Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 166.Kabar


__ADS_3

Salju masih turun dengan lebat di malam hari dan Windi yg sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap kaca yg ada pada kamar mulai hawatir pada Simon "Aku harap simon baik-baik saja." Abraham yg tengah berbaring di samping dua putranya sambil memainkan hpnya menjawabnya "Tenang saja sayang, aku tadi baru dapat pesan darinya bahwa dia sudah sampai di bandara transit, tinggal menunggu waktu ke berangkatan pesawatnya lagi." Windi yg mendengar hal itu menjadi tenang "Syukurlah dia baik-baik saja." Abraham pun menaruh hpnya di meja lalu bangkit dan menghampiri istrinya lalu berabraing dan kepalanya di taruh di pangkuan Windi "Sudah-sudah, jangan lagi hawatir pada dia, karna aku tak mau kamu memikirkan peria lain selain aku..." windi yg mendengar hal itu tersenyum lalu menunduk dan mata mereka saling menatap satu sama lain "Bagai mana dengan anak-anak bukanya mereka juga laki-laki seperti mu." Abraham memalingkan wajahnya "Kalok mereka si.... gak papa."


Windi tersenyum tak lama terdengr suara salah satu bauahtinya yg menangis dan Abraham langsung bangkit lalu Windi membalikan badanya rupanya adalah Farel ia langsung menyusuinya  namun tak lama, adaiknya Rafael malah ikutan menangis yg membuat hal itu tak bisa untuk Windi "Astaga adek juga.., paa coba ambilkan asi di kulkas untuk mereka berdua, sekalian juga ambil botol mereka." Abraham pun menurut lalu segera pergi dan windi puan segera menyusui mereka berdua sekaligus "Astaga pangeran mama gak biasanya nangis begini.." windi menghapus air mata Rafael tak lama terdengar suara hp Abraham namun karna Windi sedang menyusui dua buahatinya jadi ia tak bisa menggapai hp suaminya tak lama pangilan tadi berakhir dan tak lama kemudian hp tadi kembali berdering "Itu siapa yah, apa mungkin sangat penting, tapi aku sama sekali tak bisa mendekatap pada hp tersebut." Tak lama kemudian hp tadi kembali mati baru Abraham datang sambil membawa dua botol dot yg sudah di isi ASI "Ini sayang..." abraham menyerahkan dua botol ASI tersebut dan Windi langsung menerimanya "Sayang tadi hpmu bergetar, aku gak tau siapa yg telfon tapi sepertinya sangat penting karna sudah dua kali ia menelfon.." Abraham pun segera mengambil hpnya sedangkan Windi perlahan menarik kembali dadanya dari mulut putranya baru di gantai dengan botol ASI.

__ADS_1


Pada saat Abraham membuka hpnya rupanya penelfon tadi tak ada nama pada kontaknya hanya angaka dan Abraham kembali menelfon nomor tersebut "Halo..." dan terdengar suara pria dari no tersebut "Halo apa ini Abraham putra??" Abraham langsung menjawabnya "Iya saya sendiri,ada perlu apa yah..." peria di dalam hp tadi pun menjelaskan "Sebelumnya perkenalkan saya calon suaminya Lisa, dan calaom istri saya..." peria itu terdengar berat untuk melanjutkan perkataanya seperti ada yg ia tahan "Ada papa dengan dia??" Ia mencari keberanian lalu menjelaskan segalanya "Dia mengalami kecelakan dan dia juga keguguran karna kecelakan tersebut, namun karna terlambat mendapat bantuan dia tiada di perjalanan ke rumah sakit dan ia menitip pesan terakhirnya pada perawat bahwa ia sangat minta maaf pada anda dan istri anda..." peria tadi yg tak bisa menahan tangisnya kini menangis dan Abraham yg mendengarnya la menjadi iba "Baik lah saya akan sampailan pada istri saya." Windi yg mendenar perkataan suaminya men jadi penasran apa yg mereka bicarakan sebenarnya dan peria tadi kembali melajutkan perkatanya "Saya sangat mohon maaf kan lah dia, saya tidak tau apa perbuatanya padan anda dan istri anda tapi saya sangat meminta maaf.." Abraham pun menjawabnya "Anda tak perlu hawatin saya sudah memaafkanya dan untuk istri saya, saya yakin dia pasti juga akan memaafkanya, jadi anda tak perlu hawatur.." peria paruh baya itu terus berterima kasih pada Abraham hinga akhinya panggilan itu berakhir dan Abraham langsung mematikan hpanya lalu di taruh di atas meja kembali.


Windi yg penasaran mulai bertanya "Ada apa sayang??" Abraham menghela napas pelan "Ada yg mau aku bicarakan, setelah anak anak tidur saja..." windi terdiam lalu ia kembali fokus memegang dua botol ASI putrana hinga mereka terlelap dalam mimpi dan Windi pun menghampiri suaminya yg terdiam duduk di pinggir ranjang "Tadi siapa Sayang??" Abraham menajwab "Tadi Mantan suaminya kakak Simon." Windi yg mendemgar hal itu terkejut "Dia ngomong soal apa??" Abraham menatap istrinya "Apa kamu tau wanita yg tadi pagi??" Windi mengangguk dan Abraham pun kembali melanjutkan perkatanya tadi "Dia sudah tiada karna kecelakan." Windi yg mendengar kabar tadi lanhsung syok "Apa dia mengalami kecelakan.." Abraham kembali melanjutkan kata katanya "Dia juga mengalami keguguran, namun karna terlambat menolongnya ia tiada di tengah jalan ke rumah sakit." Windi yg mendengar hal itu menjadi kasian padanya "Aku jadi measa bersalah menamparnya hari ini tadi, aku harap dosanya bisa di maafkan ."

__ADS_1


Abraham sempat menoleh pada kepergian windi namuan pada saat ia menoleh pada putranya lagi ia terkejut kini putranya menatap satu titik yg dimana itu terdapat di atasnya dan tiba-tiba ia tersenyum "Abraham yg melihat hal itu bertanya-tanya "Apa yang kamu lihat di atas sana sih, sampai tersenyum begitu "Abraham menoleh ke atasnya namun tak ada apa pun di sana setidaknya ada hewat atau sesuatu yg bisa membuat anaknya tersenyum namun yg ia lihat hanya tembok "Apa yg kamu lihat nak??"Abraham kembali menoleh pada putranya namun anak itu masih fokus di titik itu sambil tersenyum dan ia terlihat Aktif, Abraham pernah mendengar katanya anak usinya putranya sudah bisa melibat mahluk tak kasat mata namun Abraham tak percaya karna ia tak percaya hal mistis namun melihat anaknya seperti itu manusia mana yg tidak akan takut melihatnya "Astaga nak jangan takutin papa dong, ingat kita di kamar cuman bertiga, kalok papa lari kamu sendiri bagai mana??" Namuan anaknya itu malah semakin aktif seperti ia sedang  bermain dengan sesuatu, Abraham yg mulai ketakutan langsung berlari ke arah pinta pada saat pintu terbuka, ia di kejutkam dengan istrinya yg ada di depanya "Astaga tuan..." windi menatap binggung suaminya "Sayang mau ke mana kamu??" Abraham yg takut malu, malah ngeles "Itu aku, mau pangil kamu tadi, soalnya kamu lama sekali." Windi tetsenyum "Tadi aku pergi mengambil kue sekalia  aku meminta pelayan untuk membuat kopi dan dan teh untuk kita." Windi pun segera masuk dan menaruh kue yg ia bawa atas meja lalu ia menoleh pada buahtinya dan anak itu sudah tak melihat apa yg dia tasnya lagi ia malah memakan tanganya dan Windi yg melihat hal itu langsung melepasnya sedangkan Abraham kini sudah tenang karna putranya tak melihat ke atas sambil tertawa lagi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2