
Di perjalanan ke hotel Tiara dan Jordan bertengkar selama perjalanan "Sayang kenapa kamu tadi menatap Abraham seperti itu, kamu terlihat tak sepon di hadapanya..." Jordan yg masih terus menyetir mobil membalas perkataan istrinya "Ya memang aku tak sopan, tapi dia memang berhak mendapat hal itu karna dia ibu dan Adik ku di penjara." Tiara tak menyangka suaminya masih mempermasalahkan hal itu "Kenapa kamu masih mempermasalahkan hal itu sih, bukanya kamu juga tau mama dan Jordi juga salah..." Peria itu sudah tak bisa menahan emosinya ia pun menepikan mobilnya lalu ia menoleh pada istrinya "Tapi mereka tak sengaja melakukanya." Tiara semakin tak mengerti dengan jalan pikir suaminya "Apa kamu bodoh, dia melakukan itu semua karna istrinya hampir terbunuh oleh ibu dan adik mu, suami mana sih yg gak marah.."
"Tapi tetap saja dia salah. dan waktu di parkiran kenapa kamu menyapanya, apa kamu masih suka padanya!!." Tiara berusaha menahan emosinya karna saat ini ia sedang mengandung "Sayang sudah ku katakan, aku dan Abraham sudah tak ada lagi hubungan. Bukanya kamu lihat tadi dia sudah memiliki istri dan kami tak ada lagi hubungan selain sebagai kakak ipar dan adik ipar." Jordan yg sudah termakan api cemburu membentak Tiara "Tapi tetap saja itu salah!, apa itu bukan artinya kamu masih menyukainya..." Tiara tak habis pikir dengan perkataan suaminya "Aku menyapanya waktu itu hanya sebatas untuk memberi selamat padanya karna istrinya sudah melahirkan." Namuan jordan masih belum percaya "Gak usah bohong kamu, aku tau di samping di itu kamu menyapanya hanya untuk modus agar kamu bisa dekat dengan dia lagi bukan!!!."
__ADS_1
Tiara menatap suaminya "Untuk apa aku mendekatinya, sedangkan aku sudah punya suami, dan bahkan sebenatar lagi akan menjadi ibu dari dua anak aku tak mungkin melakukan hal yg tak bermoral seperti itu." Jordan menatap sinis Tiara "Adakah pencuri yg suka rela mengaku kalu ia mencuri pada polisi, tidak ada bukan, itu lah diri mu selalu tak mau mengakui kesalahan mu.." Tiara berusaha tenang ia tak pedulai suaminya menganggpnya seperti apa tapi yg jelas sekarang ia butuh ketenangan untuk menenagkan pikiranya "Sudahlah aku tak mau membahas ini lagi. Jika terus membicarakan hal ini kita takan tau kapan permasalahan ini akan selesai."
Jordan yg tak terima permasalahn ini selesai bigitu saja di buat semakin marah "Keluar.." Tiata menjawabnya "Apa..." Dan Jordan berteriak dengan keras "Kelur, kalu tidak aku akan menyeret mu paksa!!" Namun Tiara masih tak pedulai jordan keluar dari mobil lalu membuak pintu temapat istrinya,Tiara sedikit terkejut lalu ia di tarik paksa suaminya keluar "Sayang apa aan ini..." peria itu hanya menjawabnya "Kamu harus di hukum karna perbuatan mu, Agar kamu bisa merenungi apa kesalahan mu." Setelah berhasil menarik keluar ia menyeretnya sejauh mungkin lalu ia berlari ke mobil sedangkan Tiara yg sedang hamil kesulitan berlari dengan cepat apa lagi perutnya yg sudah terlihat membesar dan Jordan lalu melajukan mobilnya pergi, tiara terus meneriakinya untuk berhenti namun peria itu tak mempedulikanya.
__ADS_1
Tiara tak menyangka suaminya akan meninggalkanya di jalan yang sunyi dan bahkan pada saat musim salju yg paling parahnya pada saat ia di tarik tas nya terjatuh di bawah jadi ia tak memiliki ponsel maupun dompet jadi tak ada yg bisa ia minta bantuan "Oh tuhan apa yg harus aku lakuakan.." Tiara terpaksa berjalan untuk mencari orang yg bisa ia minta bantuan, karna itu sudah sangat sore cuaca sangat dingin jadi tak ada orang yg keluar dari rumah apa lagi tempat Jordan meninggalkan tiara sangat sunyi jadi gadis itu dengan kesusahan berjalan untuk mencari bantuan, ia berjalan terus selama setengah jam dan ia sudah merasa kedinginan ia menemukam sebuah supermarket dan terlihat sebuah mobil yg tak asing baginya keluar dari parkiran supermarket tersebut "Abraham..." ia berjalan mengkuti mobil itu dan mobil itu masuk ke sebauh perumahan elit dan ia terus mengkuti hingga sampai di gerbang rumah dan seorang penjaga menghampirinya "Anda siapa??" Tiara menjawabnya "Saya sahabat Abaraham.." peria itu terlihat tak percaya "Ku mohon panggil saja dia, dia pasti akan mengenali ku." Peria itu masih tak mau pergi "Ku mohon kasiahanilah aku, aku kini sedang mengandung dan aku sudah berjalan selama setengah jam..." peria itu pun dengan terpakasa menurut karna kasian lalu ia pergi memanggil Abraham ke dalam.
Windi yg melihat hal itu sedikit terkejut apa lagi wajahnya terlihat pucat "Astaga.." windi menyerahkan putranya kembali pada Baby sitternya lalu menghampirinya "Apa yg tetjadi pada mu.."Windi memegang wajahnya terasa begitu dingin "Astaga kamu dingin sekali." Windi membatunya melepas jaket tebalnya lalu ia mengantarnya masuk ia menoleh pada seorang pelaan wanita "Tolong bawakan nanti minuman hangat ke kamar tamu bawah.." Seorang pelayan yg merasa dirinya yg di perintahkan langsung melakukan apa yg di suruh nyonyanya itu dan mereka masuk ke kamar tamu "Kamu istirahat saja dulu di sini aku akan mengambilkan pakian untuk mu." Windi pun segera pergi, sedangkan Tiara segera kenyelimuti tubuhnya dengan selimut karna ia sudah sangat merasa kedinginan.
__ADS_1
Pada saat windi masuk kamar mereka ia segera ke ruang ganti lalu memilih pakian "Waktu akau hamil sebesar itu aku pakai baju yg mana yah.." Windi masih binggung harus memilaih pakian yg mana dan Abraham yg baru saja selesai mandi masuk ke ruangganti dan ketika ia melihat istrinya sontak ia memeluk istrinya dari belakang "Hay sayang, apa yg sedang kamu cari. Apa masalah wanita di luar tadi sudah selesai." Abraham mencium pipi windi sebentar dan Windi langsung menjawabnya "Yg di luar tadi kakak ipar mu." Abraham terdiam kendengarnya dan masih memikirkan siapa kakak ipar yg istrinya maksud, sedangkan gadis itu yg sudah mendapatakan pakian yg tepat segera melepaskan dirinya dari pelilukan suaminya lalu pergi, Sedangkan abraham masih berpikir "Kakak ipar ku, perasaan aku tak pernah memberi tau Tiara atau Jordan mengenai alamt rumah ku yg di sini.." tak lama terdengar suara ketukan pintu di luar kamar ia pun segera mengganti bajunya.
Bersambung....
__ADS_1