Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 122. Kehawatiran


__ADS_3

Keesokanya abraham berangkat lebih pagi menuju kantor sedangkan windi tengah asik menonton Tv di ruang tamu Hotel sambil bermain dengan kocing yg pada saat kejadian naas berapa waktu lalu berhasil Kristin dan Bik ijah amankan ke kamar dan selamat pada saat kejadian kini kucing manja itu tengah berbaring di pangkuanya dan Ia terus mengelus tubuh kucing tersebut sambil menonton "Cing untung saja kamu berhasil selamat kalok tidak, mungkin kamu tidak akan bisa menemani ku hari ini." Tiba-tiab kucing tadi menoleh ke sebuah sudut lalu segera berdiri dari paha Windi dan melompat turun lalu berjalan menuju sudut tersebuta, windi pun berbicara "Kamu pasti mau makan lagi." Benar saja kucing itu mendekati piring makananya yg masih penuh dengan makanan windi yg melihat hal itu tersenyum kecut "Dasar kucing tukang makan, aku iri pada mu setelah kejadian itu kamu masih bisa makan dan minum. Sedangkan aku seluruh makanan yg aku makan semaunya selalu berakhir ku muntahkan."

__ADS_1


Windi pun memutuskan untuk mematikan TV tadi lalu berjalan menuju kamar ia terliat tidak bersemangat dan ia seperti sedang menahan sesuatu , pada saat menutup pintu ia menyederkan tubuhnya lalu ia terduduk ke bawah ia menggaruk tanganya yg sama sekali tidak gatal atau di gigit nyamauk hinga tergores dan sampai mengelurkan darah karna kuknya yg panjangnya, windi menagis dan berteriak "Kenapa aku tak bisa merasakan apa pun!!!, kenapa tangan ku tak merasa sakit sama sekali Ah... !!!." Suara Windi yg besar tetdengar sampai di luar, kebetulan pada saat itu Simon memeriksa keaman bagian sana dan mendengar teriakan nonanya lalu segera berlari masuk ke dalam rumah di ikuti para Bodyguard yg berjaga di depan kamar, ia terus mencari-cari arah suara nonanya lalu matanya tertuju pada pintu kamar, ia segera menghampiri pintu kamar tersebut lalu mengetuknya "Nona, apa anda tidak apa, tolong izinka  saya masuk...." Windi masih terus menagis namun Simon tak bisa melakukan apa-apa karna nonanya duduk menyeder pada pintu dan ia hanya bisa membujuknya "Nona tolong biarkan saya membuka pintu, dan tenaglah anda tidak sediri saya akan menjaga anda jangan takut dan tenglah." Windi yg mendengar suara Simon yg terdengar hangat dan menengkan hatinya. Yang ia pikirkan saat itu ia adalah kejadian pada saat ia di culik Bagas dan suara temabkan yg terus ia ingat dan bergema di pikiranya ia perlahan brediri dari duduknya dan dengan tangan gemetar ia membuka pintu dan Simon yg melihat hal itu tersenyum "Akhirnya.." pada saat pintu terbuka ia terkejut dengan kedua tangan Windi yg sudah berdarah karna cakarnya serta kuku yg patah dari tanganya "Nona anda.." tiba-tiba windi jatuh pingsan lalu Ia langsung menagkapnya sontak Simon berteriak "Kamu yg di sana, cepat telfon Ambulan." merka yg ada di dalam pun langsung menelfon Ambulan.

__ADS_1


Abraham yg baru selesai miting kini sudah bersiap-siap untuk pulang tiba-tiba hpnya bergetar Pada sat ia lihat "Simon..?, apakah ada sesautu yg terjadi." Abraham langsung menjawab telfon Simon "Halo ada a.." belum selesai abraham berbicara Simon sudah berbicara "Nona masuk rumah sakit tuan cepat kemari, kami sekaran berada di ruamah sakit dekat Hotel." Abraham yg mendengar halitu bergegas membawa barang-barangnya dan lupa mematikan panggilan telfon dan yg mengakhiri panggilan itu Simon karna ia tau tuanya pasti panik. Ia bergegas mengemudikan mobilnya ke rumah sakit tersebut, sesampainya di sana ia langsung ke Resepsoanis "Permisi mabak, pasian yg atas namakn Windi di mana yah??" Wanita itu menjawab "Tunggu sebentar yah pak." Wanita itu pun memeriksa dan pada saat sudah ke temu ia langsung memberi tau Abraham dan dengan tergesah-gesah pada saat ia kan masuk Lift namun di sana penuh ia pun mengurungkan niatnya lalu memutuskan untuk memaiki tangga darurat cukup lama ia berjalan ke atas namun ia pantang menyerah dan sesampai di lantai yg ia tuju ia masuk ke dalam lalu mencari ruangan istrinya dan ia berhenti di suah kamar yg ada pada ujung lorong lalu ia membuka kamar tersebut dan terlihat Simon di dalam bersama Jesi dan Kristin yg pada saat mengetahui nonanya masuk rumah sakit segera menyusulnya karna kebetulan saat ia mereka sedang berjalan-jalan di sekitar hotel dan tak sengaja melihat nonanya yg di angat menggunkan Ambulan dan mengikutinya ke rumah sakit.

__ADS_1


Perlahan tangan windi bergerak sontak Abraham menoleh pada istrinya lalu istrinya perlahan membuka matanya ia melihat wajah suaminya penuh dengan airmata, windi berusaha menggangkat tanganya lalu di peganya wajah suaminya dan ia pun perlahan meghapus air mata suaminya setelah itu tanganya turun menyentuh pipinya dengan suara pelan dan mulut yg bergetar dan air mata mulai keluar windi berbicara "Jangan menangis, aku tak mau kamu menangis, aku masih belum mati jadi jangan menangis. Aku takan matai sebelum aku melahirkan sikembar, jadi ku mohon jangan menagis." Abraham menggelang-gelengkan kepalanya "Gak, sampai selama-lamanya aku tak akan membiarkan kamu mati, aku akan melindungimu dan anak kita walau nyawa ku taruhanya." Windi menggelengkan kepalanya "Tidak, Tak ada manusia yang dapat menghindari maut, sayang. Untuk saat ini mungkin aku masih bisa menghidar tapi tidak ada yg tau takdir ku ke depanya bagai mana." Abraham dengan bibir yg gematar dan air mata yg tak henti mengalir dari sudut matanya "Jika itu terjadia aku akan mati bersama mu, aku akan menemani mu ke alam baka walu aku hanya bisa mengantar mu sebentar dan kita terpisah aku takan menyesalinya. " tanpa mereka sadari Kristin, jesi, simon dan para dokter serta suster yg ingin memeriksa windi menangis di luar karna tak kuat menahan rasa tangis mendenagr dua sepasang suami istri yg tengah mencurahan kehawatiran yg mereka rasakan.

__ADS_1


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2