
Tak terasa waktu berlalu kini Farel dan Rafayel sudah genap 5 bulan kini kedua anak itu sudah bisa tengkurap sedangkan kini windi tengah bersama mereka di kasur sedangkan Abraham ia ada di teras rumah dan sedang menelfon karna hari ini hari minggu jadi ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama anak dan istrina namun dari pagi buta dan sampai sekarang ia masih menelfon, windi terlihat senang ketika anaknya yg menelungkupkan tubuhnya lalu mengangkat kepalanya "aduh - aduh anak mama hebat, udah bisa ngangkat kepalanya sediri." dan dua anak itu yg melihat ibunya lantas tersenyum yg membuat windi semakin gemes pada mereka, tiba tiba terdengar suara abraham dari luar "Apa kamu bilang, kalian masih belum menemukan info mengenai orang orangnya!!!."dari nada suara abraham sepertinya dia sedang marah dan windi yg mendengar hal itu berbicara pada anak anaknya "Papa mu itu berapa hari ini marah mulu, mungkin kalok tensinya di tes mungkin sudah tinggir ." Dua anak itu malah tertawa windi semakin gemes pada mereka "Anak mama ini imutnnya.."windi bangkit lalu mendudukan kedua anak itu "Sekarang kita liat, siapa yg sudah padai duduk." Farel terlihat setabil ketika duduk berbeda dengan adiknya yg hanya duduk sebentar lalu jatuh ke belakang "Aduh, adek belum kuat ruapnya." Windi mengangkat Rafayel lalu memangkunya dan menghadap mereka berdua "Lihat itu, ada kakak Rel."
__ADS_1
Tak lama abraham masuk sambil memegang kepalanya yg tersa pusing dan Windi yg sadar sontak menoleh pada suaminya "Ada apa sayang." Abraham menjawab "Gak tau kenapa kepala ku sangat pusing.." windi menjawabnya "Mungkin tensi mu naik, sebaiknya kamu periksa ke rumah sakit." Abraham yg sudah tak tahan hanya mengangguk "Baiklah aku akan pergi." Pada saat abraham akan pergi tiba tiba ia kepikiran untuk pergi jalan jalan sebentar untuk menenanggkan pikirannya yg kini sedang kusut "Sayang, ganti baju anak anak nanti sekalian habis dari rumah sakit kita jalan jalan." Windi yg mendengar hal itu sontak menoleh pada suaminya "Oke lah, aku juga kebetulan bosan di rumah mulu." Abraham segera pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakianya sedangkan Windi membaringkan kedua anaknya lalu ia pergi ke kamar mereka untuk mengambilkan pakian, tak butuh waktu lama Abraham sudah berganti dan ia memutuskam untuk beristirahat di ranjang sebentar "Ah lelah sekali."abraham menyampingkan tubuhnya menghadap dua anaknya "Papa capek, tapi papa gak boleh ngeluh karna semua ini papa lakukan untuk kalian dan mama kalian" Abraham mendekat lalu mencium pipi mereka.
__ADS_1
Tak lama windi datang lalu segera mengganti pakian mereka dan setelah itu ia pergi lagi untuk menyiapkan berapa perlengkapan anak anaknya yg perlu ia bawa sedangkan Abraham memutuskan untuk tidur sebentar berharap rasa sakit keplanya akan menghilang dan selesai windi kenyiapkan ia kemutuskan untuk pergi ke ruang ganti untu menganti baju dan setalah cukup lama abraham menunggu setelah windi bersiap siap wanita itu segera membangunkannya "Sayang, ayo kita pergi." Sontak Abraham terbangun lalu duduk di kasur, ia lebih dulu mengumpulakan tenaga sebentar sedangkan Windi mulai membaringkan kedua anaknya ke dalam Stroller dan menaruh tas anaknya serta tasnya di atas kasur "Kamu bawa ini saja aku yg akan mendorong anak anak." Abraham menjawabnya "Hpku apa sudah ada di tas mu??" Windi mengangguk "Ayo kita pergi sudah." Abraham bangkit dari duduknya lalu ia pun segera mengambil barang barang tadi lalu mereka pun berajalan beriringan hinga sampai ke parkiran pada saat pintu lift keluar dan memperlihatkan mereka sontak penjaga yg menjaga parkiran sontak menghampiri mereka dan mengantarkan ber-berapa kunci mobil lalu mengambil satu yg bisa ia gunakan dan segera kenekan tombol pada kunci mobilnya sontak terdengar suara pintu yg terbuka lalu abraham segera membuka mobil lalu memasukan kedua anaknya terlebih dahulu sedangkan windi di bantu penjaga itu memasukan stroller anak anaknya ke belakang mobil dan setelah selesai mereka naik dan segera berangkat.
__ADS_1
Jek yg mendengar hal itu senang "Bagus kalok gitu, kalok bisa hari ini jangan dulu mengurus pekerjaan fokus saja menikmati jalan jalan agar pikiran bisa terlepas dari beban pikiran." Abraham segera bangkit "Ayo kita pergi." Abraham kendorong stoller anaknya tanpa mempedulikan Jek karna masih kesal sedangkan windi menjadi tak enak "Maaf kan suami ku itu." Jek tersenyum "Tak papa, hal gini udah bisa bagi ku, jadi tak perlu hatir dan juga hanya kamu orang yg bisa mengatasinya dan jika dia ada masalah tolong bantulah dia karna dia itu orangnya jarang mau menceritakan masalahnya." Windi menagngguk "Biklah akan aku usahakan." Tak lama terdengar lagi suara abraham yg memangilnya sontak windi menjawabnya "ia.." ia segera berpamitan pada Jek lalu ia pun menyusul suaminya dan mereka pun segera mesukan anak mereka terlebih dahulu baru mereka ikut naik, di dalam windi berbicara "Nanti kita pergi ke dref tru yg ada di dekat rumah sakit, aku sudah sangat lapar." Abraham mengangguk lalu mereka segera pergi dan sesampinya mereka segera menganti dan pada saat giliran mereka windi mulai memesan selesai memsan mereka langsung membayar dan setelah itu mereka segera maju untuk mencari parkiran di dalam dan setelah dapat Abraham pun merkirkan mobilnya, windi menoleh pada suaminya "Sayang, aku tau kamu tak suka aku ikut campur urusan mu tapi tak ada salahnya kamu membicarakanya pada ku juga siapa tau aku juga bisa membantu mu menyelesaikannya." Abraham masih tak mau menjawab istrinya dan memilih untuk diam sedangkan Windi hanya bisa pasrah dan berguma dalam hati 'Nanti saja aku bertanya lagi. Mungkin saat ini ia masih butuh ketenangan.'
__ADS_1
Bersambung.....
__ADS_1