Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 120.Gagal Menculik


__ADS_3

Di kamar windi semakin ketakutan karna takut akan tertangkap , tak lama kemudian terdengar suara mobil Polisi di depan ruamhnya lalu suara tembakan pun terdengar windi semkin ketakutan lalu memegang tangan Jesi "Bagai mana ini jes.." jesi mencoba menenagkan nonaya danWindi kembali menangis "Tenag saja nona anda tak perlu hawatir, percaya pada para polisi ." Windi pun teringat hal yg terjadi berapa jam yg lalu, ia yg sedang tertidur nyenyak tiba-tiba mendengar sesorang masuk ke dalam kamar dengan tergesah gesah, ia yg merasa terganggu membuka matanya mencoba mencari tau apa sebeanrnya, terjadi ia bangun dari taempat tidur "Sayang kenapa sih ribut-ribut.." tiba tiba tanganya di tarik "Nona ayo kita sembunyi ke kamar mandi." Windi yg sudah sadar ternyata itu jesi dan terlihat di depan pintu Pak Rahmat mengunci pintu lalu ia juga mendorong lemari kecil di sampinya untuk menutup pintu, windi yg tidak paham dengan situasi saat ini menjadi panik "Apa yg terjadi, dan di mana Kristin dan bik ijah." Pak rahmat berbicara "Nona tak perku hawatir mereka bersembunyi di dalam kamar Bik ijah,nona cepat bersembunyi di kamar mandi ada penyusup yg masuk ke dalam rumah." Jesi yg sadar nonanya hanya sedang memakai Batrobe segera ke ruangang ganti baju dan mengambilkan sebuah daster padanya "Ayo nona ganti baju dulu." Jesi pun segera menarik windi ke kamar mandi untuk membantunya mengganti baju.

__ADS_1


"Jesi akan ku ganti sendiri sekarang kamu ambilkan hp ku biar aku menelfon polisi." Jesi menggangguk lalu segera keluar, windi pun menyelesaikan ganti bajunya tak lama kemudian terdengar suara tembakan windi sempat terdiam dan ia mulai menggingat pada saat ia di culik dulu dan tanganya mulai gemetar tak lama kemudian jesi masuk ke kamar mandi dengan pak Rahmat lalu langsung menunci pintu, jesi segera menghampiri nonanya lalu memberikan Hpnya windi langsung menelfon polisi ,Tak lama kemudian lampu mati, windi dan Jesi saling menatap satu sama lain, tak lama kemudian terdengar suara dari hpnya ia pun langsung menjelaskan siatusi sekarang tak lama kemudian terdengar suara tembakan dari lantai dua rumah, windi berbicara pelan namun suara tembakan itu semakin jelas windi yg ketakutan langsung mematikan hpnya ia hawatir jika nanti ada orang di luar yg mendengar suaranya maka tempat persembunyian mereka akan ketahuan dan kali ini ia mulai menangis lalu ia teringat suaminya, ia berusaha menengkan hatinya lalu mengirimkan pesan pada suaminya "Nona tenang lah, kita pasti akan aman di sini." Windi masih berlinang air mata menatap jesi lalu menggangguk dan menghapus air matanya.

__ADS_1


Tiba-tiba suara tembakan polisi tidak terdengar lagi dan Windi mengira hal ini sudah selesai tak lama kemudian terdengar suara pintu di luar kamar Windi seperti di dobrak, sontak ia berdiri dari duduknya "Apakah ini polisi hik..." windi sudah tak bisa berpikir jernih lagi dan pada saat windi akan membuka pintu pak Rahmat menahanya "Jangan nona, jika ini polisi tapi kenapa tidak terdengar siapa pun yg memanggil Kita dari luar " Tangan Windi semakin gemetar, ia pun mengurung niatnya untuk membuka pintu dan kembali menelfon suaminya dengan tangan yg bergetar ia menekan no hp suaminya dan langsung menelfonya "Ku mohon di angkat hik..." Tak lama kemudian Telfonya di angkat oleh suaminya "Halo sayang..." windi yg mendengar suara suaminya sontak menagis "Sayang cepat kesini hik..., mereka mencoba memuka pintu depan kamar hik.." Abraham semakain hawatir karna mendengar istrinya yg menagis "Tenaglah sayang, aku akan segera ke sana." Tiba-tiba terdengar suara tembakan yg bertubi-tubi pada pintu depan kamar sontak Windi berteriak dan langsung menutup telinanya sontak hpnya terjatuh dari tanya Jesi yg juga ketakutan memeluk Nonanya sedangkan pak Rahmat meminta nonaya untuk bersembunyi ke suduta dan tiba-tiba terdengar suara orang yg merusak pintu depan kamar dan tiba-tiba terdengar suara yg tidak asing bagi windi "Win, kamu dia mana. Aku datang untuk menolong mu." Windi yg ketakutan dan mendengar suara itu sontak berdiri dari duduknya "Robet.." pada saat dia akan melangkahkan kakinya tiba-tiba ia teringat dengan perkataan suaminya yg mengatakan untuk berhati-hati pada Robet windi kembali duduk.

__ADS_1


Robet yg mendengar hal itu sontak menoleh pada Rudi yg bersamanya saat ini "Siapa pengganggu itu ??" Dan tak lama seorang peria berlari menghampirinya dan membisikan seduatu padanya sontak matanya membulat "Jadi mereka gagal menahanya dan dia berhasil kemari bersama para polisi. Rudi kita kembali." Rudi pun langsung menelfon anak buahnya yg sudah bersiap untuk menjemput tauanya menggunakan Helicopter, Sebenarnya targetnya Windi sudah di depan mata namun ia mengurungkan niatnya karna tidak semudah itu membawa windi pergi tanpa melukainya apa lagi banyak polisi yg sudah berdatangan dan kemungkina kecil dia akan selamat "Kita pergi." Ia berguma dalam hati 'Bersabar lah, walau kali ini aku gagal menculik mu namun masih ada lain waktu lagi dan aku harus menyusun rencana yg lebih matang lagi dari ini. ' mereka pun segera ke balkon Kamar dan sebuah Helicopter datang menghampiri mereka sedangkan di dalamam ruangan Abraham yg mendengar suara Helicopter di balkon kamarnya mulai hawatir namun para polisi sudah satu persatu tumbang dan lantai bawah rumah itu penuh dengan darh dan mayat yg berjatuhan satu persatu abraham ingin lari dan mengejar Helicapter itu namun ia harus bisa percaya polisi di luar lalu ia melumpuhan satu persatu penjahat itu , Para mafia itu makin lama sakin berkurang karna terbunuh dan yg tersisa memutuskan untuk bunuh diri agar info tentang mereka tidak di temukan oleh polisi, abraham langsung berlari ke kamarnya dan melihat pintu kamar yg hancur krna terkena tembakan dan pada saat ia masuk yg ia syukuri pintu kamar madi masih tertutup ia membaranikan dirinya untuk mengetuk pintu dengan mata berkaca kaca "Sayang apa kamu ada di dalam." Windi yg mendengar suara suaminya sontak berdiri lalu berlari ke depan pintu, dengan gemetar ia memutar kunci pintu dan pada saat pintu terbuka sontak ia memeluk suaminya dengan air mata abraham memeluk erat tubuh istrinya "Syukurlah kamu masih hidup, aku kira aku akan kehilangan mu lagi." Abraham meneteskan air matanya, jesi dan pak Rahamat pun keluar dari kamar dan melihat sekeliling kamar rupanya pintu kamar itu hancur karna temabakn tadi dan seisi kamar juga rusak parah karna tembakan tadi.

__ADS_1


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2