Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 158.Menembak


__ADS_3

Malam itu mereka bermalam di Rumah sakit karna mereka baru boleh kembali pulang besoknya entah malam ini membuat Windi teringat mimi burunya yg ia takutkan menjadi kenyataan keran ruang Rawat tempat ia dia di rawat itu sama dengan mimpinya namun ia berusaha menepis pikiran buruk itu karan Fokusnya adalah anaknya jadi ia tak bokeh setres agar air Asinya tetap lancar, tak lama pintu kamar mereka terbuka dan memperlihatkan Abraham yg datang membawa satu buah box "Apa yg kamu bawa itu??" Abraham tersenyum "Aku kebetulan tadi pada saat membeli Kopi di bawah aku melihat Mereka juga menjual kue, jadi aku membeli berberapa apa kamu mau??" Windi mengangguk lalu ia mengambil bungkus kue tersebut "Wah donat, sudah lama tak memakan donat." Windi mengambil donat tersebut lalu memakanya, sedangakan Abraham membuaka satu box yg berisi kue Pastry lalu mengambil satu dan memakanya.


Baru saja Windi menikmati makananya salah satu anaknya menangis lalu ia segera menaruh kembali setengah donatnya yg belum habis ia makan ke  dalam kotak lalu menaruhnya ke atas meja yg ada di sampinya , ia turun dari ranjang lalu mengambil putranya yg menagis itu "Asataga Ternayata yg mengais yel mama." Windi langsung menyusuinya setelah itu ia berjalan jalan  agar anak itu tertidur namun bukanya tidur ia malah membuka matanya "Astaga anak mama mau buat mama begadang yah ." Windi melihat jam sudah menunjuk pukul 12 malam, Windi memutuskan untuk kembali duduk ke kasurnya sambil menyusui ia juga melanjutakn makannya, Abraham melihat putra keduanya itu yg membuka matanya "Ngapain di buka matanya, lagi pula belum bisa lihat juga, mending kamu bobok aja kayak kakak mu." Windi yg mendengar hal itu tersenyum "Yel dengar gak, papa mu suruh kamu tidur kayak kakak Rel." Bayi itu masih terus menyedot Asinya, sedangkan Abraham yg ingin mengerjainya menarik dada Windi lalu putinya terlepas dari mulutnya wajahnya mulai berubah dan ia kembali mengis, windi memukul Abraham lalu kembali menyusui anaknya "Astaga papa mu itu mucil sekali, tak bisakah ia diam dan berhenti untuk mengganggu anaknya yg sedang menyusui ini." Sedangkan Abraham sangat senang karna berhasil mengganggunya sekarang ia berencana untuk mengganggu tidur anaknya yg ada di dalam tabung, Abraham bangkit lalu Windi menatapnya sinis "Apa kamu ingin menggunya lagi..." abraham tersenyum lalu kembali duduk rupanya rencanya ketahuan.

__ADS_1


Tak lama Rafael tak menyedot asinya lagi dan windi segera memasukan lagi dadanya, namun  anak itu belum tidur ia malah terlihat Aktif,Windi memeriksa popok yg di pasang pada anaknya "Ini rupanya yg menjadi penyeabab kamu bangun, Pa tolong ambilkan popknya dan tisu basah dong.." Abraham mengangguk lalu mengambilnya dan memberikanya pada Windi "Apa popoknya penuh??" Windi menjawabnya "Sepertinya ia pup, coba kamu periksa dulu Farel siapa tau ia pup juga biar langsung di ganti, anak itu kalau sudah baring pasti tidurnya sangat nyeyak." Abraham menurut lalu memeriksanya, Windi pun mulai menganti popok Rafael "Ma, Farel juga pup tapi kenapa ia begitu tenag sekali?" Abraham mengkatnya "Mungkian ia tak menyadarinya." Windi baru selesai memasangkan popok Untuk Rafael baru Adam datang dan menaruh Farel di samping adaiknya "Kamu ambil dulu adeknya biar aku ganti popoknya." Abrahm pun mengambil Alih Rafeal yg masih terbangun sementara windi menganti popok Farel yg masih asik tidur namun, tiba-tiba Farel tersenyum padahal iya sedang tidur Windi memang tak melihatnya namun Abraham yg melihat seketika terkejut "Eh... kok malah ketawa." Windi menoleh pada putranya yg tak henti tersenyum, windi membelai pipinya dengan jarinya "Mimpi apa sampai membuat anak mama senyum gitu." Akhinya ia berhenti tersenyum lalu windi kembali memindahkanya ke dalam tabung sedangkan Abraham masih menggendong Rafael, malam itu Putra ke dua mereka itu baru tidur pada pukul 1 malam namun pada pukul 2 malam baru putra pertama mereka menangis dan Windi senang tiasa menjaganya sedangkan Abraham yg sudah tak kuat lagi untuk bangun tetap tidur karna ia sudah sangat lelah.


Keesoknya Abraham terbangun dan terkejut melihat istrinya yg masih tidur dan dua anaknya masih di dalam tabung untung saja mereka tidak menangis karna mereka terlihat tertidur pulas "Jika tak ada istri ku yg mengurus mereka semalam, mungkin aku akan bergadang dengan mereka semalaman." Tiab-tiba perutnya bersuara "Sepertinya perut ini membutuhkan Asupan." Abraham melihat jam yg menunjuk  pukul 7 pagi, ia bangkit dari barinya lalu berjalan ke luar dari Ruang rawat tersebut lalu segera menuju lift pada saat lift terbuka tanpa ia sadari ia di perhataikan pada saat keluar,  Abraham berpas-pasan dengan berapa bodyguardnya yg akan berjaga di luar kamar Windi namun simon terlebih dahalu membeli kopi jadi Abraham tak sempat menyapanya langsung dan langsung pergi ke ia memutuskan hanya pergi berjalan karna di depan rumah skait itu ada tempat makan cepat saji ia masuk dan membeli berberapa ayam, berger, kentang dan kokakola. Pada saat ia keluar ia melihat Rudi dari jarak jauh yg mengeluarkan senjata apinya lalu menembakan secara bertubi-tubi para pengendara yg kebetulan lewat banyak yg tertembak dan mati di tempat sedangkan Abraham sempat menghindar dan bersembunyi di balik mobil-mobil tersebut "Astaga sial dia malah menyerang di sini." Di sisi lain Simon yg mendengar suara tembakan dari luar segera berlari keluar padahal namanya sudah di panggil.

__ADS_1


Windi terbagun ia menoleh sampinya kedua putranya masih tertidur ia tersenyum menatap mereka tak lama terdengar suara teriakan perawat di luar dan suara tembakan Windi segera bangkit dari ranjanganya lalu mengkat kedua anaknya, setelah itu ia menyembunyikan mereka di balik tirai, ia membelai pipi mere sambil berusaha menahan tangisnya "Hal yg aku takutkan terjadi juga, kalian harus bisa selamat." Windi mencium kening dua putranya yg masih tertidur pulas ia bangit lalu segera berlarai ke pintu keluar lalu membukanya ia berhadapan dengan seorang pria yg pernah ada di mimpinya dan peria itu menatap tajam Windi "Kamu wanita yg menjadi penyebab kematian keponakan ku, matilah dan ikut bersama kami ke neraka." Windi tak bisa bergerak karna takut dan matanya berkaca kaca tak ada yg bisa ia lakukan dan pasrah akan kenyatan yg penting kedua anaknya aman, peria itu pun menembak sebanyak empat kali dan mengenai bagian tubuhnya hinga ia terjatuh kelantai bersimbah darah, sebelum matanya tertutup ia mendengar peria itu menembak dirinya tepat pada dadanya sebanyak satu tembak dan ikut jatuh ke lantai,sebelum matanya tertutup sempurna ia berbicara di dalam hatinya 'Mungkin ini adalah akhir dari hidup ku, aku bersyukur anak ku selamat aku harap mereka dapat melanjutakan hidup bersama ayahnya, Aku bersyukur karna dapat melahirkan kalian dan aku juga bersyukur bisa memiliki suami yg dapat menerima kekurangan ku, Aku menyagi kalian.' perlahan mata mata windi tertutup.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2