Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 148.Lokasi terakhir


__ADS_3

Pada pukul 8 malam hujan turun begitu deras dan Windi terlihat gelisah di rumahnya ia ingin sekali menelfon suaminya lagi "Apa tak papa aku menelfonya lagi??" Windi sudah tak tahan ia kembali menyalakan hpnya karna ia belum mencabut SIM Card tersebut dan hanya mematikan hpnya ia terkejut ketika melihat panggilan dari Simon "Kenapa ia menelfon ku apa dia mencoba melacak ku." Windi mematikan hpnya lagi "Bagaimana aku ini, aku harus meminta saran pada Maria , apakah aku harus kembali apa kah lebih baik tetap melarikan diri." Windi segera keluar dan ia bertemu Suami maria yg baru dari luar "Apakah ada maria di rumah??" Peria mengguk lalu memberi tau Windi "Apkah kamu sudah tau, tadi sebelum hujan ada seorang yg melewati taman dekat Rumah dan menemukan seorang peria yg tergeletak bersibah darah." windi yg mendengar itu terkejut "Sekarang bagia mana orangya "Peria itu menjawab "Saya dengar dia di larikan ke rumah sakit dan polisi sedang menyelidi kasus ini, pada korban juga tidak di temukan idetitas sepertinya barangnya di curi."


Entak kenapa windi di buat penasaran dengan gambaran peria itu "Bagia mana ciri-cirinya saya jadi penasaran." Peria itu menjawab "Dia tinggi, orang Asia, Rambunya sedikit gondrong.." tiba-tiba terlintas di pikiran Windi mengenai Simon "Di tangan kirinya terdapt gelang berwarna hitam dan ia memakai kalung bertulisan S bewarna silver dan ia memiliki kumis tipis." Peria itu  terkejut karna windi dapat medebak ciri-cirinya "Itu kamu tau..." Windi terdiam "Di rumah sakit mana ia di larikan??" Peria itu menjawan di rumah sakit xxxx, windi yg mendengar hal itu lantas panik "Aku ingin melihatnya sebentar,semoga saja dia bukan orang yg aku kenal." Peria itu juga menjadi ikutan panik "Aku akan mengantar mu." Mereka segera pergi menuju lift dan turn ke lantai dasar pada saat pintu lift terbuka mereka berjalan tergesah-gesah keluar dari gedung apartemen dan di luar masih hujan untuk Suami Maria masih membawa payunya jadi mereka memakai payung berjalan ke parkiran dan menggunakan mobinya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama sekitar 15 menit ahirnya mereka sampai di rumah sakit tersebut dan langsung mencari keberadaan orang yg mereka cari, sayangnya ketika sudah ketemu tempatnya mereka di minta untuk menunggu karna peria itu masih di ruang oprasi karna luka yg ia dapat sangat banyak hingga kondisinya sangat parah , mereka menunggu di kursi tunggu di luar dan pada pukul 11 malam akhinya mereka keluar dari ruang poprasi jadi Windi bisa melihat orang yg cari itu, seketika ia menutup mulutnya lalu mengikuti suster tadi yg membawa Simon ke ruangan rawat di sana ia menangis ketika melihat kondisi Simon yg terlihat begitu mengenaskan dan windi baru bisa berhenti menagis ketika peria itu sudah sadar namun ketika simon melirik pada Windi ia sama sekali tak mengenalnya namun suaranya menggingatkanya pada nonanya "Anda siapa, kenapa suara anda..." windi begitu sedih lalu memegang tangan simon "Apa kamu masih merasa sakit?" Simon tidak menjawabnya ia masih bingung siapa yg ada di hadapanya "Anda siapa..." Windi melepas kacamatanya "Apa kamu sudah mengenal ku??" Simon masih belum mengenalnya "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya." windi menjawabnya "Ini aku windi, simon.." seketika ia berusaha bangit dari baringnya namun karan masih sakit ia kembali jatuh "Jangan memaksakan diri mu simon, berbaring saja dan istirahatlah."


Sumai Maria memanggil windi dan gadis itu menghampirinya "Aku pulang dulu, aku hawatir Maria akan mencari ku." Windi mengangguk "Terima kasih bantuanya, titipkan salam ku untuk Maria dan sikecil." Peria itu mengangguk lalu segera pergi. Sedangkan windi meminta simon untuk istirahat dan ia menelfon Abraham di luar kamar, dan seperti baiasa peria itu langsung menjawabnya "Halo sayang ada apa..." Windi menjawabnya "Bisakah kamu Suruh Roy datang ke sini bersama kami??" Abarham yg sedang istirahat di kantornya, ia di buat binggung tidak bisanya istrinya mencari Roy "Emang ada masalah apa sayang??" Windi ragu-ragu menjawab sebenarnya ia masih ingin bersembunyi tapi ia hawatir oara oenjahat itu melacak keberadaanya melalui ponselnya simon yg dirampas "Mereka ada di sini.." Abraham tidak mengerti dengan jawaban istrinya "Meraka siapa??" Windi menjawabnya "Mereka yg menyerang rumah kita dan kali ini yg di seranag Adalah Simon." Abraham yg mendengar hal itu di buat terkejut, tak berselang lama Roy datang dan mengabarkan bawa Eli di larikan di rumah sakit karna luka tusuk ketika ia mencmcoaba melindungi Mariam di rumah mereka, Windi bisa mendengar suraa Roy dari dalam hp ia juga di buat terkejut karna mendengarnya Sontak Abraham mulai hawatir pada Istrinya "Sayang sekarang bagai mana dengan mu, apa kamu terluka??" Abraham terdengar sangat hawatir dan Windi berusaha menenangkanya "Tenang saja aku baik-baik saja, sementara ini mereka takan mengenali ku dan tentang keberadaan ku saat ini aku mungkin akan aman karna ada bolisi yg sering ke rumah sakit tempat simon di larikan."

__ADS_1


Tiba tiba terdengar seorang wanita yg tak asing baginya "Win apa kamu masih di rumah sakit??" Windi memeriksa terlebih dahulu nama kontak wanita tersebut "Hah, Maria.."lalu Windi menjawabnya "Iya ada apa maria??"Maria menjawab "Aku harap kamu jangan pulang dulu, tadi pagi pada saat aku akan membuang sampah aku melihat Apartemen mu terbuka dan di dalam ada berapa peria bersenjata yg memembongkar barang-barang mu." Windi terkejut mendengar hal itu "Lalau bagai mana dengan kalian??" Ia menjawab "Kami berhasil keluar dan melapor polisi, tapi sudah lama para polisi itu masuk dan belum keluar juga dan para polisi lain mulai berdatangan."Windi yg mendengar hal itu menjadi hawatir, ia takut bagai mana merka nanti tau keberadaanya, walau pun mungkin akan sulit mereka mengenalinya namun Simon kemungkinan sangat mudah di kenali, windi memeriksa di luar kamar para polisi itu sudah tak ada dan Windi sudah bisa menebak "Mereka pasti pergi ke rumahku." karna jarak dari rumah sakit ke rumahnya begitu dekat, Windi kembali masuk lalu membangunkan Simon "Simon bangun..." simon membuka matanya "Ada apa nona??"windi mencoba menyenderkanya ke  diding "Apa kamu bisa bergerak??" Simon mencoba mengerakan tubuhnya "Bisa nona, memang kenapa nona??" Windi terlihat panik "Kamu lepas infus mu kita harus pergi dari rumah sakit ini." Simon yg mendengar hal itu lantas terkejut "Apa mereka ada di sini??".


"Mereka memang tak ada di sini, tapi mereka melacak keberadaan ku aku takut mereka akan kesi karna aku baru saja mendapat kabar dari tetangga rumah ku kalau mereka mencari ku ke apartemen dan mereka juga membawa senjata." Simon yg mendengar hal itu langsung melepas infunya "Kalaok gitu ayo kita pergi." Karna Simon belum bisa berjalam dengan baik jadi Windi membantunya masuk ke dalam lift dan mereka menuju ke parkiran, ketika mereka di parkiran kali ini mereka berjalan ke luar dari sana sebenarnya windi sudah tak sangup lagi mengangkat tubuh simon yg berat namun ia memaksakan diri lalu menghentik Taxi yg kebetulan lewat di sana mereka naik dan Taxi pada saat mereka sudah pergi baru sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah sakit tersebut lalu seorang pria turun dengan berberapa rekanya "Di sini lokasi terakhir Telfon istri Abraham putra Aktif, sekarang kalian cari dia di dalam dan bawa di hidup-hidup." Para anak buahnya tadi pun langsung pergi "Windi aku takan membiarkan kamu hidup bahgia aku akan membuat mu tersiksa."terlihat wajah Rudi yg penuh dengan Amarah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2