
Windi terbangun dari tidurnya ,ternyata tanpa ia sadari pada saat menagis tadi ia tertidur dan terbagun di pingir ranjang dengan posisi terduduk, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar,"Sayang, kamu gak papa kan???".
Guma Windi dalam hati, 'Entah mengapa aku begitu takut jika harus bertemu pria gila itu.'
"Kalok gitu, aku masuk yah",Brayen pun membuka kunci pintu kamar dan pada saat di bukanya terlihat Windi yg duduk di pinggir ranjang dengan rambut yg kusut dan kedua mata yg terlihat bengkak karna menangis, Brayen segera menghampiri Wini,
"Sayang, kamu gak papa???".
"Menjauh dari ku".
__ADS_1
"Sepertinya kamu harus mandi, dan tenang saja aku sudah siap kan pakaian mu, ada di lemari,setelah itu kita makan bersama".
"Berhenti memerintah ku bajingan!!!",Brayen yg sudah kesal menampar pipi Windi, hinga keluar darah dari mulutnya,"Jika suami suruh itu nurut, jangan melawan,ini akibatnya melawan perintah suami",Berayaen pun menyeret paksa Windi dengan menarik rambutnya lalu di bawa ke kamar mandi, Windi hanya bisa menangis, Di dalam kamar mandi Brayen tak sengaja menyiram Windi dengan air panas, sedikit hinga membuatnya berteriak kesakitan yg membuat Brayen segera mematikan kerannya,"Sayang, kamu gak papa??".
"Kamu pergi saja,aku bisa mandi sendiri hik."
"Biklah aku turun dulu,nanti setelah ini kamu turun yah,karna aku sudah mempersiapkan makanan untuk kita berdua.",Windi sama sekali tidak membalas perkatan Brayen,"Aku pergi",Setelah brayen pergi, Windi menagis begitu keras namun tidak terdengar sampai di luar karna berada di dalam kamar,Brayen yg sedang menunggu Windi turun tiba-tiba sebuah telfon masuk ,ia pun segera menjawabnya, "Halo,Angga ada apa??".
"Berita soal apa??".
__ADS_1
"Mobil yg di tumpagi istri dari CEO Samudra Grum jatuh kejurang",Brayen diam-diam tersenyum karna dia tau jika itu semua akan terjadi,"Benarkah,aku turut berduka cita".
"Kasian sekali bukan ,padahal istri CEO samudra sedang hamil muda".
"Itu bukan anaknya!!!!".
"Apa maksud kak ,tentu saja anaknya lah kan dia suminya",Brayen yg kesal langsung menutup telfon mereka,"Kenapa orang-orang menyebut anak ku adalah anak si peria gila itu."Diam-diam Windi mendengar percakapan mereka,Guma Windi 'Apa yg harus aku lakukan,bagai mana cara agar aku bisa keluar dari tempat ini.',Tiba-tiba sebuah ide muncul di pikiran Windi,ia pun segera turun,"Sayang, cepat benget mandinya".Windi hanya bisa menjawab dengan angukan,"Ayo duduk, di disini",Brayen menepuk nepuk bangku di sebelahnya,Windi pun duduk di sana, beragam makanan sudah ada di meja dan Windi hanya makan dua suap, tidak seperti Brayen yg napsu makanya bertambah .
Setelah makan Brayen segera masuk ke sebuah ruangan yg merupakan ruangan tempat dia bekerja, Windi yg merasa ada kesempatan segera berlari keluar dari vila dan di luar hanya terlihat pepohona yg hijau dan sekeliling rumah terdapat banyak bodyguart yg menjaga, Windi berlari berusaha melewati mereka, namun karna para bodyguart tadi terlatih dan dapat menahan Windi dengan cepat, Berayen yg mendapat laporan keluar dari vila dan dengan kasarnya menampar wajah Windi lalu menarik rambutnya higa ke vila, ia menghempaskan dia ke lantai,"Dasar perempuan tidak tau diam!!!!!",Windi hanya bisa menagis dan sama sekali tidak menjawab berayen,"Jika sekali lagi aku mengetahui kamu melarikan diri dari vila,akan ku bunuh kamu.Kamu mengerti!!!!", Windi masih menagis dan tidak menghiraukan brayen, Berayen yg kesal berjongkok di hadapan Windi lalau mengkat wajah Windi, Lalau kedua mata mereka saling menatap satu sama lain,"Apa kamu mendengar apa yg ku katakan tadi,atau mau ku hajar lagi biar paham??",Windi hanya bisa menggaguk pelan namun air matanya tak henti mengalir,"Bagus, jika kamu mendengarnya",Brayen pun segera berdiri lalu mengunci pintu dan kembali ke dalam ruang kerjanya,sedangkan Windi masih saja terus menagis.
__ADS_1
Bersambung......