
Setelah penantian satu minggu akhirnya windi sudah boleh bertemu anaknya karna kondisinya sudah sangat sehat dan bahkan ia sudah boloh menyusui mereka lagi karna Windi pulih dengan begitu cepat, hari ini Windi berancana untuk menemani kedua anaknya berjemur, kini Abraham sedang mendorong Windi mengunakan kursi roda sedangkan Kedua bayi mungil itu berada di pangkuanya "Sayang aku bisa saja berjalan sendiri, kamu tak perlu repot-repot mendorong ku." Abraham tersenyum sambil terus mendorong windi ke dalam lift "Tak papa sayang, aku senang melakukan ini." Abraham pun menekan lantai dasar tak lama mereka turun sesampai di lantai dasar pintu lift pun terbuka lalu Abraham kendorong windi keluar dan pergi ke taman kecil yg ada di samping rumah sakit, mereka berhenti di dekat sebauh kursi taman lalu Abragam mengambil Alih Rafael lalu duduk di kursi taman tersebut.
Dua bayi itu tidur dengan tenang di pelukan kedua orang tua mereka walu terkena sinar mata hari pagi, windi pun membuka pembicaraan "Sayang, kapan kak Roy akn menikah nanti??" Abraham menjawabnya "Awal tahun depan ia akan menikah." Windi mengangguk mengerti "Ku kira dia akn menikah Desember nanti."Abraham menggelenggeleng "Soalnya ayah Jesi tak mau putrinya menikah terlalu cepat jadi ia menunda pernikahan tersebut." Tak lama terdengar suara hp Abraham bergetar namun pria ia sama sekali tak mau menjawabnya dan hpnya itu terus bergetar namun Abraham masih tak mau menjawabnya namun Windi yg sudah sangat kesal berbicara "Sayang siapa itu yg telfon, coba di jawab saja siapa tau penting." Abraham menatap Windi lalu mengelurkam hpnya yg memperlihatkan pangilan tersebut yg tak memiliki nama sama sekali "Apa kamu sudah lihat, orang ini tidak penting." sama sekali taka ada nama kontak yg tertera pada hp Abraham.
__ADS_1
"Coba kamu angkat siapa tau nomor anak buah mu yg baru??" Abraham menghela napas lalu menarik kembali hpnya lalu mencari pesan yg di kirimkan Wanita itu padanya dan memperlihatkan pada istrinya "Coba kamu lihat, orang yg menelfon itu orang gila dan sudah ribuan kali aku membelok nomornya dan ia masih saja bisa mengirim pesan, nanti setelah kita pulang dari rumah sakit aku akan segera menganti nomor kontak ku agar ia tak bisa lagi mengirim pesan ataupun menelfon ku."Abraham pun menarik lagi hpnya lalu mematinya, sedangkan Windi masih terdiam membaca chat yg wanita itu kirimkan karna terulis dari awal masih sangat normal namun di akhir mulai fulgar membuatnya tak habis pikir padahal ia sudah tau kalau Abraham sudah menikah tapi masih saja mengirim hal yg gak baik seperti itu.
Windi menatap suaminya "Apa kamu akan bertemu denganya??" Abraham menjawabnya "Untuk apa aku menemuinya orang aku sudah punya istri dan anak, lagi pula jika aku mau aku bisa melakukanya dengan mu tidak harus pergi ke wanita lain yg gak ada Untunganya hanya menambah rumor buruk ku saja." Setelah pembicaraan tersebut taka ada lagi pembicaraan yg ada hanya keheningan, pandangan Windi tiba-tiba tertuju pada latar belakang yg ada di belakang Abraham yg penuh dengan bunga "Sayang bagia mana kalok kita Berfoto." Abraham sedikit terkejut mendengarnya "Buat apa??" Windi menatap suaminya "Buat kenang-kenangan lah, dulu kan kita hanya berfoto berdua sekarang kita sudah berempat ." Abraham yg mendengar hal itu mengangguk lalu windi segera bagkit dari kursinya lalu duduk di samping suaminya "Lalau siapa yg akan kamu minta tolong untuk mengambil gambar??" ia Pun tersenyum "Kita gantian Foto dulu, pertama aku dan anak anak setelah itu kamu dan anak sehabis selesai kita berfoto satu persatu baru nanti kita Foto bersama." Abraham pun menurut lalu bangit dari duduknya lalu mulai mengabil gambar istrinya beserta kedua anaknya.
__ADS_1
Windi terlihat tak bersemangat dalam mengambil gambar dan berapa kali mengulang "Astaga sayang baik-baik dong Foto ya, masak aku baik-baik Fotonya waktu itu malah di balas main-main sama kamu." Windi menghela napas pelan "Iya-iya pak boss." Windi pun benar benar mengambil gambar dan ia dapat berberapa setelah selesai ia mengembalikan hp suaminya "Ini lihat sendiri hasailnya." Abraham melihat hasil Foto yg sangat bagus di hpnya "Kalok gitu kita Foto bersama sama lagi." Windi menjawab "Lalu siapa yg akan foto kan??" Abraham berpikir tak lama seorang peria lewat di hadapan mereka, Abraham langsung menghentikanya "Permisi tuan, bisakah anda mengambil foto untuk kami??" Peria asiang yg di pangil Abraham mengangguk lalu Abraham memberikan hpnya pada peria tadi, sedangkan Abraham mengambil posisi "Sayang ayo tersenyum di kamera.." Windi sebenarnya masih kesal namun ia harus bisa tersenyum agar hasil Fotonya bagus dan peria itu mengambil berberapa gambara "Suadah tuan." Abraham langsung menghampirinya lalu mengambil hpnya "Terima kasih." Abraham mengelurkan dompetnya lalu memberi berapa uang padanya "Untuk mu." Abraham pun kembali duduk sedangkan peria tadi terkejut karna uang yg di berikan Abraham adalah sejumlah 150 dolar Amerika.
Abraham kembali dan windi pun meliat hasil Gambar peria tadi bersama Abraham namun Windi terlihat masih gemuk gadis itu menatap perutanya "Apakah aku segemu itu, haruskah aku diet lagi." Abragam menatap istrinya lalu mencubit pipi cabinya "Sudah ku katakan, tak perlu mempermasalahkan hal itu lagi pula kamu tetap wanita paling cantik di mata ku." Windi menatap mata suaminya "Bagai mana nanti ada gadis cantik yg mendekati mu aku pasti akan tersayingi." Abraham dengan santai menjawabnya "Aku sayangnya cuman sama kamu dan tidak akan berpliang dengan wanita lain,aku lebih memilih buta agar tak bisa melihat wanita lagi agar kamu tetap di sisiku." Windi menatap suaminya ia dapat melihat keseriusan dari kata kata pria itu lalu ia kengalihkan padanya "Oke ku jaga perkataan mu, sekatrang ayo kita kembali sepertinya ini sudah cukup untuk anak-anak." Windi pun bangit dan menuju kursi rodanya sedangkan Abraham mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Bersambung......