
Roy dan jesi pergi bermain lari-larian di pantai jesi terlihat atusias dan mereka terlihat bahagia menurut satpam yg mengantar mario mereka sangat serasi namun berbeda dengan peria paruh baya itu yg malah kesal melihat mereka ia terus berguma dalam hati 'Awas saja kamu melukai putri ku roy aku akan memotong tangan mu itu.' Sedangkan di pantai jesi terlihat bahagia ketika bermain lari-larian bersama Roy apa lagi tempat yg mereka pililih itu sunyi dan mereka bisa melakukan apa pun yg ingin mereka lakukan seperti berlari, berpelukan dan cuhat dengan apa yg terjadi selama sepekan ini secara langsung tanpa ada orang yg mengawasi sepertia ayahnya yg akan ada di tengah-tengah mereka ketika sedang berdua.
Karna sudah lelah berlari mereka memutuskan untuk istirahat sedangkan Jesi mulai merasa haus "Di sini masih ada gak toko yg buka, aku haus.." Roy yg mendengar hal itu langsung bangkit dari duduknya "Aku tadi sudah membeli berberapa makanan saat kerumah mu, jadi kamu tunggu sebentar." Roy segera ke mobilnya lalu membuka pintu belakang dan mengambil berapa bungkus makanan lalu ia kembali pada jesi dan duduk di sampingnya ia meletakan bungkus makanan tadi ke belakangnya lalu ia mengambil sebuah botol minuman pada jesi "Ini minumnya.." jesi menerimanya lalu langsung membuka minuamnya sedangkan Roy kembali mengambil berberapa makanan dalam bungkusan tadi dan Jesi yg melihat makanan tadi begitu senang karna itu makanan kesukanya "Yee moci.." jesi mengambil satu moci tadi lalu memakanya ia terlihat sangat senang ketika memakanya "Apa kamu membeli di tempat biasa??" Roy mengangguk dan jesi segera menghabiskan makanannya yg ada di tanganya tadi tak lama roy mengeluarkan satu makanan lagi dan jesi yg melihat makanan itu kembali senang "Sekarang takoyaki." Jesi kembali mengambil satu dan memakanya "Wah enak banget, padahal aku sedang diet tapi gak mungkin aku menolak makanan seenak ini." Roy tersenyum melihat pipi Jesi yg membesar karna melutnya penuh dengan makanan dan tiba tiba Roy mencium pipinya sontak wanita itu terkejut lalu menutup mulutnya ia menolah pada Roy.
__ADS_1
"Kakak, ini bikin jesi terkejut aja." Roy terlihat tersenyum dan senyuman Roy membuat jesi menjadi ikut tersenyum melihatnya sedangkan dari jauh mario sudah sangat gerah ia segera turun dari mobil lalu menghampiri mereka, karna mereka menatap satu sama lain jadi mata mereka saling bertemu dan ada sebuh getar yg tiba tiba mendekatkan merela dan pada saat bibir itu akan menyentuh terdengar suara terikan dari belakang yg meneriaki Roy "Hey kamu penculik, kembalikan putri ku." Roy menoleh kebelakang sontak ia terkejut lalu segera bangkit berdiri "Eh bapak mertua." Roy terlihat sangat takut dan berusaha berpikir apa yg akan ia katakan pada mertuanya itu, belum sempat ia berbicara Mario sudah menjewer telinganya seperti anak kecil.
"Dasar anak barandalan, sudah ku katakan jima kamu ingin membawa putrinya setidaknya minta izin dulu, bagai mana jika terjadi sesuatu di jalan, apa kamu lupa berapa minggu lagi kalian akan menikah." Roy yg kesakitan langsung minta maaf "Maaf kan aku, aku berjaji takan mengulanginya lagi. Lain kali aku akan meminta izin pada anda." Mario pun segera melepas tarikan telinganya lalu menghampiri putrainya yg sedang duduk "Apa kamu terluka anak ku." Mario memeriksa wajah putrainya dan tangannaya, ia cukup lega putrinya tidak papa "Untung saja kamu tidak papa, Bapak jadi tenang." Jesi menunduk ia terlihat merasa bersalah karna pergi tanpa memberitau ayahnya "Bapak, maafin jesi yah. Jesi pergi gak beritau bapak jesi janji jesi gak akan mengulanginya lagi." Mario senang putrainya langsung mengakui kesalahnya "Udah gak usah di bahas lagi, kamu baik-baik saja sudah cukup untuk bapak lain kalai jangan mengulanginya lagi yah." Jesi mengangguk lalu mario pun memeluknya sedangkan Roy terus memegang telinganya yg kesakitan karna di jepit telinganya oleh mario tadi,setelah itu mario duduk di samping putrinya "Sekarang apa yg akan kita lakukan??" Jesi terdiam lalu menatap papanya "Apa bapak gak menyurih jesi untuk pulang."
__ADS_1
Mario tertawa mendengar perkataan putrinya sedakan Roy dan Jesi langsung memandang satu sama lain, setelah cukup lama tertawa akhirnya ia mulai menjelasakan "Bapak mu ini sudah jauh jauh ke marai sama tatpam kita masak gak menikmati tempat ini, lagi pula apa yg harus bapak mu ini hawatirkan lagi orang kamu gak luka apa-apa dan bapak mu ini bisa langsung memantau mu dari dekat jadi nikmati saja." Roy yg mendengar hal itu jadi tenang lalu ia berjalan menghampiri mereka lalu duduk di samping Jesi "Eh.. kok kamu duduk di sana, di sebelah saya seperti biasa dok. Saya gak mau tangan mu yg kegatalan itu akan melakukan hal enggak-enggak pada putri saya jika duduk bersampingan." Roy menghela napas pelan tidak di siang hari atau pun malam hari jika mereka bertemu Roy selalu saja di samping Mario jadi kelihatanya ia bukanya berpacaran dengan Jesi, ia malah lebih terlihat seperti pacar bapknya apa-apa duduk berdua yg membuat Roy kurang suka namun karna yg meminta adalah bapak mertuanya ia bisa apa. Roy bangkit berdiri lalu berjalan ke arah mario lalu duduk di sampingnya.
Sedangkan Mraio sadar dengan tatapan Roy lalu menolah padanya "Ada apa dengan kamu, apa kamu gak suka mertua mu ini datang." Roy berusaha tersenyum lalu menjawab"Enggak kok pak, saya justru senang bapak mertua ada di sini." Mario tersenyum mendengar jawaban Roy.
__ADS_1
Tiba-tiba Jesi kepengen mereka berfoto namun ia baru ingat hpnya yg di tinggal di mobil "Kak Roy, bisa pinjam kuci mobil dulu, soalnya hp jesi ketinggalan di mobil." Roy langsung memberikan kunci mobilnya "Sekalain hp ku juga." Jesi mengangguk lalu segera pergi. Setelah kepergian jesi mario mulai serius dan berbicara pada Roy "Tak terasa waktu berganti, dan usia ku sudah bertambah tua sedangkan putri kecil ku itu kini sudah menjadi seorang yg dewasa dan bahkan hanya dalam hitungan tiga minggu lagi ia akan menjadi seorang istri." Roy yg mendengar perkataan Mario terdiam ia mendengar dengan seksama apa yg ingin peria paruh baya itu katakan "Sebenarnya sangat sulit untuk seorang ayah melepaskan putrinya dengan peria laian namun dia sudah dewasa dan sudah saatnya ia memiliki pasangan lalu membangun keluarga, suatu saat jika kamu memiliki seorang anak perempuan kamu akan merasakan apa yg aku raskan, mungkin sekarang kamu menganggap aku aneh karna selalu ada ketika putrinya sedang berdua dengan kekasihnya tapi sebeanarnya aku hanya takut kehilanganya, seorang anak laki laki mungkin akan tetap bersama orang tuanya di rumah sedangkan untuk anak perempuanya setelah mereka menikah mereka akan nengikuti suami kereka." Mario terlihat sangat sedih ketika mengatakan hal itu , tak lama jesi datang membawa hapnya bersama satpam mereka yg sengaja ia pangil di mobil ayahnya untuk memfotokan mereka bertiga.
Bersambung....
__ADS_1