
Jesi terbangun karna ada sesorang yg menggoyangkan tubuhnya , pada saat ia membuka mata rupanya itu Roy, ia berbicara dengan suara kecil "Ada apa??" Roy menjawab "Ayo menonton di luar." Jesi melirik sampinya, Ibu Roy yg tidur di sampinya masih tertidur pulas, jesi menoleh pada Roy "Bagai mana nanti mama bangun aku gak ada???" Roy menhalab "Gak papa tenag saja dia tidak akan marah." Jesi pun pelan-pelan keluar dari selimut lalu berjalan pelan-pelan keluar kamar bersama Roy, sejak kedatangan ibu Roy Jesi di minta untuk menginap di rumah Roy karna ibunya ingin dekat dengan calon menatunya , dan dua hari di sana ia habiskan menemani ibu Roy yg bernama Melinda berbelanja, belajar meamasak dan membuat kue, sesekali ia akan menceritakan tentang masa kecil Roy yg pada saat ia usia 7 tahun ibu dan ayahnya berpisah hingga pada saat ia pergi merantau.
Karna pekerjaan di kantor yg banyak membuat roy tidak bisa bersaan dengan Jesi selama dua hari ini ia akan pergi bekerja pada jam 7 pagi dan pulang pada jam 9 dan langsung tidur yg membuat ia memutuskan untuk membuat alaram pada pukul 4 untuk di manfaatkan sebagai waktu berduaan bersama jesi. Di luar mereka duduk di sofa sambil menonton Filem horor sesuari permintaan Jesi mereka menonton Filem serial killer selama Filem berlangsung Jesi terus bersembunyi di belakang Roy sedangkan Roynya sendiri bisa saja menonton Filem tersebut karna menurutnya itu tak mengerikan.
__ADS_1
"Apa yg kamu lakukan di belanag ku bukanya kamu sendiri yg meminta untuk menonton filem horor seperti ini." Jesi yg ketakutan terus bersembunyi "Aku sih gak papa kalok masih di ending awal , tapi kalok udah di pembunuhanya aku takut." Roy tertawa "Kamu takut apa orang cuman Filem doang buakan kenyataan " Jesi memukul pundak Roy "Tapi tetap aja aku takut. Manusia mana sih yg gak takut darah." Roy tersenyum "Aku gak takut darah apa mungkungkin aku bukan manusia." Jesi yg kesi langsung mencubit pinggang Roy "Adauh..., emang siapa yg bohong orang memang benar." Jesi menjawab dengan kesal "Tapi gak lucu tauk." Tanpa ia sadar matanya tertuju pada TV dan ending dimana pembunuh tadi membunuh sandranya dengan golok yg membuat ia berteriak lalu tak sengaja mendorang Roy dan mereka jatuh bersama sama ke bawah, jedi Jedi jatuh di tubuh Roy dan mata mereka saling memandang satu sama lain tiba-tiba Roy kangsung mendekatkan bibirnya ke bibir jesi dan wanita polos itu dengan bodonya menerima ciuman dari Roy.
Tanpa mereka sadari ibu Roy terbangun karna haus namun tak memeriksa Jesi di sampinya dan langsung ke luar dari kamar untum mengambil minum ke dapur, sedangkan Roy mulai menjatuhkan Jesi kesamingya lalu menindihnya tanpa melepas ciuaman mereka sedang Jesi yg berada di bawah Roy mulai sadar dan berusaha melepas ciuaman tersebut. Di si lain pada saat ibunya ke dapur ia melewati ruang tamu dan melihat TV yg menyala namun masih belum sadar Anaknya ada di lantai bersama calmon menatunya ia berajaln ke dapur dan mengambil Air putih lalu meminumnya sambil berjalan.
__ADS_1
Roy melepas cuman panas tadi "Kak roy sudah, kita lanjut nonton saja." Roy seperti tak mempedulikan perkataan Jesi dan malah mencium bagian leher Jesi hinga tak sengaja suara aneh keluar darai mulut gadis itu "Ahh.." dan pada saat ibu Roy lewat Ruang tamu seketika terdiam dan berguma dalam hati 'Suara apa itu..' dan kali ini Jesi kembali mengeluarkan suara "Kaka Roy sudah ayo kita kembali nonton saja, Jesi gak sangup." Karna jesi sudah merada ada yg aneh pada tubuhnya namun peria itu tak peduli, ia menggunakan tubuhnya yg kekar itu unyuk menahan pergerakan Jesi dan masih menikmati wanita itu. Ibu Roy sadar ada suara jesi , walau kcil karna tertutup oleh suara Tv namun suara itu jelas dan ia berguma dalam hati 'Sepertinya itu suara menatu ku, apa anak bandel itu mencoba menyentuhnya.'
"Maaf maa, Roy gak sadar." Ibunya masih mengomel "Gak sadar dari mana, kalok mama gak lewat mungkin habis menantu mama kamu apa-apa in." Roy meminta maaf "Maafin Roy ma, Roy salah dan janji gak ngulang lagi." Setelah mendengar janji dari anaknya ia melepas tarikannya lalu menarik menantunya pergi, "Ayo sayang kita kembali ke kamar." Jesi mengikuti ibu mertuanya itu ke kamar sedangkan Roy berusaha mencerna apa yg ia lakukannya barusan atas dasar tidak sadar. Di dalam kamar Melinda membuka dua kancing pakian tidur Jesi dan memerikasa rupanya benara ada dua tanda merah, dan Jedi pada saat itu sangat malu. "Asataga putri kecil ku tubuh polos cantikmu harus di nodai dengan bekas aneh ini." Mariam menatap Jesi "Maafin anak nakal mama itu, dia seperti itu pasti karna pergaulanya anak muda jaman sekarang kalok gak di tongkrongan mereka sehari-hari mereka akan pergi ke klup malam dan menjadi kebiasana nakal mereka menggoda wanita nakal di sana."
__ADS_1
Jesi tersenyum "Gak papa kok mama, yg penting Jesi sudah tau dan bisa berjaga-jaga." Melinda tersenyum lalu berbicara "Sepertinya bibir cantik mu sedikit membengkak." Sontak Jesi menutup bibirnya dan Melinda tertawa melihatnya "Mama nanti akan di sini selama satu bulan lebih nanti sebelum melamar kamu mama mau bertemu kedua orang tuamu dulu setelah itu secepatnya akan lamaran dan untuk nikanya mama gak mau nunggu lama satu bulam mungkin cukup untuk persiapan, karna mama gak mungkin menunggu 3 bualan lagi karna mama hawatir kejadian seperti hari ini akan terjadi, kan kasian kamu madih cantik dan polos ini malah di permainkan sama anak tante itu yg main nerkam aja." Jesi menjawab "Kalok secepat itu, takutnya nanti kak Roy masih sibuk, kita juga belum tau jatwal kerjanya." Melinda menajawab "Anak nakal itu gak bakal menolak, cepat nikah bukanya keinginanya. Percuma kerja gaji tinggi tapi usia udah makin tua tahun ini dia udah 28 tahun bentar lagi kepala tiga." Jesi tsenyum "Nati Jesi coba Telfon bapak sama ibuk ." Mariam menggaguk lalu mengajak kembali menatunya itu untuk tidur.
Berdambung....
__ADS_1