Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 138.Pertengkaran


__ADS_3

Mereka kembali ke Villa pada pukur 2 siang dan Windi masih tak mau berbicara padanya Abaraham memang sudh sangat tak tahan dengan hal ini dan ingin sekali marah namun di sisi lain ini terjadi semua karna dia mengucapkan sesuatu hal yg sensitif tanpa mengingat situasi dan ia berencana untuk meminta maaf pada istrinya , pada jam 4 sore Windi berenang di kolam renag dan pada saat akan naik ia sedikit kesulitan dan Abraham langsung mengangkatnya naik, windi sedkit terkejut namun setelah ia di turnkan oleh Abraham "Terima kasih..." setelah mengatakan itu ia langsung pergi dan mengambil batrobenya lalu di gunakan, Abraham masih belum puas apakah hanya kata pedek seperti itu yg ia keluarkan setelah 7 jam tak bicara.


Pada saat windi akan masuk ke dalam rumah Abraham berbicara "Jika kamu tak mau, kamu bisa menolak." Windi menghentikan langkah kakinya "Tenang saja aku akan tetap pergi, dan aku harap kamu bisa segera menyelesaikan masalah itu." Windi melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Abraham, dan pria ia sudah tak tahan lagi ia mengikuti istrinya dari belakang dan menahan tanganya sontak Windi menoleh ke belakang "Windi sampai kapan kamu akan bisa memperbiki sikap kekanak kanakan mu ini!!!" Windi yg kesal melepas paksa tangan yg di gegam suaminya "Apa kamu gak suka dengan sikpa ku, apa kamu tau kenapa aku selalu diam ketika aku merasa tidak senag??." Abraham menjawab "Itu karna kamu hanya mengginkan ku perhatikan bukan.." windi tersenyum kecut "Jadi itu pandangan mu selama ini pada ku dan ternyata pendapat ku tentang mu selama ini ternyata salah, kukira kamu orangnya bisa mengerti situasu ini selama ini  rupanya tidak dan  aku sudah berusaha diam agar tidak bertengkar dengan mu dan berpikir bagai mana menyelesaikan masalah ini dengan baik dan tak mau masalah ini semakin besar dan aku butuh waktu untuk berpikir, tapi rupanya cara ku salah memang masalah ini harus di selesaikan dengan pertengkaran tanpa harus berbicara baik-baik.."

__ADS_1


Abraham yg kesal menjawab "Memang masalah ini harus selesai dengan pertengkaran karna jika tidak masalah ini takan selesai!!!" Abraham masih terus membentak istrinya sedangkan Windi semakin di buat kesal "Aku sebenarnya tak setuju jika kamu harus kembali dan menyelesaikan masalah itu sendiri, di siniaku juga istri mu aku juga mau membantu mu aku juga ingin berdiri di samping mu ketika kamu dalam situasi sulit. aku takut kamu kenapa-napa nanti karna mereka aku mau berada di samping mu hidup atau mati aku akan selalu bersama mu." Abraham tertawa "Apa kamu kira masalah ini akan mudah, kamu berada du samping kau hanya akan menjadi kelemahan ku maka dari itu lebih baik kita jauh dari ku."


Windi yg tak ingin jauh dari suaminya mendengar hal itu matanya mulai berkaca-kaca "Apakah aku di mata mu hanya beban saja..." Abraham yg sudah termakan emosi "Windi ingangat, kamu itu adalah istri ku maka menurut pada suami itulah tuas mu dan jika kamu berani melawan aku tak akan segan-seganya main tangan." Windi muli menangis dan hatinya sangat sakita "Sekarang lakukan lah pada ku, jika kamu mau memukul ku pukul saja tapi aku mohin jangn pergi aku tak mau kamu terluka karna aku tak bisa hidup tanpa mau." Windi masih teguh dengan pendirianya namun Abraham yg sudh termakan emosi dan karna susah sekali meyakinkan Windi dan amrahnya sudah memuncak lalu dia langsung menampar wajah windi.

__ADS_1


Ia keluar dan bertemu simon yg menunggu di depan rumah karna terkejut mendengar  suara tangisan dari dalam Villa "Tuan ada apa yg terjadi nona.." Abraham yg melihat Simon ada di luar "Kamu bisa kan tenangkan istri ku di dalam aku sangat meminta tolong pada mu, Aku serahkan dia pada mu jaga dia baik-baik dan lindungi dia selama di Wosington nanti, sampai aku kembali nanti."matanya terlihat berkaca-kaca dan sakit hatinya, Abraham pun memeluk Simon setelah itu segera pergi sedangkan peria itu yg tak tau apa-apa hanya mengguk dan menurut ia masuk dan menemukan Windi yg menangis di ruang tamu ia masih mengunakan Batrobe dan dia sepernya masih basah dan belum menganti bajunya, simon yg punya kakak wanita jadi tau bagai mana cara menengakan hati seorang wanita yg sedang bersedih.


Ia menghampiri Windi lalu mengelus lembuat punggung istri bosnya itu dan ia mulai mengerti sepertinya tuanya dan istrinya sedang bertengkar lalu ia mengucapkan kata-kata manis untuk menengkan Windi "Nona sabar yah, hal ini pasti akan di alami setiap pasangan saya percaya nona bisa melewati semua ini dengan baik." Sauara tangis Windi semakin membesar dan Simon pun tersenyim "Memagislah, memangislah sekencang-kencang mungkin keluakan semua kesakitan di hati mu aku di sini bersama mu, aku akan mendengar semua keluh kesah mu."mendengar perkatan Simon membuat windi tak henti menagis dan tak tahan lagi lalu meneluarkan kata kata yg menganjal di hatinya "Kenapa selama hidup ku ini tak pernah merasakan bahagia,  aku hanya ingin hidup seperti orang-orang  aku hanya ingin hidup bahagia tapi kenapa aku harus merasakan banyak coban di usia di mana aku harunya bisa bahagia seperti wanita seusia ku, aku sudah berusha menjadi orang yg lebih baik tapi kenapa aku selalu salah di mata mereka apa karna kekurangan ku , kenpa ketika aku mengerti dia kenapa dia takan pernah mau mengeri aku. Apa salah ku, salah kah aku menginkan kebahgian.." Windi menangis dan Simon memeluk windi dan masih terus mengelus belakanya "Tenanglah kamu takan sendir, aku bisa mengerti apa yg kamu rasakan aku juga sangat paham rasa sakit seperti apa yg kamu rasakan . Tapi aku percaya kamu bisa melewati ini..." perlahan tangis windi mereda namun tubuhnya sangat lemah dan langsung pingsan di pelukan simon "Nona Windi..." Tak ada jawaban dari windi membuat Simon hawatir dan berterik pada anak buahnya yg ada di luar untuk menelfon Ambulan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2