Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 142. Mengepung


__ADS_3

Kini Abraham dan yg lainya sedang bersiap siap untuk mengepung markas Elang Perak mereka memakai rompi anti peluri,selain membawa sejata api mereka juga membawa,peledak, gas tidur dll. Jeri terus memeriksa persenjataan mereka dan baru ia sadar bahwa Mario tak ada ia diam-diam mendekat pada Zefano "No, komandan kita mana??" Zefano  hanya menjawab "Gak tau, coba aja tanya Roy atau bukan boss." Zefano kembali memeriksa anak muritnya yg sudah di beri tugas masing-masing, Jeri kembali mendekat pada Roy "Roy.." dan peria itu hanya menjawabnya dendan suara santai "Apa..." Jeri kembali menjawab "Diamana komandan Mario??" Roy yg tadinya sedang memasang peluru pada pistolnya  perlahan menggangakat kepalanyanya sebenatar lalu melihat sekelingnya "Mungkin dia sudah pergi dulu...." Roy segera menaruh pistolnya lalu bangit berdiri "Ayo kita berkempul, sepertinya tuan sudah menunggu kita" Roy berlari menghampiri tuanya yg tengah duduk di atas kotak kayu, seadngkan Jeri yg masih belum puas dengan jawaban Roy tadi berjalan perlahan mengikutinya dari belakang tanpa sadar senapanya ketingalan.


Seluruh anggota Abraham berbaris dan Zefano sedikit mengingatkan mereka akan tugas-tugas mereka "Ingat sebelum ada suara tembakan kalian jangan sekali-kali keluar, untuk tim 1 akan ikut dengan ku  ketika sudah terdengar satu suara tembakan tim 2 masauk dan untuk sisanya ikut bersama tuan dan nanati jika ada lebih banyak suara tembakan itu artinya musuh sudah mulai bergerak." Mereka mengguk mengerti. Lalau mereka pun mulai berangkat, ada yg pergi mengunakan mobil dan ada juga dari hutan dan berjalan sampai markas Elang perak. Mereka yg bergerak diluan adalah grup Zefano mereka bertugas mengalihkan perhatian dengan mengerakan ilalng dan dua penjaga di luar itu mendengar dan padangan mereka menatap satu sama lain  mereka perlahan mendekat pada suara, pada saat mereka memeriksa ilalang tadi namun tak ada yg aneh sama sekali "Sepertinya itu suara angin kawan..." tiba-tiba mulut mereka di tutup dari belakang dan bagian badan mereka yg hanya di tutupi baju langsung di tempelkan senjata kejut listik hinga membuat dua orang itu pingsan.


Zefano langsung memberi kode kepada anak buahnya "C1, G1,K1 segera masuk." Mereka mengendap-endap masuk dari pintu utama, tak lama kemudian mereka mencari ruangan yg menjadi tempat peristirahatan para anak buah Elang perak, tak lama kemudian Zefano mendapat kode dari mereka bertiba hawa mereka sudah mendapat ruang peristirahatan anak buahnya Robi sedangkan Zefano yg ada di luar dengan dua anakuahnya langsung membidik kabel listrik lalu melepaskam dua tembakan. Para angota Elang perak yg mendengar hal itu langsung bangit dari barinyanya "Suara apa itu..." belum sempat mereka pergi para anggota Zefano yg sudah siap dengan masker oksigen mereka melempar 4 botol yg berisi gas tidur ke dalam, karna gelap mereka tak menyadari itu sedangkan angota Abraham langsung keluar dari gedung tersebuat dan menghampir komandanya "Sudah komandan Zefano." Peria itu mengguk "Tenag saja Kelompok dua sudah bersiap di tempatnya dan aku baru mendapat info dari Jeri bahwa pemimpin musuh baru saja keluar bersama berberapa angotanya dengan membawa teruk besar, jadi kita ikut bersembunyi bersama tim 2 saja dulu." Mereka mengangguk lalu segera bersembunyi begitu juga dengan Zefano.

__ADS_1


Tim 2 di pimpin oleh Roy yg bersembunyi berasam tim 1 dan juga yg akan diluan menyerang sedangkan, Jeri dan Abraham serta 3 orang Bodyguardnya yg menyamar lalu dan diam-diam mengikuti Rudi dan Robi terlihat bersama sebagian anggota mereka untuk mengankut persedian senjata mereka yg sudah sampai di sebuah pelabuhan yg tak terpakai. Rudi dan Robi sudah merasa ada yg mengikuti mereka "Bos sepertinya ada yg mengikuti kita dari belakang." Robi terlihat sudah memasang peluru pada pistolnya "Aku tau itu, hentikan mobilnya..." mobil mereka berhenti dan tanpa di ketauhi oleh Jeri ia terus melajukan mobilnya ketika mobil Robi sudah terlihat dan peria itu sudah menondongkan pistolnya Jeri di buat terkejut lalu langsung menginjak Rem "Sial mereka menyadari keberadaan kita..." peria itu langsung mengeluarkan temabakan bertubi tubi ke dalam mobil dan di situ Abraham dan Jeri berhasil selamat namun anak buhnya yg ikut bersama mereka tidak, peria itu terus menbakan pistonya ke mobil Abraham hinga kaca mobil itu pecah dan pecahan kacanya mengenai kepala Jeri sedikit namun sudah membuat kepalnya berdarah.


Robi mengganti pelurunya lalu memasangkan peredam  sedangkan Rudi membawa senjata api M-16 lalau menbakan ke dalam mobil dan kali ini Jeri dan Abaraham juga berhasil keluar dari pintu samping "Tuan sepertinya kita tak bisa sembunyi lagi.." Abraham menatap jeri "Tunjukan hasil latih mu pada ku.." Jeri tersenyum lalu mengambil senjata api yg ia sempat ambil karna pada saat meteka di tembak ia sempat memeriksa senjata api di pungungnya namun ia baru ingat pada saat ia mencari keberadaan Mario barusan ia lupa membawa senjatanya dan tertinggal di markas jadi ia mengambil senjata milik orang yg ada di sampinya tadi "Bagai mana dengan tuan??" Abraham menatap Jeremi "Aku hanya membawa pistol." Terdengar suara tembakan yg bertubi tubi dari arah depan "Gila, di dalam senjata ini hany ada 50 butir peluru." Abraham menjawab "Aku akan alihkan pandangan mereka, kamu tembak mereka."  Abraham pun berjalan pelan-pelan ke belakang mobil lalu menembak-nembak mencoba mengalihkan pandangan mereka dan benar saja pandangan mereka teralihkan, Rudi mengalihkan tembakanya lalu fokus menembak di tempat Abraham berada karna tempat sebunya itu kurang baik Abraham tertembak sekali di bagian lengnya dan pada saat pelurunya sudah habis Jeri mengambil kesempatan menembak dan Robi yg baru menyadari keberadaan Jeri langsung menarik lengan Rudi dan menjatuhkan tubuh mereka ke samping namun kali ini malah dia yg kena dua tembakan di bagian paha dan ia langsung membakas dengan menembakan ke tempat Jeri berembunyi namun peria itu dengan cepat kembali bersembunyi kembali.


Sedangkan Robi mencoba menelfon markas namun tak ada jawaban "Sialan aku harus turun tangan, apa boleh baut akan akan mati menyedihkan seperti adik bodoh itu." Robi menusuk bagian kakainya dengan tangan dan berusaha mengeluarkan peluru tersebut dari kakinya ia berapa kali berterika kesakitan namun ia tak menyerah hingga peluru itu keluar . Ia keluar dari mobil lalu menghampiri Rudi dan menghentikanya "Berhenti.." peria itu berhenti menabrak "Abaraham keluarlah, mari kita bertarung seperti Peria, kami akan membuang senjata kami..." Abraham terdiam ketika mendengar suara Robi dan juga merasa tertantang ia bangkit dari persebunya "Tuan Abraham...." Robi tersenyum lalu melmpar pistolnya ke tebing curam, saat ini mereka berada di sebuah jalan yg berada di atas gunung tinggi yg menjadi jalan yg sering di lalui oleh para penjual barang terlarang dan senajata api ilegal agar barang yg mereka terhindar dari Razia polisi. Robi berbicara dengan suara kecil "Rudi kamu jagalah pak tua pemarah itu, urusan Abraham aku yg akan urus ini adalah masalah yg harus ku selesaikan hanya dengan dia, dan juga jangan birkan mereka sampi buka mulut bunuh saja mereka."

__ADS_1


Rudi tak ingin meninggalkan tuanya "Tapi tuan..." Robi berbicara dengan nada besar "Pergi sekarang, ini tugas terakhir yg aku berikan untuk mu...."Rudi dengan berat hati untuk meninggalkan tuanya namun ia adalah perintah ia terpakas pergi dan langsung menaiki mobil dan menjalankanya, Abraham yg melihat hal itu tersenyum "Jeri bangulah dan buang senjata mu." Jeri terkejut namun ia tak kau membuanya sama sekali dan tuanya berjalan menghampiri Robi "Mari kita bertarung..." Jeri bangkit dari persembunyianya, sedangkan Robi sudah bersiap siap dengan kuda-kudanya begitu juga dengan Abraham tak lama kemudian dua orang itu bertarung namun tanpa Abraham sadari Robi masih memiliki pisau yg ada di saku celanya ketika sudah berkelai jarak dekat Baru ia mengeluarkan pisau tersebut lalu di tusuk ke perut Abraham, darah segar keluar dari perut abaraham sedangkan Jeri yg melihat hal itu langsung menodongkan senjata apinya Rboi tersenyum "Selamat tinghal Abraham." Robi melepas tanya lalu memundurkantuhnya lalu molompat ke tembing yag ada di belaknya namun belum ia jatuh Abraham langsung menangkap tanya peria itu yg awalnya menutup matanya kini di buka lebar "Aku takan membiarkan kamu mati begitu saja, kamu harus pertanggungkan kesalahan mu itu dulu."


Karna tubuh Robi yg kekar membuat Abraham sangat sulit untuk menarinya ke atas lagi apa lagi jika ia berusaha maka perutnya akan mengeluarkan darah lebih banyak apa lagi pisau itu masih tertancap di tubunya namun ia yakin pasti bisa karan ada Jeri yg akan membantunya"Bodoh, aku lebih baik mati dari pada membeberkan rahasia kami. Dan jika aku di berikan kesempatan hidup di kehidupan selanjutnya aku mau menjadi orang baik dan menebus kesalahan ku di sana, lalu menikahi rengkarnasi istrimu." Robi tersenyum lalu melepas paksa tangan Abraham dan terjatuh dari tebing yg sangat tinggi tersebut "Abraham yg melihat hal itu menajadi kesal, karna jika Robi berhasil tertangkap hidup-hidup dia ingin membuatnya berlutut di kaki istrinya dan meminta maaf lalu menanyakan apa penyebab ia bisa teropsesi pada istrinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2