
Mereka tidak jadi ke supermarket mereka memutuskan untuk segera pulang, Sesampai di rumah Abraham langsung mandi setelah itu ia segera tidur untuk menenangkan pikiranya sedangkan Windi yg melihat hal itu sengaja membiarkanya menengkan dirinya mungkin peristiwa di tempat makan cepat saji tadi sangat sulit untuk Abraham lupakan jadi Windi membiarkan dia untuk menengkan pikiranya ia Pun fokus mengurus kedua anaknya, waktu berlalu akhirnya Abraham terbangun dari tidurnya pada saat ia meraba raba sampinya ia tak menemukan orang yg ia cari sontak ia bangkit dari baringnya ia terkejut karan istrinya tak ada di sampinya pikiranya mulai hawatir ia turun dari ranjanganya lalu segera memeriksa kamar mandi dan tak ada orang sama sekai "Astaga win kamu di mana..." ia keluar dari kamar dan kebetulan sudah larut malam dan para pelayan sudah kembali pulang jadi tak ada yg bisa ia tanya , ia mulai mencari Windi di bagian dapur namun ia tak menemukanya sama sekali ia pun memutuskan untuk mencarainya ke tiap-tiap kamar dan pada akhirnya ia bisa bernapas dengan tenang ketika menemukan istrinya di kamar dua anaknya yg terlihat sedang menyusu sang kakak di kasur dan sang adik masik tidur dengan nyenyak di boxnya.
"Untung saja kamu ada di sini, aku tadi sangat hawatir ketika tau kamu tak ada di sampingku." Windi menatap Abraham "Lain kali kamu juga ingat kalok udah punya anak, aku gak mungkin lagi bisa tidur di sampingmu terus karan anak-anakĀ sering cerewet jadi aku memutuskan untuk tidur bersama mereka saja." Abraham menghela napas pelan lalu masuk dan duduk di pinggir ranjang ia terlihat sangat lelah ia pun melepas bajunya yg basah karna keringat bentuk tubuh Abraham masih kekar dan berotot namun di bagian perutnya terdapat bekas jahitan karna tertusuk pisau, setelah menyusui Farel windi pun mengembalikanya lagi ke dalam box setelah itu ia duduk di samping suaminya "Apa kamu mau mandi, nanti akau akan ambilkan pakian untuk mu nanti." Abraham menggeleng lalu memeluknya dari sampinga, di sisi lain Abraham ingin bercerita mengenai Orang yg membuat ia kesal namun di sisi lain ia takut menceritakanya apalagi jika ia tau tentang wanita itu pernah menghabiskan malam denganya tapi itu hanya masa lalu, windi pun mengelus rambut suaminya "Kok kamu manja gini sih, ada masalah apa coba cerita siapa tau aku bisa bantu mengatasinya." Abraham menggeleng ia pun melepas pelukanya lalu ia mencium pipi istrinya lalu turun ke lehar dan Windi yg merasa geli segera menutup mulut suaminya itu dengan tanganya "Astaga sayang itu sangat Geli." Abaham bukanya mendengar ia malah terus mencium tangan Windi dan gadis itu segera menarik tanganya "Sayang udah, entar kebabalasan ingat anak-anak baru aja tidur."
__ADS_1
Abraham dengan santai menjawab "Baguslah kalok anak-anak sudah tidur jadi bisa berdua saja tanpa gangguan." Windi menggeleng- gelegkan kepalanya "Tetap saja gak boleh, nanti suara ku akan membangunkam mereka." Abraham berpikir setelah itu sebuah ide muncul di pikiranya ia pun menelfon seseorang "Halo, bisa kamu ke sini sebenatar ada tugas penting untuk mu." Dan tak lama kemudian Telfon itu pun berakhir sedangkan Windi yg penasaran siapa yg suaminya telfon "Siapa sayang??" Abraham menatap istrinya "Lihata saja nanti." Dan tak lama kemudian Simon datang "Apa tugas pentinya tuan??" Abraham tersenyum padanya setelah itu menjelaskan apa tugasanya dan Simon yg kendengar hal itu terkejut "Astaga Tuan, saya memang punya keponakan tapi saya mana pernah mengurusnya ." Abraham tersenyum "Angap saja ini simulasi untuk mu sebelum menikah." Simon masih belum mengerti lalu Abraham menatap sinis dia "Apa kamu mau lakukan atau tidak??" Simon yg melihat wajah dingin Abraham sontak menelan air lirnya "Biklah tuan, tapi berjajilah jangan lama-lama karna saya tak bisa mengurus bayi." Abraham tersenyum bahagia "Keputusan yg bagus Simon." Windi yg melihat hal itu hanya bisa menghela napas pelan "Simon nanti jika kamu ada kesulitan telfon saja nanti." Simon mengangguk lalu Abraham dan Windi pun segera keluar dari kamar, windi menatap suaminya "Kenapa kamu merepotkan simon." Abraham dengan santainya menjawab "Siapa yg merepotkanya, orang dia aku gaji juga kok." Windi yg kesal mencubit pingang suaminya "Tapi tetap saja, dia itu bukan baby sitter."Abraham malah tersenyum lalu merangkul istrinya "Sekarang ayo kita ke kamar, sebelum si kembar cerewet nanti." Mereka pun mulai berajalan menuju kamar.
Di dalam kamar Abraham langsung menindih tubuh windi di ranjang dan peria itu menatap wajah istrinya sedangkan Windi agak sedikit guguk karna pada kehamilanya ke 6 dan 7 bulan sebelumnya mereka sudah tidak berhubungan lagi hingga anaknya lahir, dan ini kali pertama selama berapa bulan itu dan windi yg tidak yakin akan melakukanya "Sayang kita bisa tunda gak, apa kamu gak takut nanti akan ada yg baru lagi kamu kan tau dua saja sudah sangat sulit apa lagi nanti kalok ada tiga." Abragam tersenyum menatap istrinya "Apa itu yg kamu hawatirkan, tenang saja aku sudah meminta Simon menyiapkanya dari awal ." Abraham bangkit lalu berjalan ke meja kerjanya dan membuka lacinya sedangkan Windi langsung bangkit dari baringnya dan melihat apa yg peria itu bawa dan Abraham datang lalu memberikan Windi sebuah pil "Telan ini." Windi sedikit bongung namun ia tetap menurut lalu mengambil pil kecil itu dan menelanya "Obat apa ini??" Abraham tersenyum ketika meliht istrinya menelanya "Itu pil KB." Windi yg mendengarnya terkejutĀ lalu abaraham mengeluarkan sesuatu di kantunya dan Windi yg melihatnya menjadai semakain kaget dan Semakin gugup, ia lalu menatap suaminya "Itu alat kontrasepsi juga kan." Abraham langsung membaraingkan lagi windi dan ia kembali menindih tubuhnya "Iya sayang.." suara Abaham membuat kuping Windi memerah dan Wanita itu berusaha memikirkan alasan lain "Sepertinya aku sudah harus kembali ke kamar anak-anak." Abraham tetsenyum "Dasar alasan...".
__ADS_1
Bersambung....
jangan lupa mampir nanti yah, di Novel baru Autorš¤
__ADS_1