Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 116.Petai


__ADS_3

Malam itu windi dan abraham makan di ruamah Ella di dapur karena kursi meja makan kurang jadi mereka duduk di lantai dan ini untuk pertama kalinya abraham makan di lantai ia terlihat kesulitan untuk mengatur posisi duduk, windi yg melihat hal itu berbicara "Sayang, duduk besila aja ." Abraham pun mengikuti seperti perkataan istrinya makanan tadi pun satu persatu di hidangkan di tengah lalu satu persatu mereka duduk melingkari makanan tadi seadngkan Baby Lucas sudah kembali tidur lagi di ayun.


Mereka pun mulai berdoa dan Abraham hanya mengikuti mereka setelah berdoa mereka satu persatu bergantian mengambil nasi dan Abraham kali ini lagi ikut mengantri dan di sesi mengambil sayur Abraham terkejut dengan isi sebuah piring lalu menunjuknya "Ini apa??" Windi menjawab "Itu sambel petai, enak lo itu salah satu makan kesukaan ku , tapi aku masih hamil aku gak bisa makan pedas." Abraham menatap istrinya seris "Tapi dari baunya sepertinya tidak meyakin kan kalok itu Enak di makan".


Ibu Ella berbicara "Nak Abraham udah pernah coba belum??"Abraham menggeleng "Kalok belum coba aja dulu, kalok coba gak usah banyak satu aja cukup." Abraham menatap Dimas yg terlihat sangat lahap saja memakanya, lalu Abraham kembali menatap petai tadi, guma abraham dalam hati 'Tenag Abraham, makanan petai yg gak enak itu mungkin Rumor, aku harus mencobanya' Abraham pun memberanikan dirinya untuk menyendok satu lalu  di taurnya ke atas nasi dan di ambil nasi itu lalu di masukanya di mulutnuya.


Aktivitas makan mereka sempat terhenti karna semuanya serius melihat Abraham memakan Petai tadi, tak lama kemudian Expresi abraham berubah jadi terdiam, windi pun beratnya "Bagai mana rasnya sayang??" Abraham pun menjawab "Tidak burus seperti yg ku bayangkan, ini sangat Enak." Dan mereka semua pun bernapas lega lalu tersenyum bahagia dan kembali melanjutkan makan mereka Abraham pun muali berani menggambil banyak petai tadi, mereka pun berbincang sedikit hingga tak terasa jam sudah menunjuk pukul 20.45 dan kini Abraham dan windi memutuskan untuk kembali pulang mereka berdua pun di antar keluar rumah.

__ADS_1


Tak lama kemudian pak Rahmat pun sampai lalu segera memutar mobilnya sedangkan Abraham dan Windi mulai berpamitan "Windi pamit pulang dulu, nanti kapan-kapan main lagi di sini." Ibu Ella berbicara "Iya nanti hati-hati di jalan ingat kalok ibu hamil gak boleh tidur sore sore, apa lagi kalok keluar malam-malam gini kamu harus sematkan jarum pentul atau peniti biar gak di ganggu mahluk halus." Windi menjawab "iya tante.." pada saat Windi akan pergi ia menoleh pada Ella dan Dimas "Windi pulang dulu tante Ella, om Diamas." Windi dan Abraham pun masuk ke dalam mobil, mobil itu pun mulai berjalan.


Di perjalanan Abraham terus memeriksa bau mulutnya,Windi yg melihat hal itu berbicara "Ada apa , apa mulut mu terasa bau??" Abraham menggangguk windi pun menjawab "Nanti sampai di rumah gosok aja giginya entar nanti hilang juga." pak Rahmat diam diam melirik mereka dari kaca sepion "Ada apa dengan tuan Nona??" Windi menjawab "Ini lo tadi dia makan petai terus baunya masih ada." Pak Rahmat tersenyum "Oh jadi pak Abraham suka makan petai yah, bagus kalok gitu Kalok bapak mau bau yg lebih menantang makan jengkol pak di jamaian gak gakalah Enak sama petai." Abraham menajwab "Engak deh pak, yg ini aja udah luar biasa parah baunya, rasanya enak tapi udah kali ini aja makanya udah gak mau makan lagi gak sangguk cium bainya." Terlihat abraham yg menutup hidunya karna tidak tahan dengan bau yg keluar dari mulutnya,Windi dan Pak rahmat yang melihat hal itu hanya bisa teratawa.


Malam itu,Roy yg lapar karna tidak tau ingin memasak apa ia memutuskan untuk mencari makan di luar, kebetulan ia melihat seorang


Roy menghela napasnya kesal setelah satu jam setengah dia tempuh kenapa dia harus di buat menunggu lagi dan pada saat dia akan membuka pintau mobil tiba-tiba ia terhenti karan melihat sosok seorang peria yg tidak asing bainya, guma Roy dalam hati 'Kenapa aku harus bertemu orang menyebalkan itu di sini.' Abraham merasa kesal,Rudi terlihat membawa satu bungkus yg isinya ada dua dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Roy di buatnya terkejut ketika mobil itu berjalan, bukanya kembali ke kota mobil itu malah pergi ke jalan kecil dan jalanya menuju ke dalam hutan Roy yg melihat hal itu lantas langsung keluar dari mobilnya "Dia ke mana, bukanya arah ke rumahnya bukan ke sana." Roy mencoba fokus saat ini dia harus segera memesan karna perutnya sangat lapar, Roy menghampiri penjual tadi lalu memesan bubur yg ia mau lalu menunggu di sebuah meja yg isinya banyak anak muda.


Roy yg masih penasaran di mana perginya Rudi beratnya pada salah satu anak muda yg kebetulan ada di sampinya "Eh dek, kakak mau tanya jalan berbatu di depan sana itu tembus ke mana??" Para pemuda itu menatap Roy lalu terdiam dan salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bicara "Maaf kak, kami gak bisa kasih tau." Roy yg melihat ekspresi anak-anak muda tadi yg terlihat tertawa kini terlihat seriusa, ia memutar otaknya untuk mancarai cara bagai mana ia bisa mendapatkan info itu bagai mana pun caranya.


Dan sebuah ide pun mulai terpikir oleh Roy "Bagai mana kalok kalian cerita kakak bayar 200 ribu per orang, kan kalian ada 5 jadi semuanya satau juta , bagai mana??" Mereka yg mendengar hal itu sangat bahagia, lalu mereka mendekat pada Roy lalu menjelaskan semua hal yg mereka tau dan Roy yg mendengar hal itu sangat terkejut lalu ia menatap anak muda tadi "Kalian harus berhati-hati pada mereka jangan mencari masakah juga pada mereka yg termasuk dalam organisasi itu semuanya kriminal, yg saat ini di cari polisi Rusia. Urungkan saja niat kalin untuk balas dendam, karna jika kalian melakukan hal itu mereka tidak akan segan segan membunuh kalian."mereka yg mendengar hal itu menjadi takut, tak lama kemudian Roy di panggil, tidak lupa ia meningalkan uanga senilai satu juta tadi di meja lalu pergi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2