
Di dapur Abrham membuat kopi dan Susu yg seperti Windi minta serta sekali kali ia melirik istrinya yg duduk di kursi di dekatnya. "Apa perutmu benar benar tidak sakit, kalom terasa saik walu sedikit saja bilang..." Windi hanya mengelengkan kepalanya dengan raut wajah yg masih sedih, Abraham menghampiri Windi sebentar lalu mencium kening istrinya itu "Berhenti memasang wajah seperti itu, kamu hanya membuat ku kawatir." Abraham menarih sebuah bangku lalu duduk menghadap istrinya itu setelah itu memegang kedua tangan istrinya itu.
"Sayang apa yg membuat kamu sedih begini, aku minta ke rumah sakit untuk memeriksa Babynya kamu gak mau. Lalu apa lagi yg membuat mu sedih." Windi pun memberanikan dirinya untuk bicara "Bukanya aku gak mau, jam segini rumah sakit mana yg masih buka??" Abraham tersenyum "Bukanya rumah sakit milik ku buka 24 jam."
"Terus dokter kandunganya ada??" Abraham tersenyum "Tentu saja pasti ada, kalom sampai tidak ada nanti ku pecat saja dia". Seketika wajah Windi tersenyum "Ayo kita pergi...". Abraham melepas gengaman tanya "Kamu tungu di sini, biar aku ambil dulu jaket dan kunci mobil." Windi me ganguk, lalu Abraham segera pergi.
Windi bangkit dari duduknya lalu mematikan mesin kopi dan segera meminum susu yg sudah selesai Abraham buat. Setelah cukup lama menungu Abraham akhirnya Abraham datang dengan membawa jaket lalu mereka pun segera pergi.
__ADS_1
******
Di sebuah gudang tua yg berada jauh dari kota terlihat seorang wanita paruh baya yg mulutnya di tutup dengan lakban dan tangan beserta kakinya di ikat di sebuah kursi dengan posisi duduk, Wanita itu di kelilingi banyak peria bertato yg semuanya memegang senjata,Tak lama kemudian seorang peria datang dan di ikuti seorang peria lagi lalu ia membuka lakban yg menutup mulut wanita paruh baya tadi "Sudah berapa lama di pingsan??". Lalu seorang peria bertato yg ada di sampinya yg memegang senjata "Sudah tiga jam yg lalu tuan".
"Ambil air lalu siram dia." Salah seorang peria bertato itu pun mengambil air lalu menyuramnya pada wanita paruh baya itu. Seketika wanita paruh baya itu sadar "Saya berada di mana.." pada saat wanita paruh baya itu melihat sekelilingnya.
Robi tertawa suara tawanya begitu besr hinga keluar "Ku kira aku seperti Robet orang jahat tapi masih memiliki kebaikan di hatinya. Bibik lupa aku ini siapa, aku Robi yg berbuat jahat tanpa harus mengotori tangan ku yg suci ini."
__ADS_1
Wanita paruh baya itu terdiam, wajah Robi kini menjadi serius "Pada siapa kamu membocorkan informasai tentang ku.." seketika wanita paruh baya itu menagingis "Tuan maaf kan saya tuan, tolong ampuni saya . Saya masih punya satu cucu dan satu puti yg hatus saya nafkahi."
"Lalu apa masalnya dengan saya, oh apa mungkin kamu meminta belas kasihan dari saya. Tapi maaf aku bukan Robet yg membunuh dengan belas kasihan aku ini Robi yg membunuh tanpa belas kasihan , kamu mengerti!!!" Robi menendang kursi duduk wanita itu hinga ia terjatuh ke bawah.
Wanita paruh baya itu menangis "Orang yg bertanya paa saya tentang tuan namnya Roy , saya hanya membeti tau bahwa tuan punya kembaran dan kembaran tuan memiliki dua sahabat wanita,hanya itu tuan. Saya mohon lepaskan saya tuan , putri dan cucu saya pasti sedang menungu saya saat ini di ruamah."
Wanita paruh baya itu terus menangus , Robi tertawa "Pergi lah dan temani anak dan cucu mu di suraga. Tembak dia..." seketika wanita itu mangingis, Robi dan Rudi pun segera keluar dari gedung tersebut lalu terdengan duan tembakan dari dalam gedung.
__ADS_1
Bersambung....