
Besoknya karna anaknya masih demam sebenarnya ia mau menunda untuk ke rumahnya jordan namun peria itu malah menyarankannya untuk adatang saja menginap di sana dan itu juga keinginan ayahnya dan untuk malah anaknya yg deman mungkin baby sitter yg ada di rumahnya bisa mengurus anaknya agar windi bisa istirahat dan abraham yg menadapt pesan itu juga kebetulan berpikir untuk memanggil Keristin untuk adatang namun karna mendapat tawaran itu ia langsung menyetujuwinya lalu mereka berkemas lagi dan kali ini mereka menginatap di sana dan sesampai di rumah Jordan, rumah itu tak terlalu besar dan pelayan di sana juga hanya ada sedikit dan ketika masuk tiara langsung menyambut mereka dengan perutnya yg sudah terlihat besar karan sudah menginjak usia kandungan 9 bulan dan hanya tinggal menunggu hari saja "Selamat datang, mari masuk suami ku dan ayah mertua ku sudah menunggu di ruang tamu." Abraham mengangguk lalu mereka masuk dan benar saja di ruang tamu mereka sudah di tunggu dan mereka mulai bersalaman dengan jordan serta pak Rangga lalu duduk dia sofa yg ada di hapan pak Rangga dan Jordan tak lama simon datang dengan mendorong stroller Rafayel dan Farel dan kedu anak itu rupanya sedang tidur, lalu seorang pelayan datang membawa kue dan teh serta kopi untuk mereka dan setelah itu tiara menyusul duduk bersama mereka.
__ADS_1
Pak Rangga tersenyum "Maaf rumah kami tak terlaku besar." Windi yg mendengar hal itu menggeleng "Gak kok pak, ini udah gedek kok justru ini besar menurut windi. Dan maaf kami baru bisa hadirnya siang hari karna anak anak sedang rewel karna demam jadi di tidurkan dulu baru kesini ." Pak Rangga terlihat senang dengan perkataan windi karna wanita itu begitu sopan "Oh baguslah jika kalian suka, dan jika saya tak masalah jika nak abraham dan nak Windi datangnya siang hari karna saya juga dapat info dari anak saya kalok bapak ibuk sedang demam." Windi tersenyum berbeda dengan Abraham ia terlihat tidak berbicara karna sudah alam tak bertemu dengan rangga dan setelah kejadian ayahnya menikah den ibu tirinya seketika ia sudah tak pernah bertemu atau melihat dan bahkan berbicara seperti ini lagi dengan pak Rangga,Pak Rangga menolah pada Abraham "Bagai mana dengan bisnis mu apa berjakan dengan baik." Abraham mengangguk "Ya.." sedangkan pak Rangga terliht bahagia "Tak ku sangka di usia muda mu kamu sudah bisa membangun bisnis yg besar dan bahkan hanya hitungan berapa tahun bisnis mu juga semakin besar." Abraham hanya tersenyum dan jordan sadar jika Abraham pasti belum terbiasa berbiara dengan ayahnya karna sudah lama tidak bertemu jadi ia pun mencairkan suasan "Aku dengar sekarang anak mu sudah berusia 5 bulan padahal pada saat bertemu pertama kali mereka masih berusia 1 bulan, memang pertumbuhan seorang anak itu memang gak terasa ." Abraham menjawabnya "ya, aku juga merasa seperti itu padahal berap bulan yg lalu istri ku baru melahirkan mereka dan waktu itu mereka hanya bisa berbaring dan sekarang sudah mulai besar dan bahkan sudah bisa menelungkupkan tuhnya dan mengangkat kepala."
__ADS_1
Dan mereka pun mulai berbicara dan sesekali Rangga juga ikut berbicara dan suasana seketika cair yg awalnya abraham tau mau menjawab pak rangga dan sekarang kini ia mau menjawabnya dan mereka juga sesekali tertawa karna pembicaraan mereka sedangkan ketiak Farel dan Rafayel terbangun Tiara mengantar Windi ke kamar mereka untuk menyusu mereka di sana dan sekalian untuk berbicara di sana karna jika bersama tiga peria itu pembicaraan mere tidak nyambung, di dalam kamar Rahel menyusu kedua anaknya dan tiara pun membuka pembicaraan "Win aku baca di artikel berita kamu baru saja mengalami keguguran yah, apa itu benar??" Windi yg mendengar hal itu mengangguk dan tiara kembali berbicara "Aku turut sedih ketika membaca artikelnya, tak papa jika memang di takdirkan untuk punya anak lagi mungkin di dalam waktu dekat ini kamu akan hamil lagi." Windi tersentum padanya "Ya, aju juga harapnya begitu. Waktu jors kecil dia pernah demam karna giginya mau tumbuh gak?? ."
__ADS_1
Tiara kembali berbicara "Kenapa kamu gak ke rumah sakit aja dan malah bertanya pada ku." Windi menjawabnya "Kalok ke rumah sakit aku takutnya anak ku nanti malah di infus karna demam panasnya,aku tak tega melihat anak ku sampai di infus ." Tiara dapat mengerti apa yg di rasakan windi "Ya kamu benar, dulu juga kalok jors lagi sakit apa lagi sampai di infus rasanya kasihan dan gak tega rasanya kalok bisa aku aja yg gantikan untuk di infus aku mau." Windi mengangguk "Aku awal awal takut gini pas aku di amrika kan waktu itu kalok mau ke ruangan dokter anak anak kan aku gak sengaja ngeiat sebuah kamar yg pintunya sedikit terbukan dan aku gak sengaja ngeliat di dalam seorang bayi baru usia 6-7 bulan dan dia terlihat memakai selang untuk bernafas dan di juga di pasangkan infus, waktu itu aku tanya dokter katanya anak itu mengalami penyakit langka yg membuatnya tak bisa seperti bayi pada umumnya dan umurnya juga hanya singkat, dan karna itu aku takut jika anak ku di pasangkan infus, aku teringat perkatan dokter itu mengenai anak yg usianya tinggal sebentar lagi itu dan aku takut hal itu terjadi pada anak ku." Tiara menjawabnya "Ya itu yg pailing di takuti orang tua, tapi kita harus tetap positif thinking kalok mereka pasti akan sembuh ." Windi mengangguk "Kau benar.".
__ADS_1
Bersambung.....
__ADS_1