Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 218.Undangan


__ADS_3

Paginya windi terbangun karna ingin buang air kecil namun ketika membuka mata rupanya kamar gelap dan ia kini sudah terbaring di atas kasur dan dengan mata yg masih belum melihat dengan jelas ia memutuskan untup pergi ke kamar mandi ia turun dari ranjang lalu ke kamar mandi untuk buang air kecil "Jam berapa ini yah.." windi segera menyelesikam buang air kecilnya lalu ia pergi ke wastafel untuk mencuci wajahnya "Tumben amat si kembar tidak cerewet." Setelah mencuci wajah akhirnya windi kembali segar dan ia menatap wajahnya di kaca wastafel "Mungkin sebaiknya aku periksa sebentar." Windi keluar dari kamar mandi dan pada saat pandanganya menoleh pada ranjang tiba tiba langkahnya terhenti ketika meliht sosok seorang yg duduk di kasur namun karna gelat jadi tidak jelas, seketika windi mulai berpikir negatif "Apa ini setan." Windi sebenarnya ingin sekali lari tapi ia hawtir, anaknya akan di ganggu karna setaunya di filem filem jika hantu suka mengganggu bayi seusia anaknya itu jadi ia beranikan diri mendekat untuk bisa menyalakan lampu karna sakelar lampu dekat pinggir ranjang jadi ia pelan pelan mendekat dengam hati yg dek-dekan dan badan berkeringat ia berguma dalam hati 'Lindungilah Hamba mu ini Tuhan.' Windi menutup matanya ketika sudah dekat ia meraba tembok dan ketika sudah menemukan sakelar lampu langsung di tekannya dan ketika lampu menyala ia pelan pelan membuka mata danpada saat menoleh ke belakang.

__ADS_1


Seketika ia terkejut ruapanya yg duduk itu suaminya dan terlihat suaminya sedang memegang kedua botol dot anaknya sambil tidur dengan posisi duduk sedangkan anaknya sudah tidur dan bahkan dot mereka sudah habis, windi kengeles dadanya "Sepertinya semalam suami ku yg mengurus mereka." Windi melirik jam sudah menunjuk pukul 4.45 ia mendekat suaminya lalu mengoyangkan tubuh suaminya sebentar "Sayang bangun, jangan tidur begini." Sontak Abraham membuka matanya "Iya iya ada apa.." windi mengisyaratkan untuk mengecilkan suaranya sontak abraham langsung diam lalu ia menoleh anak amaknya sudah tidur dan akhirnya ia bisa beristirahat dengan benar jadi ia  melepas dua botol susu tadi lalu menaruhnya ke atas meja dan kini ia bisa bernapas lega sedangkan windi memperbaiki selimut mereka "Maaf sepertinya, aku tidurnya kebablasan jadi gak tau kalok anak anak bangun." Abraham tak peduli ia menarik istrinya lalu memeluknya sambil berbring sedangkan Windi sedikit terkejut "Sayang apa yg kamu lakukan." Abraham berbicara "Diamlah, dan tidur lah." Windi menjawabnya "Nanti kalok anak anak bangun kayak mana??" Abraham tak menjawabnya lagi dan malah tidur di pelukan istrinya dan windi pun pasrah dan memutuskan untuk menunggu peria itu tidur.

__ADS_1


paginya jam 7.30 Abraham kini bersiap untuk ke kantor dan windi pun membantunya memaki dasi "Sayang, bagai mana kalok kita jalan jalan." Windi menjawabnya "Ke mana emangnya ." Abraham tersenyum "Tadi kemaren  aku dapat undangan untuk menghadiri sebuah acara di thailand, aku sebenarnya gak mau pergi kalok gak ada kamu." Windi yg mendengar hal itu lantas menoleh pada suaminya "Ayok, aku juga mau ikut. Lagi pula anak anak udah berusia 5 bulan dan sekarang kita tak perlu terlalu hawatir lagi." Abraham tersenyum "Baikalah nanti siap-siapnya karna besok kita berangkat." Windi yg mendengar hal itu terkejut "Apa mendadak??" Abraham menjawab "Tidak, acaranya itu hari minggunya, dan kenapa aku mau besok karna ada teman bisnis ku sudah di sana jadi aku ingin bertemu dengannya dan membahas mengenai bisnis dari pada aku yg menadatanginya di jerman kan jauh yah." Windi mengangguk mengerti akhirnya ia selesai memasang dasi suaminya "Sudah.." abraham mengambil dompetnya dan hpnya "Ayo." Windi mengangguk lalu ia mendorong Box dorong anaknya masuk ke dalam lift dan mereka menuju lantai bawah tanah windi sengaja mengantar suaminya samapai di parkiran "Nanti hati-hati di jalan. Tadi juga aku ada meminta Roy membelikan roti untuk sarapan mu nanti. Maaf aku gak sempat masak untuk mu karna sibuk mengurus anak anak." Abraham tersenyum lalu membelai wajah istrinya "Tak masalah." Abraham kengecup keningnya tak lupa anak anaknya juga setelah itu ia berangkat dengan mobil mewahnya dan setelah kepergianganya baru windi dan anaknya kembali.

__ADS_1


Di rumah windi, bik ijah dan Keristin  kini sibuk untuk menyiapkan pakian untuk berangkat "Nona bagai mana bawa baju ini." Windi kenoleh pada Keristin yg mengakat sebual lingerie hitam tembus pandang yg membuat wajah windi seketika malu "Gak, untuk apa bawa itu, lagi pula kami pergi untuk menghadiri acara bukan pergi bulan madu."keristin tertawa ketika berhasil menggoda nonanya sedangkan Bik ijah langsung berbicara "Nona akan berapa lama di sana??" Windi menjawab "Gak tau bapaknya anak anak??" Kertin berbicra "Emang nona tidak di beri tau??" Windi menggeleng "Ini aja ia beritaunya tadi pagi." Mereka mengangguk mengeri tiba tiba terdengar suara anak anaknya dari Box dorong yg berbicara keras sontak windi bangkit lalu memeriksa merela ruapnya mereka lelah di dalam box "Keris tolong ambikan karpet mereka sebenar." Keristin mengguk lalu segera pergi sedangkam windi mulai mengelurkan Farel lalu menduduknaya setelah itu ia mengambil Rafayel dan di dukan di dekat kakaknya "Wah adek udah bisa duduk sudah.." bik ijah tersenyum "Ngeliat mereka membuat bibik keingat sama anak waktu kecil, tapi sekarang mereka udah gedek semua." Windi menoleh pada bik ijah "Emang bik ijah punya anak berapa??" Bik ijah menjawab "Ada dua belas, lima perempuan dan tujuh laki laki." Windi yg mendengar hal itu terkejut "Pasti bik ijah perlu biayaya banyak dalam membesarkan mereka." Biak ijah tersenyum "Begitulah, tapi saya tak mau menghitungnya karna melihat mereka semua bisa sekolah walau hanya lulusan SMA setidaknya mereka masih bisa mendapat pekerjaan yg layak dan itu saja sudah membuat saya sangat bangga walau waktu kecil sulait sekali mengurus mereka apa lagi pada saat bayi begini, dan saya senang bisa meluangkan waktu bersama mereka." Windi tersenyum ia bisa mengerti apa yg di rasakan bik ijah karna saat ia ia merasakannya dan itu sebabnya windi tak mau anaknya di urus orang lain sepenuhnya agar anaknya bisa merasakan kasih sayang keluarga yg cukup di masa pertumbuhan mereka.

__ADS_1


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2