
Seperti biasa malamnya abraham pulang dan windi pun mulai melayaninya seperti biasa dan ia masih belum mau membahas masalah itu, hingga mereka kembali kekamar dan windi pun menunggu suaminya yg tengah mandi pasti peria itu akan mendatanginya untuk meminta jatah dan benar saja setelah Abraham selesai mandi ia datang hanya mengenakan bathrobe dan ia menghampiri windi dan langsung mencium pipinya "Sayang udah tidur.." windi membuka matanya lalu menolah pada abraham dan peria itu terlihat tersenyum dan dengan pelan membelai pipi windi sedangkan windi perlahan bangkit "Rambut mu masih basah kita keringkan dulu yah.." abraham tersenyum "Baiklah." Lalu ia duduk di pinggir kasur dan menghadap depanya, sedangkan windi turun sebentar dari kasur untuk mengambil handuk kecin dan setelah dapat ia kembali ke kasur lalu berdiri di atas kasur sambil mengeringkan rambut suaminya sedangkan abraham begitu menikmatinya dengan menutup matanya sebentar dan saat inilah yg menjadai waktu yg tepat untuk membujuk suaminya, windi dengan tekat yg begitu kuat mulai bertanya "Sayang..." abraham menjawabnya masih dengan mata yg tertutup "Ya..." windi menarik napas pelan setelah itu ia menghebuskanya pelan karna saat ini ia sedang gugup "Apa kamu bertengkar dengan Mario, Zefano, simon dan Jeri??" Abraham perlahan membuka matanya dan wajahnya seketika berubah datar "Siapa yg mengatakan pada mu jika aku bertengkar dengan mereka??"
__ADS_1
Windi menjawabnya "Bukan,aku tau sendiri karna selama satu minggu ini aku terus memperhatikan gelagat mu yg sedikit aneh ketika mereka menelfon atau bertemu dengan mu.Dan jika memang benar kamu bertengkar dengan mereka aku harap jangan berlarut larut karna dendam yg di diamkan terlalu lama itu tidak baik nanti malah jadi dosa" Abraham menjawabnya "Aku wajar saja membenci mereka karna salah satu dari mereka menghiyanati ku." Windi menjawabnya "Iya aku tau, tapi mereka juga sudah menyadari kesalahanya dan ingin meminta maaf pada mu dan berjanji takan melakukannya lagi." Abraham menjawab windi dengan suara yg sedikit meninggi "Aku tau kamu pasti di beritau oleh Simon, tapi amarah ku pada mereka itu semua karna perbuatanya yg telah membuat anak kita terbunuh." Windi memang sedikit terkejut ketika mendengar jika penyebaba anaknya tiada adalah karan Jeri sehingga membuat ia terdiam sejenak sedangkan abraham yg kesal menarik handuk kecil yg ada di kepana lalu bangkit pergi sedangkan windi ia masih syok hingga suaminya pergi ke ruang ganti baju dan tak lama ia keluar dengan pakin rapi dan pada saat akan pergi windi kembali berbicara "Kamu mau ke mana??" Abaham berhenti sejenak lalu menatap sinis windi "Bukan urusan mu jadi gak udah ikut campur." Windi yg mendngar jawaban seperti itu begitu sakit hati lalu ia kembali berbicara "Aku tau kamu begitu kecewa ketika tau anak kita tiada karna jeri tapi bukan berati kamu harus membencinya, tidak bukan hanya kamu aku juga sakjt hati mengetahuai kenyatan ini tapi jeri takan melakukan hal jahat itu tanpa lasan dan jika kita mempermasalahknya semua itu takan kembali lagi dan bukan berarti ia tak bisa di maafkan juga, seperti hal ya aku selalu memafkan mu ketika kamu membuat kesalahan yg membuat ku begitu keceawa pada mu, begitu juga dengan jeri ia berhak mendapat kata maaf dari mu dan biarkan juga dia mempertanggungkan kesalahannya."
__ADS_1
Abraham tersenyum kecut "Aku tak pedululi." Pada saat abraham akan pergi windi kembali memanggilnya "Abraham jangn pergi.." ia begitu tak peduli dan ia bahkan tak mau bicara pada windi lalu memutuskan untuk keluar karna dia saat ini sangat marah dan tak mau kejadian di hawai terulang kembali ia memutuskan untuk keluar sedangkan windi measih terus memanggil namanya dan suara yg berat karan ia mulai menangis "Abraham putra jangan pergi.., abraham...hik" windi menangis dia saat ini bukan hanya karan sikap suaminya yg seperti itu tapi ia juga ia masih tak menyangka jika jeri yg menyebabkan anaknya mati."ketika di luar abraham tak sengaja bertemu bik ijah jadi ia meminta wanita paruh baya itu untuk ke atas dan menenangkan windi karan ia juga hawatir pada istrinya yg di tinggal sendiri.
__ADS_1
Windi pergi ke sudut ruangan menunggu para wanita malam itu pergi namun tak mereka tidak pergi sama sekali namun ia tetap berdiri di sudut dan sesekali memeriksa anaknya sedangakan abraham terus bermain dengan para wanita itu sambil meminum minumannya windi tak peduli dan justru berbicara pada anaknya yg tidur "Mulai sekarang di sinilah temapt kita tinggal karan papa mu sudah tak mau kembali ke rumah." Dan windi terus berdiri hingga jam menunjuk puku 5 dan bukannya wanita itu akan berkurang mereka malah bertambah hingga sebuah adegan yg windi saksikan depan matanya yaitu seorang wanita mabuk itu tiba tiba mencium bibir suaminya yg juga mabuk namun masih sadar dan bodohnya abraham malah membalasnya windi memang sedikit menitihkan air matanya dan mengalihkan pandangannya sedangkan abraham masih mengira istrinya sudah pergi karan tak tau jika istrinya ada di sudut kamar dan bukan hannya satu wanita yg lainnya juga yg penasaran mulai bergiliran sedangkan di luar Roy baru kenyadari kejadian itu karana dia baru masuk ketika mendengar keributan dari para wanita itu dan ia juga ikut syok dan berguma dalam hati "Sepertinya tuan sedang cari mati nih.." Roy masuk dan sengaja berbicara besar ketika melihat nonanya yg menangis"Nona apa anda baik baik saja." Sedangkan abraham yg mendengar hal itu lantas mendorong wanita wanita itu dan menolah pada sudut ruangan dan ia melihat istrinya yg menangis yg membuatnya panik sontak bangkit berdiri "Sayang aku kira.." windi sama sekali tak mau menoleh padanya ia maih menangis sedangkan roy berusaha menenangkannya "Nona sudahlah lebih baik kita pulang saja tuan pasti akan pulang sediri nanti." Windi yang memang sudah sakit hati mengangguk saja dan Roy membantunya untuk keluar dengan mendorong stroller anaknya dan windi pergi dengan tergesah gesar. Awalnya windi tadi berharap dia membawa anaknya itu supaya suaminya ada sedikit tergerak untuk pulang ketika melihat anaknya juga ada di sana namun pemikirannya salah ia malah membuat tidur anaknya tidak nayaman dan bahkan ia harus meliat adegan yg menghancurkan hati seorang istri.
__ADS_1
Bersambung...
__ADS_1