Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 149.Menunggu


__ADS_3

Windi dan simon berhenti di bandara karna jarak antara rumah sakit ke bandara 4 kilo jadi Windi membayar 9.20 dolar  dan uang yg tersisa hanya 10.8 dolar milik windi karna pada saat ia keluar dari rumah ia hanya membawa 20 dolar. Windi bertanya pada simon "Apa kamu lapar simon??" Simon tak bisa berbohong karna perutnya dari tadi berbunyai ia pun mengangguk "kita cari makanan cepat saji saja." Mereka pergi mencari makanna cepat saji dan membeli 2 bergera, 2 minuamn coca cola, satu kentang goreng dan Satu botol air minum. Dan mereka sudah menghabiskan 9.80 dolar dan mereka hanya memiliki 1 dolar lagi yg tersisa


"Maaf aku semtara waktu tak bisa mengunakan hpku untuk menelfon Mariam dan Julius karna aku takut mereka akan melacak keberadaan kita, dan jika kita harus melapor polisi belum tentu laporan kita akan di terima karna kita belum ada bukti, lebih baik kita menunggu suami ku saja." Mereka pun menimati makanan tadi, dan di sana mereka sengaja memilih tempat duduk yg sedikit tersebunyi karan ia tak mau mereka akan ketahun jika ada anak buah Elang perak yg lewat di situ, setelah makan mereka pergi ke ruang tunggu. Dan di sana mereka menunggu sangat lama untungnya juga tak ada seseorang yg mengikuti mereka dan mereka bersyukur dan saat itu musim semi jadi mereka tak merasa kedingin karna Simon masih mengunakan pakain rumah sakit yg panjangnya selengan sedangkn windi hanya memakai sweater rajut, baju yg ia pakai hanya lengan pendek dan celana yg ia pakai adalah celana legging. Abraham sampai di wasington pukul 8 malam wakatu wasington lalu ia mencoab menelfon istrinya untuk menayakan kabarnya namun tak ada jawaban karna windi mematikan hpnya "Di ruma sakit mana dia berada sebenarnya, apa aku perlu menelfon simon..." Abraham pun menelfon simon dan jawabnya tetap sama tak ada jawaban, tak sengaja ia melihat sekeliling bandara dan melihat simon yg masih memakai baju Rumah sakit "Apa yg kamu lakukan di sini, kata istri ku kamu terluka." Sontak mereka berdua menoleh pada Abraham yg terlihat memakai baju biasa, windi bangkit dari duduknya lalu mengahmpiri sumainya "Astaga akhinya kamu sampai juga." Windi langsung memeluk suaminya.


Abraham baru sadar bahawa orang di samping simon yg memiliki perut yg sangat besar,serta rambut yg pendeknya sebahu serta bewarna kuning, dan mengunakan kaca mata adalah istrinya sediri, Abraham perlahan melepas pelukanya lalu memegang dua bahu istrinya lalu ia menunduk dan meliahat wajah istrinya, windi yg melihat eksepresi aneh pada suaminya, ia lupa kalau dia sedikit merubah penampilanya "Ada apa sayang??" Abraham menatap wajah istrinya "Apa kamu memotong rambutmu dan mewarnainya menjadi kunging, apa kamu tau aku hampir tak mengenali mu." Windi baru sadar "Oh iya aku lupa, nanti aku jelaskan sekarang ayo kita pergi mencai makan dulu aku sangat lapar." Abraham menurut dan pergi bersama istrinya sedangkan simon berjalan mengikuti mereka dari belakang, karna ia sudah kuat berjalam sendiri.

__ADS_1


Mereka pergi ke sebuah restoran yg tidak jauh dari bandara dan mereka memesan ruang VVIP mereka di sajikan banyak makanan dan mereka mulai menikmati makanan tersebut, abraham yg melihat istrinya sangat lahap memakan makananya "Sayang berapa lama kamu belum makan." Windi dengan santai menjawab "Aku tadi sarapam cuman tadi pagi dan siang sampai sore aku belum makan dan hanya meminum air." Abraham yg mendengarnya terkejut "Apa uang mu sudah habis, biar aku transfer ke no rekening mu lagi." Sebelum Abraham mengirimkan uangan, Windi menahanya "Jangan sayang, orang uangnya masih ada di aparteman." Abarham menatap simon "Bagai mana dengan simon, bukanya kamu bisa mengunakan uanya dulu, nanti aku akan mengantinya." Windi kembali menjawab suaminya "Barang-barangnya di ambil oleh mereka." Abraham mengeri siapa yg di maksud istrinya, lalu ia menatap Windi "Besok kita ke salon dan mewarnai kembali rambut mu , aku lebih suka rambutmu yg hitam." Windi menatap suminya "Orang kuning bagus juga, aku jadi mirim bule ." Abraham mencubit pipi istrinya yg penuh dengan makanan "Gak, kamu harus tetap ganti, menurutku rambut pendek dan berwara hitam akan sangat cocok untuk mu." Windi menjawabnya dengan mulut yg sangat penuh "Terserah kamu saja."


Abraham menatap istrinya  "Malam ini kita akan menginap di hotel." Windi menatap suaminya "Saya lebih baik kita menganti no ponsel kita, aku hawatir mereka akan bisa melacak kita." Abrham mengangguk lalu memperbaiki rambut istrinya. Setelah mereka makan mereka pun pergi ke hotel yg letaknya lumayan jauh dari bandara, tidak lupa di jalan mereka mampir sebentar untuk mengganti nomor hp mereka dan kontak yg ada di dalam Karu SIM mereka yg lama mereka pindahkan ke katu yg baru tidak lupa Abraham juga membelikan hp untuk Simon agar memudahkanya untuk menelfonya jika memerlukan bantuanya. Mereka akhirnya samapi di sebuah hotel bintang 5 yg ada di Wasington lalu memesan kamar Abraham memesan dua kamar satu untuknya dan satu untuk simon, Abraham di windi berada di lantai paling atas sedangkan simon berada di lantai 7 tipe kamarnya single rooms namun ranjanya sangat besar dan ruanganya sangt mewah. Abraham dan windi masuk ke kamar hotel mereka yg berad di paling atas mereka memutuskan untuk mandi bersama di bathtub yg sangt besar dan muat untuk mereka berdua, pada saat windi  sedang bermain gelembung Abraham masih terus mengusap perut istrinya "Besok kita akan memeriksa keadaan Eli di rumah sakit, sambilan kita memeriksa lagi kandungan mu karna ku belum melihat Baby."


Windi baru teringat bahwa ia harus kengatakan pada suaminya kalu dia selam sebulan ini melarikan diri dari Maraim, Eli,Julius dan Simon karna ia takut jika suaminya akan tau dari mariam ia pasti akan sangat marah mungkin saat itu pertengkaran tak dapat di hindari , tapi jika untuk sekarang tak masalah ia marah karna mereka hanya berdua dan ia sudah siap dengan kosekuwensinya "Sayang, Ada yg ingin aku katakan pada mu, jika kamu ingin marah pada ku tak papa dan jika kamu mau membenci ku juga tak papa." Abraham terdiam ketika mendengarnya, windi menarik napas pelan lalu mulai menjelaskan  "Aku selama sebulan ini tidak tinggal dengan Mariam, Julius dan Simon. Saat sampa di wasington waktu itu hanya aku ,Mariam dan julius karan pesawat sudah penuh saat itu jadi Simon dan Eli menunggu penerbangan berikutnya, di bandara aku di todong pisau oleh seorang peria dan melukai bagian belakang ku tapi saat itu aku berhasil selamat dan di larikan ke rumah sakit, saat di rumah sakit Julius dan Mariam kebawah untuk menunggu Eli dan Simon dan aku memanfaatkan itu untuk melariakan diri dan meninggalkan sebuah surat, ku kira waktu itu kamu akan tau tapi untunya kamu tidak di beri tau."

__ADS_1


Abraham mencium leher putih windi "Kenapa kamu senang kalok aku gak tau sol masalah penting seperti ini." Windi menjawab dengan perasaan sedih "Karana aku tak mau bertengkar lagi, tapi aku sebenarnya tak bisa mengelak dari semua masalah ini." Abraham menatap istrinya "Lalu apa yg terjadi ketika kamu melarikan diri." Wandi pun mulai kembali bercerita "Aku mengntrak di sebuah aprtemen dan menganti warna rambut ku aggar tidak di kenali karna saat itu polisi mencari ku, aku berteman dengan seorang wanita dan dia adalah tetangga ku dia begitu baik aku belajar banyak darinya, dan aku mengetahui simon terluka dari suami dia dan terakhir ia menelfon dan bilang ada berapa orang yg bersenjata di apartemen ku umtung aku saat itu berada di rumah sakit bersama simon, dan akau juga bersyukur dia baik-baik saja" Abraham menatap istrinya dari samping wajahnya "Sejak kapan kamu berpikir untuk melarikan diri dari ku??" Windi menjawab dengan air mata yg perlahan keluar dari sudaut matanya "Kamu boleh membenci atau memukul ku, sebenarnya aku berpikir untuk melarikan diri dari mu sudah sejak lama, aku berpikir untuk membuat mu membenci ku dan menikahi wanita lain, aku juga berpikir ketika melahirkan sikembar nanti aku akan menginggalkan mereka bersamu , setelah itu aku berpikir untuk mengakhiri hidupku." Abraham yg mendengar hal itu sangat kesal ia membalikan tubuh istrinya hinga wajah mereka berhadapan "Aku akan menghukum mu karna kamu berani berpikir untuk melarikan diri dari ku. Ingat tubuh dan jiwa mu hanya milik ku!!."Windi menutup matanya karna takut dengan Abraham yg mendekat dan langsung menciumnya windi sempat terkejut dan membuka matanya, pria itu ********** setelah itu ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar tidur mereka.


Rudi kembali memeriksa pada leptop simon dimana ponsel windi terakhir aktif dan hasilnya yaitu rumah sakit tempat mereka tadi pagi namun pada saat ke sana mereka tak menemukan apa-apa "Sepertinya dia menyadari kami melacak ponselnya, dasar wanita yg menyebalkan." Rudi menutup leptop itu dengan kasar, "Jika saja kami sudah berhasil membuka leptop ini kemarin malan mungkin kami sudah bisa menangkapnya, namuan ia sudah menyadarinya dan lari bersama Simon. Berani sekali dia bermain kucing-kucinggan dengan ku." Tiba-tiba seorang peria menghampiri Rudi "Tuan hp ini tadi sempat berdering dan nama dari kontak yg menelfon itu adalah 'Pak Bos'." Rudi berpikir dalam hati 'Apa mungkin Abraham ada di sini.' Ia mengepalkan tanganya dan terliht dari wajahnya ia sangat marah "Tunggu saja Abraham putra aku akan membunuh mu dan istri mu, karna kalian lah penyebab kematin tuan ku. Aku mau kalian melacak keberadaan Abraham dan istrinya sekarang."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2