
Dari salon mereka brangkat ke Rumah sakit tempat Eli di rawat dan karna semalam Abraham sudah di beritau di mana kamar Eli jadi tidak butuh waktu lama mereka sampai di depan kamarnya, di depan kamar Windi ragu untuk membuka pintu karna ia takut namun Abraham berusaha meyakinkanya tak ada yg akan terjadi jadi dan Windi pun menurut dan pada saat pintu terbuka langsung terlihat Eli yg berbaring di ranjangnya, Julius dan Mariam yg tengah duduk di kursi pada saat mereka meleh pada pintu kamar pandangan mereka langsung tertuju pada Windi sedangkan gadis itu menutup matanya karna takut.
Marian dan Julius datang dan langsung memeluknya "Astaga sayang, kami begitu hawatir pada mu untung saja kamu baik-baik saja." Mereka pun melepas pelukanya lalu menatap wajah Windi yg sudah berkaca-kaca "Apa kalian tak marah karna aku lari waktu itu..." windi terlihat berusaha menahan airmatanya yg mau keluar , Julius tersenyum "Kami tak mungkin marah pada orang yg sudah kami anggap putri kami senduri." Windi mengis lalu Mariam pun menghapus air matanya yg terus keluar, tak lama kemudian Eli turun dari ranjangnya lalu menghampiri Windi juga lalu merentakn kedua tangnya "Ayo peluk aku juga." Windi mendekat lalu memeluknya namun pelukan itu tak lama karna Abraham sudah menarik istrinya lagi "Sudah cukup pelukanya,sebaiknya kamu baring saja di kasurmu seperti pasialen lainya jangan ambil kesempatan agar bisa berpelukan dengan istri orang."
__ADS_1
Eli menatap sinis Abraham tak lama kemudian Simon datang dan membawakan berberapa kotak kue "Ini taruh di mana tuan??"Abraham menunjuk sebuah meja yg ada di tengah ruangan dan Simon pun menaruh kue tadi di stas meja lalu muli berdatanan berapa orang yg simon suruh menbantunya dan ada yg membawa bungga ada juga yg membawa kue lagi hingga meja itu penuh dengan kotak yg berisi kue dan sekeliling ruang rawat Eli penuh dengan bunga. Mariam yg melihat hal itu sedikit terkejut "Apa ini tak berlebihan." Abraham tersenyum " Aku dengar Eli besok sudah bisa pulang jadi aku sengaja membeli banyak kue agar bisa menutupi rasa rindunya pada kue." Eli menatap sinis Abraham "Gak ada yg rindu makan kue." Abraham membalas perkataan Eli "Aku tau selama kamu di rawat kamu pasti tak bisa makan kue, bukanya kue sudah jadi bagin dari hidup mu, gak siang gak malam kue saja yg terus ku makan." Eli juga tak mau kalah dan membalasnya "Itu waktu dulu, sekarang aku gak makan kue lagi." Abraham tersebyum "Yakin kamu gak mau, itu kue kacang lo. Atau aku bagiakan ke pasian yg ada di rumah skait saja." Eli yg mendengar Kue kacang yg merupakan kue kesukanya langsung tersenyum pada Abraham "Apa kue kacang." Abraham mengguk "Kenapa tak bilang dari tadi kalu itu kue kacang jadi kita gak usah bertengkar lagi kan." Eli pun menghampiri meja dan membuka satu bok dan memakan kue kacang yg menjadi kesukaanya itu "Wah enaknya."
Ibunya yg melihat hal itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya "Astaga anak ini, Kalok namanya kue kacang dia gak bakal bisa nolak." Julius pun mengajak Abraham untuk masuk "Ayo masuk Ham." Abraham menggeleng "Nanti aja paa, Abraham masih ada janji dengan dokter kandungan." Mriam yg mendengar hal itu lantas menoleh pada Abraham "Apa kalian ingin melakukan USG??" Windi mengguk "Apa mama dan papa mau ikut juga??" Lantas mereka berdua mengsngguk "Kalok gitu ayo kita pergi." Eli yg mendengar hal itu segera memenuhi mulutnya dengan kue lalu ikut juga "Tunggu eli maa." Mereka pun menaiki lift dan menuju lantai 2 dimana di sana Ruangan Dokter kandunya berada.
__ADS_1
Sehabis USG mereka kembali dan berbincang di ruang rawat Eli setelah itu mereka pulang, sempat Eli menahan mereka karna tak mau Windi pergi namun seperti biasa Abraham akan lawan debat dengan ya di mena Abraham lah yg memenangkanya sehinga mereka bisa pergi, mobil mereka melaju namun Windi tak tau kemana mereka akan pergi "Sayang kita pergi ke mana??" Abraham tersenyum menatap istrinya "Kita berbelanja keperluan si kembar, kita gak tau kapan kita akan kembali jadi tak ada salahnya kita mempersiapkan Barang-barang untuk lahiran." Windi bingung dengan jawaban suaminya "Buknya masih ada 4 bulan lagi jadi tak perlu cepat-cepat." Abraham menjawabnya istrinya dengan santai "Mempersiapkan barang untuk keperluan melahirkan itu tidak mudah lo, jadi sebaiknya kita sudah memper siapkan sejak awal, kita juga belum mempr siapak kan apa-apa bukan paling baju dari Hawaii tadi itu pun cuman sedikit dan sebaiknya kita sudah memper sipakanya dari Awal dari pada nanti mendadak." Benar kata suaminya lebih baik mereka mempersiapkan pelan-pelan dulu agar nanti ketika lahiran tak kebingungan.
Akhirnya mereka sampi di sebuah mal dan mereka segera masuk ke parkiran dan memarkirkan mobil mereka setelah itu mereka masuk ke dalam Mal dan menuju lantai 2 di sana mereka langsung masuk ke toko yg menjual pakain Bayi dan mereka pun mulai mengisi keranjang mereka dan setelah keling berkali-kali barang yg windi cari tak kunjung di temukan "Apa di sini tak ada yg menjual ****** ***** untuk bayi??" Abraham yg mendengarnya tak bisa menahan tawanya, windi menoleh pada suaminya "Kenapa kamu tertawa, gak ada yg lucu tauk." Setelah cukup lama terta akhirnya ia bisa kembali tenag "Apa kamu tau, seorang Bayi tak memaki ****** ***** tapi mereka mengunakan popok." Windi terdiam "Apa mereka mengunakan popok..., popok itu apa aan yah??" Abraham pun mencari di internet setelah dapat langsung di beritau istrinya "Ini namanya popok." Windi yg melihat gambarnya jadi mengerti "Oh iya aku lupa." Windi menepuk jidatnya "Astaga kenapa aku sampai lupa yah." Windi begitu malu ia bahkan tak berani menatap mata suaminya.
__ADS_1
Bersambung....