
Besoknya karna hari minggu jadi mereka hanya berada di rumah dan kini windi di kamar tengah menonton TV bersama kedua anaknya yg sambilan ia ajarkan untuk telungkup sedangkan Abraham bekerja dan ia dapat melihat istri dan anaknya dari jauh karna ukuran kamar mereka itu sama besaranya dengan ukaranya lantai di yg di mana bisa jadi 4 atau 5 kamar namun di atas hanya ada kamar Abraham dan windi dan satu kamar untuk kedua anaknya yg berada di sebelah kamar mereka. Abraham awalnya mengalihkan padanganya dari wajah istrinya namun tiba tiba ia mendenar suara istrinya berteriak "Aaaa....." sontak Abraham menoleh pada istrinya "Nak coba kamu lihat, itu dia sangat tampan mungkin dia akan menjadi bapak baru mu..." windi membalikan tubuh kedua anaknya lalu ia menunjuk ke arah TV "Apa kalian liat papa baru kalian tadi, bukankan dia begitu tampan." Abraham menghela napas pelan istrinya itu kalok sudah menonton kartun yg ia suka bakal suka berperilaku aneh, dari berbicara pada kedua anaknya, sampai berteriak dan bahkan palaing parah dia pernah memeluk Tv karna karakter yg ia suka terlihat sangat tampan. Abraham tak pernah marah karna ketika tidak menonton istrinya akan kembali normal dan menurutnya lebih baik istrinya suka pada yg tidak nyata setidaknya tidak menyakitanya dari pada istrinya bermain dengan peria nyata di luar sana.
__ADS_1
Tak lama setelah filenya selesai kini Windi mematikan Tv lalu mulai membaringkan anaknya ke dalam Box dorong mereka lalu mendorangnya mendekat pada suaminya "Papa, jaga mereka dulu aku mau ke bawah untuk buatkan Makanan untuk mereka." Abraham menjawab sambil melihat leptopnya "Ya.." windi pun segera pergi dan Abraham melirik diam -iam kepergian istrinya lalu ia menoleh pada anaknya "Mama mu itu wibu akut, apa apa ngomongnya sama klian padahal kalian aja mana ngerti apa yg mama mu itu tonton kan." Para anak itu malah tertawa ketika papanya berbicara "loh kok malah ketawa, papa lagi serius ni.."kedua anak itu malah tertawa lagi lalu Abraham pun mulai bermain dengan mereka dan lupa dengan pekerjaannya hinga kedatangan Windi "Pa, kerjanya udah selesai." Abraham yg mendengar suara istrinya dari jauh baru ingat lalu ia segera memperbaiki posisinya sedangkan Windi yg melihta hal itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalnya pelan "Astaga kamu ini ada-ada aja." Windi menaruh makanan anaknya di atas meja suaminya lalu ia mengambil bangku lalu ia memutar anaknya menghadap dia lalu ia mulai menyuapi mereka, sedangkan abraham mulai tak fokus dalam bekerjaan ia ingin sekali melihat anak anaknya makan "Ah...Sudahlah nanti saja lanjutnya."
__ADS_1
Abraham mematikan leptonya lalu mengangkat kursinya dekat dengan istrinya lalu ia meliat kedua anaknya yg sedang makan mereka terlihat sangat menggemaskan "Anak papa imut banget sih kalok lagi makan." Abraham menjepit pipi kedua anaknya pelan kedua anak itu mulai tertawa "Anaknya jangan di gitukan dong entar nanti mereka keselek."Abraham meneloh pada istrinya lalu langsung mencium pipinya pelan "Iya sayang..." tak lama hpnya berdering lalu ia segera mengambil hpnya di atas meja pada saat ia lihat di pangianya rupanya no tak di kenal, ia menoleh pada istrinya "Kamu tau ini no siapa sayang??" Abraham memberitau pada istrinya, Windi menggeleng "Coba kamu angkat." Abraham pun mengangkat telfon tersebut lalu mengaktifkan sepikir agar istrinya juga dapat mendengar "Halo.."tak lama terdengar suara seorang peria dari dalam telfon "Halo kami dari kepolisan, sekarang kami bersama dengan bapak siapa ini??" Abraham binggung harus menjawab apa lalu ia menatap istrinya dan windi juga sama sepertinya binggung juga lalu Windi memberi kode agar Abraham yg memberi makan anaknya lalu ia yg akan berbicara, abraham mengangguk lalu mereka bertukar posisi dan kini yg memegang hp adalah Windi dan tak lama terdengar suara lagi.
__ADS_1
"Pak, jangankan 3 juta 10 juta pun akan saya transfer yg penting anak saya di lepas yah pak..." Abraham diam-diam tertawa mendengar perkatan istrainya, tak lama terdegnar lagi peria itu berbicara "Tak malas buk Tania, ibuk bisa kirim 10 juta juga dan anak ibuk akan langsung kami lepas nanti kirimkan saja uangnya di nomor rekening xxxxxxxx bank xxxxx." Sekarang windi tak mau berbohong lagi lalu ia mulai berbicara lagi "Baik pak, nanti anak saya bapak antar langsing ke rumah yah soalnya anak saya masih usia 4 bulan mana bisa naik motor sediri pak."tak lama tak ada jawan lagi dari peria itu dan pangilan itu pun langsung berakhir dan Windi pun segera membelokir nomor tersebut "Dasar penipu abal-abal, kamu cari lawan yang salah."abraham berbicara "Apa penipuan begini sering terjadi??" Windi menoleh pad suaminya lalu mengangguk "Iya,bahkan orang yg di tipu ada yg percaya dan mentransfer uang ke no rekening mereka." Abraham yg mendengar hal itu terkejut "Hah, ada yg mengirim, padahal dari kata katanya sudah tidak meyakinkan tapi ada juga yg ketipu." Windi mengangguk lagi "Iya, aku dengar sih mereka seperti itu karna panik, padahal logikanya polisi kalok telfon mana ada tanya nama anaknya lagi apa lagi meminta uang langsung di transfer biasanya aja kalok ada anak di bawah umur naik motor paling motornya yg di angkut." Abraham membelai rambut istrinya "Untung istri ku sangat pintar." Windi tersenyum malu-malu.
__ADS_1
Bersambung....
__ADS_1