
Jesi terbangun dari tidurnya karna ia merasa lapar di sampinya Kristin masih tertidur , pada saat ia melihat pada jam dinding sudah menunjuk 22.45 ia turun dari ranjang lalu ia keluar dari kamar, kini ia menginap di hotel Abraham tempat dia dan Kristin tinggak untuk semntara. Ia berjalan dan masuk ke dalam lift di sana terlihat Roy, ia awalanya tidak mau masuk dan berdaim diri agar lift itu kembali tertetup namun pada saat pintu akan tertutup Roy bergegas memencet tombol untuk membukanya lagi pintu itu pun kembali terbuka "Ayo cepat masuk." Jesi dengan gugupnya masuk ke dalam lift lalu langsung membalikan badanya tampa melihat Roy sama sekali. Roy yg melihat hal itu sebenarnya sangat sedih namun ia berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihanya dan memulai pembicaraan agar mereka tidak terlihat canggung "Jes, lau mau ke mana??" Jesi dengan gugupnya menjawab "Mau ke luar kak." Roy kembali bertanya "Buat apa, ini sudh malam gak baik anak gadis keluar malam-malam." Jujur Jesi sangat gugup ia terlihat gelusah sambil menjawab "Mau cari orang yg jual nasik goreng." Roy yg awalnya mu pulang tiba-tiba berpikir untuk menemaninya "Eh kebetulan sekali aku juga mau mencari Nasik Goreng" padahal niat awalnya untuk segera pulang dan mengistrahatkan tubunya namun mendengar jesi akan keluar ia pun berpikir untuk menemaninya.
Jesi sebenarnya ingin menolak karna malu di dekatnya namun di sisi lain ia juga takut keluar sendiri lalu ia mengganguk, Roy yg melihat hal itu sangat bahagia namun ia berusaha untuk tidak tersenyum agar tidak ketahuan. Pada saat pintu lift terbuka mereka bersama sama keluar , mereka berdua menyusuri jalan untuk mencari penjual yg menjual nasik goreng hingga mereka berhenti di ujung jalan terlihat sebuah rumah makan yg cukup jauh dari Hotel yg menjaul nasik goreng mereka masuk ke tempat makan itu lalu memesan untuk di bungkus dua lalu mereka menunggu di sebauh meja.
Sempat terjadi keheninggan atara mereka berdua hingga Roy mencoba untuk membuka pembicaraan "Jes, kamu kamu tinggal di lantai tiga yah??" Jesi dengan gugup menhawab "Ya. Aku tinggal berdua dengan Kristin, roy mengganguk mengerti lalu kembali bertanya "Apa kamu punya no kristin , aku mau minta." Jesi yg mendengar hal itu sangat patah hati, jika boleh jujur walau Roy sudah menyakiti hatinya namun ia masih mencintainya dan bahkan ia belum membakas perasaan Rudi karna ia masih bimbang antara harus melupakan Roy dan menjalain hubungan dengan Rudi atau tetap setia menati Roy karna sudah mendapat kepastian bawa peria itu juga suka padanya. Jesi yg mendengar hal itu menjadi sangat sedih , hatinya sangat sakit ia dengan mulut yg genetar berbicara "Ada kak Roy mau." Ia mengambil hp dari sakunya dan mencari no hp Kristin dengan matanya yg sudah berkaca-kaca, Roy yg melihat hal itu menjadi merasa bersalah dan berguma dalam tai 'Asataga dia menangisa, apa yg harus aku lakukan, harusnya tadi aku minta no Kristin pada nona saja tapi kenapa mulut ini malam memintanya pada Jesi.'
__ADS_1
Jesi bemberikan hpnya pada Roy lalu segera bangkit dari duduknya "Maaf, aku ke kamar mandi sebentar." Roy merasa bersalah mencoba menghentikanya "Tunggu dulu Jes.." namun jesi tak memperdulikanya dan langsung pergi meninggalkanya Roy yg kesak mengacak acak rambutnya. Di kamar madi yg sepi itu Jesi menumpahkan air matanya, hatinya begitu sesak dan air matanya tak henti keluar dari wajah cantiknya "Setelah semua harapan yg ia berikan ternyata dia selama ini menyukai Kristin, Kenapa cinta ku harus bertepuk sebelah tangan seperti ini, atau mungkin aku dan dia memang bukan jodoh." Namun tanpa ia sadari di luar kamar madi Roy mendengar perkataan Jesi lalu ia memegang dadanya, dengan suara yg kecil ia berbicara "Apa yg telah aku lakukan, dia pasti sangat membenci ku. Sepertinya aku harus cepat pergi sebekum ia tau aku di sini." Roy pun segera pergi keluar , dan kebetulan pesan mereka sudah jadi dan Roy pun langsung membayarnya lalu ia kembali menunggu Jesi, tak lama kemudian jesi dengan wajah yg basah karna tadi ia memcuci wajahnya agar menutupi bahawa ia baru saja menangis Roy pun menggangkat kedua pesanan mereka "Oh, jadi udah jadi." Ia pun segera mengahmpiri kasir "Brapa pak??" Peria itu menjawab "Udah neng, mas yg tadi udah bayar ." Sontak Jesi menoleh kebelakang, terlihat roy memangilnya ia pun menghampiri Roy "Apa kamu tadi yg membayar??" Roy mengganguk "Ayo kita pulang."
Roy pun bangkit dari duduknya, jesi pun langsung menahanya "Tunggu dulu, biar uang mu ku ganti. Tadi berapa harganya." Jesi terlihat membuka domotnya dan Roy pun berbicara "Gak usah angap aja aku yg teraktir. Oh iya, ini hp mu..." roy mengembalikan hpnya jesi pun mengambilnya lalu mereka pun bersama-sama pergi , di perjalan karna sudah sangat malam Jesi merasa kedinginan dan Roy yg melihat hal itu langsung melepas jaketnya lalu di pakaikan pada Jesi, sontak Jesi terkejut "Apa ini kak??" Dan Roy dengan santai menjawab "Kamu terlihat kedingan jadi aku berinisyatif untuk memakaykan mu jaket ku" jesi pun kembali melepasnya "Tapi nanti kak Roy yg malah kedingan." Roy pun mengambil jaket tadi lalu menasang lagi pada Jesi "Gak usah pedulikan aku, pikir saja kesehatan mu." Jesi pun menurut perkatan Roy namun diam-diam ia juga sangat senag karna di perhatikan oleh Roy ia diam-diam tersenyum dan di sadari oleh Roy ia menjadi merasa bahgia melihat senyuman cantik Jesi.
Wanita itu tersenyum lalu menatap Jesi di sampinya "Dan Nona baik satu ini saipa tuan??" Roy pun langsung merangkul tubuah Jesi mendekat padanya "Kalok dia ini calon istri saya." Jesi yg mendengar hal itu menjadi salah tinggah ia tak bisa membalas perakatan wanita itu karasa sudah di buat gugup oleh perkataan Roy, wanita ia tersenyuam "Wah, selamat tuan Roy wak tak kusanga calon istri taun Roy secantik ini." Roy yg mendengar hal itu menjadi bahagia , Roy bahagia bukan karna pujian wanita tadi tapi karan wanita tadi ia berhasil bisa menggungkapkan perasanya tanpa harus merasa gerogi, ia pun mengeluarkan doampetnya dan mengambil semua uang cash yg ia punya dan di berikan pada wanita tadi "Ini untuk mabak, buat belanja kebutuhan sehari hari." Wanita itu terkejuta "Tapi tuan Roy "Gak papa ambil aja." Wanita itu pun menerimanya "Terima kasih taun, saya sangat berterima kasih pada tuan." Tiba-tiba Roy mendapat telfon dari Simon ia pun menjawabnya sedangkan Jesi mengantar ibuk-ibuk tadi dan kedua anaknya ke sebuah bus yg kebetulan berheti di halte yg berada di depannya. Roy menoleh pada seabuah mobil hitam milik Abraham , tak lama kemudian abraham menurunkan kaca mobil dan memberi kode untuk Roy mendekat , Roy menoleh pada Jesi yg masih mengantar anak-anak tadi lalu berlari pada mobil tuanya.
__ADS_1
"Ada apa taun abraham??" Windi pun langsung menyodoran sebuah kotak kecil padanya "Apa ini??" Windi langsung berbicara "Sekarang sudah waktunya, apa kamu lupa sebentar lagi hari ulangtahunya " Roy yg baru ingat, di lihat jam tanganya ,kini jam Sudah menunjuk pukukul 23.50 ia menayap tauanya dan meminta perstujuan darinya, tidak mungkin dia mengambil cincin yg bukan milknya sedangkan Abraham hanya mengganguk , memang sejak awal kotak itu di beli untuk Roy karan kata-kata Abraham di Rumah sakit tadi yg membuat istrinya berinisyatif untuk membatu Roy jadi pada saat pulang dari ruamah sakit pada pukul 20.30 karna windi yg sudah tak sabar untuk pergi berlibur dan pata saat di perjalan mereka berhenti ke sebuah toko yg menjual perhiasan Abraham pun membeli banyak untuk istrinya , namun ada sebuh cincin yg menurutnya sangat cocok untuk Jesi sengaja di simpan terpisah dari periasan miliknya dan pada saat mereka kembali ke hotel jam sudah menjuk pukul 23.05 dan tak sengaja mereka melihat Jesi dan Roy yg sedang berjalan beriringan lalu berhenti karna melihat dua oarng anak dan mereka menyaksikan semua kejadian di sana dan bahkan mereka juka dapat mendengar apa yg mereka bicarakan, jadi windi berinisyatif membatu Roy lalu ia meminta Simon yg kebetulan yg menjadi supir mereka untuk menelfon Roy untuk ke temapt mereka .
Roy yg mendapat persetujauan dari bosanya langsung mengambil kotak merah itu lalu berlari menghampiri Jesi yg menunggunya "Itu mobil, nona kan??" ia sampai dengan napas yg terengah engah kembali melihat jamnya masih menujuk pukul 23.52 dan ia berusaha melawan gugupnya lalu menatap wajah jesi dan berbicara "Jesi ada yg mau aku bicarakan pada mu." Jesi malah menjadi gugup "Emang kak Roy mau ngomong apa??" Roy berusaha tenag dan menguatkan hatinya "Jesi aku suka pada mau!!" Jedi yg mendengar hal itu jadi terdiam dan tak tau harus berkata apa, hatinya berdebar dan pikranya tak bisa memikirkan apa pun, roy pun kembali berbicara "Aku dulu pernah bilang pada mu kalu aku suka pada seorang wanita dan wanita yg aku maksud itu kamu, dan aku juga pernah bilang bahwa aku tak ingin Pacaran kana aku hanya ingin serius di usia ku yg ke 27 tahun ini , menurutku berpacaran itu tak penting aku sudah mengenal mu sejak lama dan aku yakin kamu yg terbaik untuk , maka dari itu menikah lah dengan ku." Roy berjongkok di hadapanya lalu membuka kotak yg berisi cincin tadi namun ia menutup matanya karna takut dengan jawaban Jesi dan tiba-tiba terdengar suara alaram dari hp Jesi yg sengaja ia pasang pada pukul 00.00 malam tepat pada hari ulang tahunya, kini ia tak bisa menahan air matanya lalu menagis, roy yg mendengar hal itu sontak membuka matanya lalu berdiri dan menengkan jesi "Maaf kan aku tak bermaksud membuat mu menagis..." tiba-tiba di sela isak tangis jesi berbicara "Yaa...hik, aku mau..." dan Roy yg mendengar hal itu begitu hagaia ia langsung memeluk erat Jesi, ia melepas pelukan itu lagi lalu memasankan cincin tadi pada jari manis tangan kuri Jesi.
Bersambung....
__ADS_1