
Abraham sadar setelah selesai oprasi ia menoleh sekelilinya sunyi ia merindukan keberadaan isterinya namun mereka di pisahkan oleh jarak jadi ia harus bersabar terlebih dahulu setelah nasakah ini selesai 100% ia akan menjemputnya dan mereka akan tingal di rumah mereka kembali tanpa ada ganguan, di sisi lain ia belum di kabarkan simon bahwa istrinya sudah melarikan diri dari Julius dan Maraim dan keberadanya masih belum di temukan oleh polisi.
Setelah berbera jam istirahat ia bangkit dari baringnya lalu duduk di ranjangnya ia meraih hpnya yg berada di meja sampinya ia mencari nomor istrinya lalu menelfonya, ia berharap tefonya di jawab karna ia sangat merindukan istrinya namun sudah berapa kalai ia mencoba teklfonya tak pernah bisa terseambung "Apa dia masih belum bangun tidur." Ia melihat jam sudah menunjuk pukul 8 siang "Apa dia sedang tidur saat ini??" Karna waktu mereka berbeda jadi Abraham berpikir bahwa istrinya sedang tertidur dan memutuskan untuk menungu di malam hari setelah itulah dia akan menelfonya lagi.
***********
__ADS_1
Di sebuah apartemen yg sederhana di sana lah Windi tinggal sementara, ia sudah mengeluarkan kartu hpnya suapaya ia tidak dapat di telfon oleh suaminya atau di lacak dan dengan uang yg selalu Abraham kirimkan ke ATMnya itulah yg akan ia gunakan selama di Wasington dan semua tambungan sengaja di tarik semua karana ia tak mau keberadanya akan ketahuan jika terus menarik uang sedikit demi sedikit di Bank karna ia sudah menebak bahwa Simon Pasti sudah melapor pada polisi jadi ia juga merubah penampilanya ia memotong rambut panjangnya menjadi sepanjang pundak dan mewarnainya yg awalnya hitam menjadi berwarna kuning lalu ia selalu memakai kacamata ketika di luar rumah agar semakin sulit untuk di kenali.
Saat ini Windi merasa lapar, ia biasanya ketika bersama suaminya akan meminta bantuanya untuk ambilkan atau di buatkan makanan kali ini dia memasak sendiri di dapur ia memasak makanan yg simpel yaitu telur mata sapi goreng dan smoke beef , setelah masak ia menaruh makanan yg sudah matang ke piring tiba-tiba terdengar suara pintu apartemenya di ketuk , pada saat ia melihat di celah rupanya tetanganya lalu ia membuka pintu "Permisia ada yg bisa saya bantu??" Wanita berkulit hitam itu menyerakan padanya kue pie "Ini aku hanya ingin memberikan hadiah selamat datang, aku dengar dari suami ku kamu baru pindah kemarian." Windi tersenyum lalu menerima kue pie tadi "Terima kasaiah, perkenalakan nama aku Windi..." windi mengulurkan tanganya lalu di jabat oleh wanita itu "Nama ku Maria, maaf aku tak bisa memperkenalkan putriku dan suami ku karna suami ku dan putri sudah tidur di ruanh tamu, pada saat aku membuat kue tadi." Windi pun menawarkanya untuk masuk "Silahakan masuk dulu kita bicara di dalam..." namun wanita ia menolak "Kapan-kapan saja aku mampir lagi, karna aku ada harus membangukan dua orang itu dulu dan memindah kan mereka ke kamar, sebelum mereka akan semakin sulit untuk di bangunkan." Windi tersenyum dan mengguk mengerti "Baiklaha lainkali saja." Wanita itu mengguk lalu langsung kembali ke aprtemenya yg ada di depan aparteman Windi.
Gadis itu masuk ke dalam rumah lagi lalu mengunci pintu rumah ia menaruh pie tadi ke meja lalu ia ke dapur untuk mengambil piringnya dan satu buah pisau serta satu buah garpu lalu di bawa ke atas meja, ia duduk di lantai rumah sambil menikmati makananya di atas meja rumah itu begitu sunyi dan perasaan rindu dengan suaminya terasa, hatinya begitu sakit rasanya makanan yg ia makan seperti tak enak di mulutnya namun ia terus memaknya hinga airmatanya perlahan membasahi pipinya "Kenapa aku harus merindukan peri kasar itu." Windi menghapus air matanya yg tak nentinya keluar, hinga di titik di mana ia sudah tak kuat lagi ia menaruh garpunya lalu menekukan tubunya dan menangis, ia memang sudah tak tahan dengan hidupnya yg selalu berada dalam masalah dan hanya menjadi kelemahan suaminya.
__ADS_1
************
Di sebuan rumah terbengkalay yg di duga angker karna sering terdengar suara sesorang yg sedang beraktifitas di sana apa lagi rumah itu sudah kosong namun di balik rumah itu rupanya ada tempat persembunyian milik Robi dan hanya di ketahui oleh Rudi dan disana juga tempat mereka bersembunyi dari incaran polisi. Rehan tengah duduk di sebuah sofa sambil melihat berita iya yg kesal langsung menghajar Ipad tersebut hingga retak dan rusak dan airmata keluar dari sudut matanya "Kenapa nasip Robi harus sama seperti adiknya..." Rudi hanya bisa menunduk dan berusaha menahan sakit hatinya ia juga sebenarnya sangat sedih karna di adalah orang yg selama ini sangat baik padanya "Robet dulu hanya karna menyukai istri Abraham itu ia mati tertembak, dan seperti yg terjadi pada Robi saat ini ia mati karna opsesinya pada wanita pembawa sial itu ia harus kehilangan nawanya, aku akam membunuh wanita itu dan membawanya neraka...."
Rudi yg di ingatkan tentang masalah windi baru ingat dua anak buah mereka yg sempat Robi kirimkan untuk membuntuti windi melapor bawa salah satu angotanya di tangkap polisi dan Windi di bawa ke rumah sakit dan info terakhir yg ia dapat sebeluk kejadian baku tembak adalah Windi melarikan diri dari rumah sakit di Wasington dan polisu di sana sedang mencarinya, dan kali ini Rudi ingin membalaskan dendamnya pada windi karna ia berpendapat bahwa gadis itulah penyebab kematin tuanya "Tuan Rehan, saya tau keberadaan gadis itu.." Rehan menganggkat kepalnya lalu menatap Rudi "Apa dia bersma Abraham?" Rudi menggeleng "Info yg terakhir yg saya dapat dari salah salah satu anak buah kita yg di tugaskan untuk mengikutinya, semapat mengatakan bawa gadis itu melarikan diri dari para kengawalnya dan keberadanya masih belum di temukan. Ini dalah kesempaan kita untuk mencarinya dan membalaskan dendam kita, saya curiga Abraham putra belum tau karna jika peria itu tau dia pasti sudah sedari tadi kembali ke Wasington untuk mencarinya."
__ADS_1
Peria paruh baya itu terdiam lalu mengangguk mengerti "Ayo cari dia..., untuk para tahanan itu aku sudah membayar pembunuh bayaran untuk membunuh mereka, dan untuk mayat Robi aku juga meminta mereka untuk mencurinya dari polisi setelah itu akan di kuburkan di samping makan adiknya." Rudi merasa sedih tak bisa mengantarkan tuanya untuk terakhir kalinya namun ia akan membunuh windi dan dan membawa wanita itu keneraka bersama mereka.
Bersambung.....