Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 230.Bukan 'aku' tapi 'kita'


__ADS_3

Malamnya Abraham datang bersama simon kembali ke rumah sakit sedangkan di luar Roy masih menjaga, abraham berhenti di hadapanya lalu pria itu lantas berdiri "Malam tuan." Abraham menjawabnya "Pulang lah kembali ke hotel simon akan mengganti mu berjaga, bawa istri mu dan Kristin juga ayah mertua mu berpesan jangan pulang larut malam ." Roy mengangguk "Baik tuan saya akan memanggil mereka di dalam soalnya mereka tadi membantu nona menidurkan tuan muda kecil." Aberaham pun masuk ke dalam, di dalam di samping meja ada satu buah koper sedangkan di sofa ada Keristin dan Jesi dan di tempat tidur pasien windi juga sudah tidur namun kali ini ia berjauhan dari anaknya karna mereka tidur di salah satu kasur yg memang di sedikan di sana, ketika Keristin melihat abraham sontak ia berdiri di ikuti jesi "Malam tuan."abraham menjawab keristin "Kembalilah ke hotel aku yang akan mengurus mereka malam ini, lebih baik kalian istirahat dan datang lagi nanti esok." Keristin dan jesi pun langsung berpamitan dan kembali pulang begitu juga Roy,sedangkan Abraham ia langsung pergi mandi ia membersihkan tubuhnya karna saat ini ia sangat lelah bukan hanya karna masalah ini tapi karna memikirkan bagai mana melindungi kedua anaknya, mendadak pikiranya kosong ketika baru menyadari jika target keduanya adalah kedua anaknya serasa hidupnya hancur, apa lagi mengingat mereka baru kehilangan seorang anak yg di bunuh tanpa sepengetahuanya, ia merasa gagal sebagi seorang ayah.

__ADS_1


Setelah mandi ia mengenakan handuknya lalu keluar dan rupanya istrinya terbangun karna mendengar air yg keluar dari shower kamar "Sayang apa kamu sudah makan??" Abraham tersenyum padanya dan berjalan ke arah koper "Nanti saja.." windi menatap sinis dia "Siapa yg ada di luar, suruh saja membeli berapa makanan dan nanti aku akan menemani kamu makan."Windi perlahan bangkit dari baringnya lalu pelan pelan turun ke bawah dan berjalan dengan botol infus yg ia pegang dan ia melihat anaknya yg sedang tidur ia membelai rambut mereka pelan "Mereka begitu manis ketika tidur begini dan bahkan Mereka sangat persis seperti ayahnya." Abraham yg baru selesai mengganti pakainya lalu memeluknya dari belakang "Istirahat lah." Windi menatap suaminya dari samping "Aku lapar sayang, apa kamu mau menyiksa istri mu ini untuk tidak makan" abraham terkejut "Ku kira kamu cuman bercanda mau menemani ku makan, apa kamu benar benar belum makan??" Windi mengangguk "Aku belum makan dari tadi sore,aku mau makanya dengan mu." Abraham melepas pelukanya lalu membalikan tubuh istrinya ia perlahan membelai pipinya "Sepertinya aku harus bergadang malam ini menjaga mereka." Windi tersenyum "Bukan 'aku' tapi 'kita' ingat aku juga mamanya, lagi pula aku sudah merasa sehatan." Abraham menjawabnya "Tapi.." belum sempat ia berbicara mulutnya sudah di tutup istrinya dengan tanganya "Sut, aku gak mau dengar komentar dari mu, aku lapar dan ingin segera makan." Abraham tersenyum lalu menyingkirkan tangan istrinya "Baik istriku."

__ADS_1


Abraham pun keluar dari kamar dan simon yg melihat hal itu terkejut dan segera bangkit lalu menghampiri tuanya "Ada apa tuan??"Abraham mengelurkan dompetnya lalu memberikan ATMnya pada Simon "Beli lah makanan cepat saji yg ada di dekat sini, dan aku juga mau kamu beli berapa kue dan bawah salah satu dari mereka yg ada di luar untuk membantu mu dan belilah makanan dan minuman untuk kalian." Simon terkejut mendengan perkataan tuanya karna tidak biasa tuannya begini dan abraham kembali melanjutkan perkataannya "Kamu hapal pinnya kartunya bukan??" Simon mengangguk "Baguslah, kalok gitu aku tunggu, aku harap kalian cepat pergi membelinya karna aku sudah lapar." Simon mengangguk lalu abraham kembali masuk, rupanya istrinya menunggunya di sofa lalu ia ikut duduk di sebelahnya dan ia meraih tangan istrinya lalu mengaitkan tangan mereka "Bagai mana rasa perutmu apa sudah tidak sakit lagi??" Windi mengangguk "Sudah lebih mendingan." Abraham melihat rambut istrinya yg berantakan ia mulai memperbaikinya "Apa tadi ada dokter yg datang memeriksamu, lalu apa yg ia katakan?" Windi menjawabnya "Mereka tadi hanya memeriksa tekanan darah dan katanya sudah kembali normal katanya mungkin berapa hari lagi aku sudah boleh pulang asalkan katanya jangan dulu berhubungan badan dengan suami selama dua atau tiga minggu setelah keguguran, dan setelah melewati waktu itu sebaiknya di periksa dulu." abraham mencium punggungtangan istrinya.

__ADS_1


"Mungkin di setiap negara beda beda." Windi mengangguk lalu kembali makan, dan tak lama kemudian Simon datang membawa satu kotak kue untuk mereka "Permisi tuan, nona, ini saya taruh di mana??" Windi menjawabnya "Di atas meja saja, oh iya Simon apa kamu sudah makan??" Simon mengangguk lalu mendekat dan mengembalikan kartu ATM Abraham setelah itu ia kembali. Setelah makan kini windi kembali ke kasurnya namun kali ini baring menyamping dan abraham berbairing menyamping juga di belakangnya "Sayang bagai mana jika suatu saat aku pergi lebih dahulu apa kah kamu akan mencari peria lain untuk menggantikan ku." Windi membalikkan tubuhnya dan ia berhadapan dengan suaminya "Kamu jangan ngomong sebarang, kamu harus yakin kalok kamu panjang umur. jangan berbicara hal sepert itu, ketika aku sudah merasa bahagia karna masih bisa menghirup udara, kamu malah berpikir hal yg aneh aneh, percayalah kalok kita akan bersama sampai tua." Abraham tersenyum lalu windi pun membelai pipi suaminya "Lain kali jangan mengatakan hal seperti itu lagi aku tak mau juh dari mu." Windi pun mendekat pada Abaraham dan memeluknya dan di balas oleh Abraham.

__ADS_1


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2