada istrinya lalu menggoyangkan tubuhnya "Sayang bangun kita sudah sampai perlahan rahel membuka matanya, dan mereka berdua bangkit lalu bersiap siap dan setelah itu mereka turun, windi terlihat senang "Akhinya kita pulang." Lalu mereka berjalan beriringan keluar dari bandara dan selama perjalanan lagi entah kenapa apa yg membuat Abraham dan Windi kembali tidur padahal mereka sebentar lagi akan sampai ke rumah dan pak Rahmat yg melihat hal itu dari kaca sepion dalam mobil berbicara pada simon yg kebetulan ada di sampingnya "Bapak dan ibuk lagi tidur??" Simon menoleh ke belakang ia terkejut ketika tau tuan dan nonanya sedang tidur "Sepertinya tuan dan nona sedang lelah." Lalu ia kembali menoleh ke depan.
__ADS_1
Setengah jam di perjalanan akhinya mereka sampai di rumah dan mereka langsung memarkirkan mobil ke parkiran pada saat simon menoleh ke belakang "Tuan kita sampai.." Abraham perlahan membuka matanya berbeda dengan Windi yg sangat lelah dan masih tidur "Apa kita sudah sampai simon??" Simon mengangguk "abraham menoleh sampingnya dan istrinya masih tidur dan tak lupa ia juga menoleh ke bangku belakang untungnya anak-anaknya juga masih tidur lalu abraham turun dari mobil, di ikuti simon pada saat peria itu membuka pintu samping noannya dan berencana untuk mengangkatnya tiba tiba Abraham menahanya "Tak perlu, biar aku saja.." simon mengundurkan dirinya lalu Abraham yg maju dan langsung menggangkat istrinya itu "Kamu bawa saja anak ku." Simon mengangguk walu sebenarnya ia sedikit bingung namun sebenarnya karna windi sangat berat dan tak memungkinkan Simon untuk menganggkatnya, bahkan tubuh abraham yg besar saja tetap bisa merasakan tubuh istrinya itu berat apa lagi Simon, dan alasan lain mengapa abraham yg mengangkannya agar tidur istrinya tidak terganggu juga. Abraham masuk ke dalam lift dan ia sedikit kesusahan untuk menekan tombol untungnya pak rahmat juga masuk dan membawa koper mereka jadi ia yg menekan dan lift kembali tertutup abraham akhinya Abraham bisa sedikit tenang.
__ADS_1
Sesampai di kamar pak rahmat lagi yg membatu membukan pintu setelah itu abraham masuk dan membaringkan istrinya ke kasur dan ia langsung duduk di pinggir kasur dan menyandarkan tubuhnya tak lama pak Rahmat masuk membawa koper tuanya "Tuan taruh di mana ini??" Abraham menjawabnya "Ke dalam ruang ganti baju aja pak." Peria tua itu mengangguk lalu membawa koper tadi ke ruang pakain milik abraham dan windi , peria itu membuka hpnya rupannya ada sebuah pesan masuk di hpnya pada saat di baca dari nama pangilanya ia sudah tau "Rupanya anak buahnya pak Burha." Abraham membuka pesan itu "Perkenalkan saya adalah tangan kanannya Tuan burhan jadi saya di minta untuk meminta anda datang ke rumah nanti malam karna tuan akan membicarakan mengenai hasil dari infirmasi yg sudah kami kumpulkan, dan tuan saya juga menitip pesan jika anda hannya boleh datang bersama tuan mario." Abraham yg membaca pesan itu sedikit terkejut "Sepertinya Ada hal penting yg ingin ia katakan pada ku." Abraham menjawabnya "Baiklah." Setelah itu ia mematikan hpnya dan menaruhnya di meja samping tempat tidur dan bersama aan dengan itu pintu kamar di ketuk "Masuk Simon." Simon membuka pintu lalu mendorong stroller yg di mana Farel dan Rafayel berada "Maaf tuan sebelumnya, sebenarnya anak anak tuan sudah terbangun." Abraham hannya mengangguk dan sama sekali tidak marah "Pulanglah, mereka akan ku urus." Simon mengangguk lalu segera undur diri.
__ADS_1
Tak terasa malam pun tiba sebelum berangkat abraham terlebih dahulu makan bersama istrinya "Sayang bagai mana jika nanti besok kamu pergilah perawatan ke salon atau ke spa." Windi menatap suaminya "Untuk apa, lagi pula aku bisa melakukan perawatan di rumah." Abraham menggeleng "Kamu tak perlu berhemat, lagi pula hal begitu wajar di lakukan, jika ku perhatikan kamu terlihat kurang fit jadi aku menyarankan kamu untuk pergi dan anak anak akan di jaga keristin dan bik ijah." Windi berpikir sejenak dan berguma dalam hati 'Aku kalok ke salon boleh sih tapi kalok ke spa aku tak pernah pergi ke sana tapi tak salah untuk mencoba lagi pula gak guna punya suami orang kaya kalok uanganya gak di hamburin.' Windi diam diam tertawa karna kata katanya tadi sedangkan abraham malah menatap binggung istrinya "Sayanga ada apa??" Windi hanya menjawabnya dengan gelengan setelah itu ia menyudahi tawanya lalu ia tersenyum menatap suaminya "Tak apa kok aku hanya tertawa dengan pemikiran ku sendiri." Abraham mengerutkan keningnya "Emang apa yg kamu pikirkan??" Windi tersenyum sambil mengejek suaminya "Rahasia dong.." abraham semakin penasaran "Sayang katakan pada ku apa yg kamu pikirkan tadi." Windi menggeleng "Itu Rahasia yg hanya boleh tau itu adalah aku dan tuhan jadi gak usah ikut campur oke."windi tersenyum mengejek pada suaminya pada saat abraham akan menjawabnya istrinya itu ia kembali menjawab "Udah cepat makannya katannya ada janji sama orang jadi cepat makannya." Abraham mendengus kesal karna istrinya sama sekali tak mau memberitaunya sedangkan wanita itu terlihat berusaha menahan tawanya .
__ADS_1
Bersambung.....
__ADS_1