
Dan setelah lama mereka di sana akhirnya pada pukul 11 malam mereka akan pulan windi dan Abraham mengantar mereka sampai di luar "Abraham kami akan pulan dulu, nikmati saja liburan kalian dan kita bertemu lagi di wosington" Abraham mengguk "Nanti kita bertemu di sana." Eli berbicara "Win aku pamit pulang dulu." Windi kebingungan harus menjawab apa dan Abraham menyutinya "istri ku tak peduli pada mu." Abraham merangkul istrinya dan Eli menatp sinis Abraham lalu berbalil pergi "Astaga dua anak ini..." mereka pun segera pergi, sedangkam Abraham dan Windi kembali ke dalam.
Kambali ke kamar mereka yg berada di lantai tiga, mereka menikmati udara di malam hari di balkon kamar sambil melihat pemandangan pantai di malam hari , windi menyelimuti dirinya dengan selimut sedangkan Abraham memeluknya dari belakang "Sayang, bagai mana kalok kita berpisah selama 5 bulan, apa kamu akan merindukan ku??"windi menyenderkan tubuhnya pada dada suaminya "Aku pasti sangat merindukan mu, dan 5 bulan itu akan serasa seperti 5 tahun bagi ku." Tangan Abraham beralih mengelus perut istrinya "Maaf kan aku selalu mementingkan ego ku, maaf karna aku tak bisa melindungi kalian, maaf atas ketidak berdayaan ku, dan maaf atas segalanya..." setelah mencuapkan kata-kata itu keheningan terjadi dan tak ada yg berbicara sama sekali, setelah cukup lama di luar akhirnya mereka ke dalam untuk tidur.
__ADS_1
Dan pada jam 2 pagi Windi terbangun dari tidurnya dengan tubuh yg basah karna keringat dingin dan jantungnya berdebar begitu kencang ia melirik sampinya suaminya masih tidur dan ia menggingat mimpi yg ia alami yg membuat ia menangis dan tangisanya membangunkan Abraham "Sayang apa yg terjadi..." ia bangkit dari baringnya dan gadis itu masih terus menangis dan Abraham pun memeluk istrinya mencoba membantunya untuk menenangkan dirinya "Sudah sayang jangan menangis, apa kamu bermimpi buruk??.." gadis itu masih belum menjawabnya dan perkataan tadi malah membuat suara tangisnya semakin kencang dan Abraham sebagai suami yg baik mengelus punggung istrinya sambik berusaha menenagkanya.
Di mimpi windi ia terbangun di sebuah rumah sakit dan di sampinya terdapat dua inkubator bayi dan ia tak bisa melihat jelas wajah kedua bayi itu hanya terlihat pipi cabi mereka dan bibir pink mereka, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar dan terdengar suara teriakan suster di luar yg membuat ia panik sontak ia mengelurakan kedua anak itu dari inkubator dan menyembunyikan mereka di balik Gorden rumah sakit ia membelai pipi kedua bayi yg sedang tertidur pulas itu dan air matanya sudah menetes ia berlari ke luar dan tepat pada saat di membuka pintu seorang peria paria tua yg usianya mungkin sudah 50 lebih tapi masik terlihat kuat yg menatapnya dengan amarah lalu memodongkan pistonya, ia menoleh ke dalam sebentar namun tak ada orang sama sekali dan kembali menatap Windi "Kamu wanita yg menjadi penyebab kematian keponakan ku, matilah dan ikut bersama kami ke neraka." Windi tak bisa bergerak karna takut dan matanya berkaca kaca tak ada yg bisa ia lakukan dan pasrah akan kenyatan yg penting kedua anaknya aman, peria itu pun menembak sebanyak empat kali dan mengenai bagian tubuhnya hinga ia terjatuh kelantai, sebelum matanya tertutup ia mendengar peria itu menembak dirinya tepat pada dadanya sebanyak satu tembak dan ikut jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Em.., pelan kan dikit." Abraham menjawab "Iya..." windi kembali mengeluh "Itu telalu pelan, coba sedang-sedang saja." Abraham menyedangkan pijatanya dan kali ini windi sudah mulai menikmati pijatanya sambil menutup matanya dan Abraham pun yg penasaran apa mimpi istrinya sehinga membuat ia menangis semalam "Sayang, semalm kamu mimpi apa??" Ia membuka matanya "Aku mimpi buruk." Abraham penasaran "Mimpi buruk seperti apa itu." Windi tak menjawab sama sekali ia malah terdiam dan Abraham tak mau memaksa istrinya lalu mengganti topik pembicaraan "Sepertinya panas gini enaknya mekan ice krim yah." Windi yg mendengar itu langsung menoleh pada suaminya "Aku mau juga." Abraham menatap istrinya lalu tersenyum "Tapi syaratnya.." windi menggaguk "Syaratnya apa??" Abraham tersenyum lalu menjawab "Sarapan dulu dong, masak main makan Ice krim tapi gak sarapan aku udah lapar ni."
Windi menjawab "Kita sarapan Roti aja, gak usah yg berad dulu." Abraham menjawab "Baikalh aku aku akan memberi tau waiter, kamu mau ice apa??" Windi dengan semangatanya menjawab "Aku maunya yg Vanila, Colat, dan strobery." Abraham mengguk lalu menelfon Waiternya dan setelah cukup lama menunggu di dalam kamar sambil berbincang sedikit seorang playan datang dan menaruhnya ke meja depan TV lalu pergi sedangkan windi dengan cepat turu dari ranjang dan duduk di Lantai depan sofa lalu ia segera menikmati rotinya dan Abraham datang lalu ikut duduk di lantai di sampinya istrinya "Kayanya ada yg gak sabar mau makan ice Krimni." Windi dengan mulut penuh berbicara "Nanti kalok kama lama Ice kerimnya meleleh." Abraham tersenyum lalu mencubit pelan pipi istrinya "Ih habisin dulu makananya baru di jawab, entar keselek lo." Windi segera meminum susunya "Aku sudah selesai, sekarang aku mau makan icenya." Windi langsung menyendokan ke mulutnya dan abraham penasar denagan rasanya karna istrinya santai saja menyendokanya ke mulut tanpa mengelurakan Ekspresi apa pun "Bagai mana sayang enak??" Windi menjawab suaminya "Rasanya Enak." Abraham yg penasan mencoba sedikit dan ketika mencobanya "Ini sih enak, seperti yg kamu bilang." Windi menggaguk sambil tersenyum menatap suaminya Abraham membalas dengan senyumannya lalu mencium pipi istrinya "Kamu makin membuat aku sayang sama kamu." Abraham tak henti mencium pipi istitrinya hingga wanita itu merasa risih dan menutp wajahnya, Abraham yg mucil terus menggangunya, kebersamaan ini lah yg membuat Abraham tak sangup jauh dari istrinya dan akan selalu merindukan tingkahnya yg bodoh, Cengeng, dan pemaranya.
__ADS_1
Bersambung....