
Setelah penangkapan itu Abraham di sibukan oleh persidangan yg membutuhkan kehadiranya sebagai saksi atas serangan kelompok kriminal tersut, apa lagi ia masih hawatir untuk membawa istrinya pulang karna masih ada anak buah Elang perak yg tersusa terlihat berkeliaran dan ia berencana menangkapa mereka.Namun di sisi lain ia tetap berusaha menelfon Windi dan hasilnya tetap sama ia tidak menjawab dan ia hanya bisa menelfon Simon untuk menanyakan kabar istrinya dan jawaban peria itu istrinya bersembunyi di tempat yg sangat sulit Siknal dan Abraham dengan bidohnya percaya dan tak terasa sudah satu bulan sejak perpisahnya dan rasa rindunya pada istrinya sangat besar, apa lagi bula ini istrinya sudah genap 20 minggu untuk jenis kelamin anaknya sudah bisa di lihat.
Di apartemen windi ia kini tengah bersiap-siap untuk ke rumah sakit, ia memakai baju yg tak terlalu katat karna perutnya sudah terlihat menonjol, celana yg ia pakai adalah celana Leggings , jaket rajut dan tas yg cukup besar agar banyak barang yg dapat ia bawa. Pada saat keluar dari Apartemenya di depan ia bertemu Maria dan suaminya serta Anaknya akan keluar ia menyapa mereka sebenatar lalu mereka keluar bersama-sama dari gedung apartemen yg lumaian tinggi, di luar mereka terpisah lagi karna mereka akan mengantar putrinya berbelanja Hadiah ulangtahun yg ia mau di Toko mainan sedangkan Windi berangkat ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganya dan ia menggunakan buss selama perjalanan ia terus melihat pemandangan jalan di Wasington "Andai saja tak pernah ada yg terjadi pada rumah tangga kita, mungkin kita bisa menikmati momen ini bersama.." Buss itu pun berhenti di sebuah Halte yg dekat dengan Ruamah sakit yg ingin Windi tuju lalu gadis itu turun dan berjalan ke rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Ia di periksa oleh seorang dokter kandungan di sana dan ia sesekali bertanya di mana suami Windi dan wanita itu hanya bisa menjawab kalok suaminya sedang sibuk bekerja dan dokter itu sangat menyayangkan karna menurutnya ini adalah momen langka di mana ia akan mengetahuai jenis kelamin anaknya untuk yg pertama kalinya dan sedikit ada penyesalan dari hati windi karna melarikan diri, namun walau dia tetap bersama mereka suaminya tetap tak akan datang karna peria itu tak suka melakukan pekerjaan yg setengah-setengah dan harus selesai dengan tuntas. Setelah beragam proses USG yg windi lakukan akhirnya ia mendapat kabar bawa dua bayi yg ia kandung berjenis kelamai laki-laki dan setelah pemeriksaan ia segera mengurus Administrasi lalu segera pulang, di perjalanan menuju halte ia menemukan sebuah toko kue dan ia teringat dengan anak tetangnya yg berulang tahun lalu ia mampir sebentar dan membeli 6 buah cupcake sebagai hadian karna ia tau anak itu suka kue.
Ia kembali menggunakan Buss lagi dan setekah 15 menit perjalanan ia sampai di halte yg dekat dengan rumahnya ia berjalan sebentar lalu menemukan taman lalu ia memutuskan untuk beristirahat di sana, selama ia duduk rasa rindunya pada suaminya mulai kembali terasa apa lagi melihat berapa pasangan yg terlihat menghabiskan waktu mereka bersama pasangan "Apa tak papa aku menelfonya. Tapi bagai mana kalok dia tau keberadaan ku." Windi pun berpikir sejenak "Aku yakin Simon pasti tak memberitaunya, kalok dia memberitaunya otomatis peria itu akan di marahin habis-habaisan. Bagai mana kalok kita coba dulu kalok dia bertanya di mana keberadaan ku itu tandanya dia tau aku menghilang, tapi kalok dia bisa saja mungkin dia belum tau." Windi pun memutuskan untuk memasang kembali no hpnya yg di pakai selama di Wasington dan menelfon suaminya.
__ADS_1
Abraham yg sedang ada di markas dan sedang rapat masalah persiapan untuk penagkapan anak buah Elang perak yg terlihat berapa waktu lalu mendapatkan hpnya bergetar, dan pada saat itu Zefano sedang menjelaskan bagia mana rencana mereka selanjutnya dan Abraham memintanya untuk berhenti dulu sebentar , sontak mereka yg berada di ruangan langsung diam dan menatap pada Abraham, peria itu memeriksa hpnya dan melihat nama panggilan tersebut rupanya adalah orang ia cari-cari setiap hari ia tak bisa menahan senyumanya "Kita istirahat dulu, aku ada telfon penting." Abraham menjawabnya dan berjalan ke luar ruangan sedangkan mereka yg ada di dalam ruangan itu seperti Zefano, Jeri, Roy dan Mario bingung dengan perilaku tuanya ."Ada apa dengan tuan kita itu??" Zefano mengira-ngira "Mungkin itu telfon dari investor penting." Jeri menjawab "Mana mungkin ia menjawabya sambil senyam-senyum begitu." Mario menjawab dua orang itu "Berhenti membicarakan tuan Abraham, jika kalian masih sayang pada hidup kalian." Dua orang itu lantas berhenti membicarakan tuanya lalu beralih topik yg lain sedangkan Roy di buat penasaran, karna setaunya reaksi ini biasanya tuanya keluarkan ketika mendapatkan istrinya menelfon.
Windi menjawab suaminya "Trus kamu gak suka kalok mereka laki-laki dan berharapnya satu laki-laki dan satu perempuan gitu??" Abraham tersenym sambil menjawabnya "Senong dong sayang, bahkan aku sangat senag dan berharap mereka agar cepat lahir dan tumbuh dewasa agar ada nanti ada yg bisa ku ajak bermain bola, mungkin mereka juga akan suka bermain dengan kucing kecil kita...." Abraham terdengar bagia bahagia ia terus memkirkan bagia mana nanti setelah mereka lahir dan mereka akan di bawa jalan-jalan ke berberapa negara dan ia juga berpikir untuk memberikan nama anak mereka "Sayang menurut mu nama apa yg baus untuk di berikan, apakah menurut mu Roderick putra dan Frederick putra cocok untuk mereka." Windi yg mendengar nama yg Abraham katakan sangat sulit untuk di ucapakan "Itu namanya sangat sulit untuk di ucapkan mereka anak-anak akan di ejek oleh teman-temanya karna namanya sulit di sebutkan, apa tak ada yg lain." Abraham berpikir lagi, karna setelah mengetahui bahwa windi hamil dan hasilnya anak mereka kembar ia sudah memikirkan nama untuk anak perempuan dan Laki-laki"Bagai mana dengan Zahran dan Zayyan." Windi bisa menerima yg pertama namun yg terakhir ia kurang menyukainya "Tak adakah yg lain selain Zayyan."
__ADS_1
Abraham berpikir lagi pasti nama yg ia berikan ada sedikit nuasa luar negrinya mungkin anak-anak di sekiar tempat mereka akan sulit untuk menyebutnya jadi ia mencari nama yg sedikit mudah di sebutkan dan umum serta tidak pasaran"Bagai mana Dengan Farel dan Rafael, nama mereka lebih baik awalnya tak perlu sama biar bagian belakang saja yg sama, agar nanti di kalok besar teman-teman mereka takan sulit untuk membedakan mereka, lagi pula nama itu takan sulit di tulis dan di sebuat karna nama itu sudah bisa di dengar." Windi mendengarnya nama yg di sebutkan Abraham tak begitu sulit jadi ia menerima saran dari suaminya, namun tanpa Abraham sadari Roy menguping apa yg Abraham bicarakan dari dalam hpnya "Apa tuan sedang bertelfonan dengan nona. Aku harus segera memberi tau Simon mengenai hal ini apa mungkin peria itu sudah menemukanya." Roy pun segera pergi untuk diam-diam menelfon simon.
Bersambung....
__ADS_1