
Sesampai di rumah belum terlalu jelas hasil renofasi rumah karna rumah masih gelap dan itu sudah malam jadi windi tak terlalu memperhatikan namun banyak hal yg berubah seperti bagian luar rumah yg awalnya bergaya kelasik kini sudah berubah bergaya moderen namun karna di dalam gelap jadi windi belum mempehatiakn lalu mereka menuju kamar mereka yg ada di lantai atas di sana juga banyak perubahan seperti ada satu kamar yg dekat dengan kamar abraham dan windi padahal awalnya di rumah itu hanya ada satu kamar namun Windi tak peduli ia ingin segera merebahkan tubuhnya "Sayang apakah anak-anak, kita bawa ke kamar mereka??" Windi menjawab "Gak usah, bawa aja mereka tidur dengan kita, aku sedang tidak mau bolak balik karna aku sudah sangat capek."Windi masuk di susul Abraham lalu windi mulai menganggkat anaknya yg ada di dalam stroller untuk di baraingkan di tengah ranjang, dan bahkan ranjang itu kini semakin besar namun windi tak peduli pikirnya kasur itu besar hanya karna ia sedang sangat lelah jadi pandanganya tidak Fokus setelah selesai membaringkan mereka lalu ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di samping mereka "Lelahnya..."Windi segera memejamkan matanya dan abraham yg melihat hal itu menghela napasnya pelan ia juga merasakan hal yg sama seperti yg istrinya katakan jadi ia memutuskan untuk baring di sampingnya lagi dan kedua bayi itu tidur di tengah mereka.
__ADS_1
Keesokanya windi terbangun karna mendengar suara dua bauahtinya yg menangis "Astaga nak mama sangat cepek sekali kenapa kalian tak bisa membiarkan mama kalian ini istirahat dengan tenang Windi membuaka matanya lalu bangkit ia menaruh bantal tempat ia berbaring tadi lalu menaruh kedu anaknya ke atas situ setelah ia mulai menyusu mereka namun karna itu masih pagi jadi apa yg ada di depanya belum jelas dan tenggorokanya tiba-tiba terasa kering lalu ia membangunkan suaminya "Sayang bangun, tolong ambilkan bentar minum. Tenggorokan ku kering banget kepengen minum tapi anak-anak masih nyusua."Sontak abraham membuka matanya walau masih belum terbuka lebar karna peria itu masih belum segar "Ada apa tadi??" Windi kembali berbicara "Ambilin minum dong anak anak lagi nyusu sama aku ni.."Abraham sebenarnya amsih mau tidur namun karna ini yg minta istrinya yg paling ia cinta jadi ia menurut dan langsung memberikan satu gelas air untuknya namun abraham tak pergi kelur kamar sedangkan Windi sedikit terkejut karna suaminya sudah membawanya air "Kok cepat amat mengambil minumnya." Abraham menjawan "Di dalam kamar kita ada dispenser, yg sengaja aku pakai jika nanti ketika anak sudah kamu mau membuat kopi atau teh bisa di kamar aja." Abraham kembali baring di ranjang karna ia sangat mengantuk sedangkan otak windi yg masih belum encer bertanya-tanya maksud suaminya tadi "Apa Dispenser..."
__ADS_1
Paginya akhirnya seluruh isi ruangn terlihat dan windi yg kembali terbangun dari tidurnya karna matahari yg masuk dari celah jedela kamar dan pada saat menyusu anaknya ia ketiduran dan karna pada saat itu ia terbangun jam 5 pagi dan baru tidur satu jam dan kembali terbangun jam 6 pagi karan matahari yg masuk dari celah kaca karna kamar mereka terdapat di bagan atas pada saat ia membua mata kedua anaknya sudah tak menyusu padanya lagi dan asina tumpah apada bantal sontak Rahel kembali memasukan dua buah dadanya kembali lalu pelan-pelan membaring kedua anak itu ke tengah dan ia masih belum sadar dengan perubahan rumah dan setelah ia selesai membaringkan mereka ia segera menoleh pada sekeliling dan ia terkejut karna semua perabot suadah berubah dan ia diam-diam bangkit lalu memeriksa tiap sudut kamar hingga ke dalam rungang ganti mereka ia terlihat berusaha menahan emosinya seperti biasa suaminya membeli barang tanpa persetujuan darinya dulu "Abraham putra, kenapa kamu membuat ku marah di pagi buta begini, apa dia sudah gila menganti seisi kamar."
__ADS_1
Pada saat Windi mendekat kini Abraham sudah pasrah lalu menutup matanya tiba tiba terdengar suara anaknya di luar sontak windi menoleh ke belakang "Astaga anak anak.." windi kembali ke pintu dan cepat cepat membuka pintu dan pasaat pintu terbuka ia segera keluar sedangkan Abraham yg melihat hal itu kini menjadi tena g "Terima kasih anak anak ku karna kalian sudah menyelamatkan ayah mu ini." Abraham pun perlahan keluar dari kamar mandi dan wajahnya langsung terkena lemparan bantal dari Windi "Kamu kira aku akan membiarkan mu lepas begitu aja."Abraham menghela napas pelan ia memungut bantal yg sudah terjatuh kelantai setelah mengenai wajahnya "Sayang maaf kan aku, sebenarnya aku mau memberitau mu waktu itu tapi aku takut..."Windi memijat kepalanya yg pusing ketika di pikirkan suaminya itu sudah mengelurkan uang terlalu banyak "Setelah membeli mobil, rumah, renof rumah lagi , dan sekarang barang barang rumah kamu ganti semua apa benar begitu??"Abraham mengangguk lalu duduk di samping istrinya yg sedang menyusu kedua anaknya "Sayang jangan lah marah nanti anak anak sedih jika melihat mu marah mulu." Windi menatap sinis suaminya "Lebih baik kamu mandi lalu berangkat kerja sebelum aku selesai menyusui anak-anak, karna aku takan melepaskan mu."Abraham yg mendengar hal itu segera bangkit dari duduknya "Baiklah aku akan berangakat kerja." Abraham berlari ke kamar mandi untuk mandi sedangkan Windi kembali memijat kepalnya entah kenapa berapa hari ini dia yg sering marah bukan suaminya mungkin hal ini terjadi karna Windi sedang datang bulan.
__ADS_1
Bersambung....
__ADS_1