
Besoknya mariam pergi membawa felix dan Farel jalan jalan dan mereka juga di jaga ketat sedangkan yg di rumah sakit hanya Abraham dan istrinya, windi menatap kosong ke depanya ia melihat cuaca sangat terang hari ini sedangkan Abraham yg melihat istrinya seperti tak biasanya, hingga Windi turun dari tempat tidurnya lalu mendekat pada kaca lalu ia membuka gorden lebih besar sedangkan abraham yg melihat hal itu lantas segera mematikan leptopnya setelah itu ia menghampirinya, windi memegang kaca dan ia melihat pemandangan di luar kaca lalu Abraham memeluknya dari belakang dan ia pun mencium puncak kepala istrinya "Ada apa sayang??" Windi berbicara dengan bibir yg gemetar perlahan air matanya mengalir dari sudut matanya "Aku rindu mama dan papa.."abraham yg mendengar hal itu semakin mempererat pelukanya dan pandanganya ke arah apa yg istrinya lihat di luar rupanya ada seorang gadis remaja yg berjalan beriringan bersama Ayah dan ibunya "Aku rindu mama dan papa...hik." abraham membalikkan tubuh istrinya lalu memeluknya "Tenang lah, mereka sudah tenang di sana." Windi menangis di dalam pelukanya entah kenapa ketika merasakan perhatian dari mariam dan julius padanya membuatnya teringat sosok ayam dan ibunya yg selalu memperlakukanya dengan baik dari kecil sampai ia SMA yg di mana perlahan ia kehilangan sosok seorang ayah karna sakit dan untungnya ibunya masih ada tapi kondisinya sudah sakit parah dan satu hal yg membuat Windi syukuri adalah ibunya itu masih bisa melihat windi menikah berapa bulan sebelum ia meninggal.
__ADS_1
Tangis windi semakin kencang di dalam pelukanya dan peria itu hanya bisa menenangkanya "Tenanglah, sehabis masalah di sini selesai kita pulang, dan menjenguk mereka." Abraham perlahan melepas pelukanya lalu menghapus air mata istrinya "Sudahlah jangan menangis seperti ini lagi, mereka pasti juga tak mau melihat mu menangis begini." Windi menjawabnya dengan suara tangis yg tak henti "Mama dan papa gak aka marah sama windi kan..hik,mama dan papa gak akan membenci windi kan..hik." Abraham tersenyum "Tak mungkin mereka marah atau membenci satu satunya putri mereka yg cantik dan baik ini." Abraham terus menghapus air mata istrinya sedangkan wanita itu mulai menutupi matanya dengan sikutnya "Bagia mana dengan mu, apa kah kau akan selalu ada bersama ku..hik."abraham mencium kening istrinya "Aku aku akan selalu bersama mu hingga akhir hidup ku jadi jangan berpikir jika kamu sendiri karna aku aku ada bersama mu, oke."windi mengangguk lalu kembali memeluk Abraham, ia bersyukur memiliki suami yg sudah dewasa fisik maupun mental, jadi ketika windi sedang dalam keadaan sedih seperti ini ada yg bisa menengkanya dan menguatkannya, windi sebarnya dulu mulai luluh pada seorang abraham ketika ia tau kalok peria itu sudah dewasa bukan hanya fisik tapi mentalnya dan bahkan ia juga pernah ada di posisinya tapi dia sudah melewati fase itu sehinga tau apa yg di rasakan windi saat ini.
__ADS_1
Setelah cukup lama akhinya windi kembali tenag lalu ia kembali ke tempat tidurnya dan suaminya duduk di sebelahnya dan tak lama juga seorang perawat datang membawakan makanan untuk mereka, setelah kepergian perawat itu mereka pun mulai makan dan menu sarapan pagi ini ada nasik, kuah yg berisi sayur sayuran, serta ayam dan berberapa buah, Abraham tersenyum "Makanlah kamu harus cepat memulihkan tenaga mu agar nanti bisa lagi bermain bersam anak anak."windi mengangguk dan ia mulai memakan makanannya, namun kali ini makanannya mungkin tidak buruk seperti sebelumnya jadi windi begitu lahap dalam memakan makanannya, abraham senang istrinya suka "Enak??" Windi mengangguk lalu tersenyum pada suaminya abraham sangat senang istrinya suka dengan makananya, lalu ia membelai kepala windi "Baguslah." Lalu ia pun ikut makan, windi membuka pembicaraan "Mama mau bawa anak anak ke mana katanya tadi??" Abraham menjawabnya "Katanya mau di bawa berjalan jalan ke mal, tadi aku sudah menyuruh Jeri menjaga mereka bersama anak buahnya." Windi mengangguk mengerti. Karna kebetulan abraham hanya makan dengan satu tanganya jadi tanganya satunya hannya menganggur begitu juga dengan windi dan wanita itu memanfaatkan momen itu untuk diam-diam meraih tangan suaminya dan mengaitkan tangan mereka namun ia sama sekali tak mau menoleh pada suaminya dan pura pura fokus makan.
__ADS_1
Setelah mereka makan baru Roy masuk dan menyerahkan laporan mengenai kasus tadi, di dalam laporan itu Selena mengatakan jika ia bertemu kevin di sebuah tempat dan polisi pun memeriksa CCTV tempat dan tak ada sama sekali orang yg selena sebut, abraham menoleh pada Roy "Apa jeri sudah memeriksa CCTV tempat itu??" Roy mengangguk "Semalam ia sudah periksa tapi motifnya tetap sama jadi ada berapa part yg di hapus, sepertinya merek begitu pandai dalam menyembunyikan jejak mereka." Abraham terlihat sedikit kecewa karna tak berhasil mendapat bukti jika Kevin terlibat dalam kasus ini. Di tempat lain seorang wanita di bawa ke sebuah tempat kosong dan kepalanya di tutup oleh kain hitam jadi pada saat kain hitam itu di buka terlihatlah tali yg sudah di ikat di sebuh pohon dan di sekitarnya banyak orang bermasker dan berpakian hitam memegang sen*ata dan di hadapnnya terdapat sebuah bangku, tak lama terdengar seorang peria berbicara "Kamu di beri kesempatan untuk ma*i dengan gan*ung diri dan ja*atmu akan di temukan orang dan kemungkinan akan di kuburkan, atau kamu mau ma*i dengan cara kami ceburkan ke kolam buaya peliharaan tuan kami?." Wanita itu menelan ludahnya dengan susah dan ia memilih menaiki bangku itu dan mema*ukan le*ernya setelah itu ia mel*mpat dari bangku dan le*ernya lan*sung ter*antung dan yg ia mulai merasakan sakit yg begitu besar ketika ia mulai kesulitan bernafas dan perlahan pandangannya mulai kabur dan ia berguma untuk terakhir kalinya 'Maaf kana aku nona, aku melakuan dosa besar setelah mempercayai perkatan peria jahat itu.' matanya perlahan tertutup dan ia kenghembuskan nafas terakhirnya tergantung di pohon itu.
__ADS_1
Bersambung...
__ADS_1