
Setelah kejadian itu seperti tidak ada satu pun media atau berita yg membahas tentang kerusuhan itu dan polisi juga menghentikan penyelidikan dan bahkan orang-orang yg tinggal di sana seakan tidak tau apa yg terjadi, seperti semua orang sudah di buat tutup mulut entah oleh siapa tapi yg pasti orang itu pasti sangat kaya dan berpengaruh dan bahkan Abraham putra saja masih meminta anak buhnya untuk menyelidiki siapa orang yg bisa menutup mulut kepolisian dan orang yg menjadi saksi kejadian tersebut. Saat ini windi dan Abraham sedang berada di salah satu hotel miliknya untuk sementara waktu dan para pekerjanya yg selamat masih di rawat di rumah sakit.
Kini windi sedang berada di balkon kamar dan menghirup-udara segar di malam hari ia masih ketakutan untuk kembali apa lagi menggingat semua yg terjadi berapa waktu lalu jangankan menginjakan kaki di rumah itu mengginganya saja sudah membuat windi sudah gemetar ketakutan. Di dalam Abraham yg baru selesai berbicara bersama Jek sebelum ia akan pergi ia berpesan pada Abraham "Aku menyarankan untuk mu jangan menggingatkan dia tentang kejadian berapa waktu, lalu biarkan dia tenang Itu pasti begitu sulit untuk melupakan apalagi menggingat dia sedang hamil ia pasti sangat trauma." Abraham mengangku "Baiklah, akan ku ku lakukan." Jek pun segera pergi, abraham perlahan berjalan mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang "Apa yg sedang kamu lakukan di luar begini tanpa memakai mantel, entar kamu kedinginan lo." Windi menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya "Aku sedang berusaha mencerna apa yg terjadi berapa waktu lalu, banyak polisi yg datang dan gugur tapi tak ada berita yg membahas tentang mereka, bagai mana nasip keluarga mereka apa mereka tau??"Abraham mencium puncak kepala istrinya "Tenag saja, semua sedang di selidiki oleh orang kepercayaan ku." Windi berbicara "Bagai mana juga dengan pekerjaan mu, kamu berapa waktu ini hanya menghabiskan waktu bersama ku saja???" Abraham tersenyum "Aku bekerja dari sini, lagian juga uang itu untuk ku hanya sebuah kertas dan tak ada artinya lagi, sekarang yg berati bagi ku hanya istri dan calon buahati ku." Windi menole pada suaminya , dan abraham pun menunduk dan mata mereka saing menatap satu sama lain, ia pun mengecup bibir istrinya "Ayo sekarang kita istirahat, Besok aku akan ke kantor sebentar karna ada rapat." Windi mengganguk lalu mereka pun masuk ke dalam.
__ADS_1
Di sebuah restoran mewah Rudi menemani Robi bertemu dengan salah satau clientnya di sana, pada saat mereka masuk ke ruang VVIP itu seorang pria paruh baya yg sedang menunggunya di dalam "Selamat datang tuan Robi, mari kita bicarakan masalah kemarin." Robi tersenyum lalu langsung duduk di depanya "Aku sudah meminta mu untuk membunuh Abraham putra tapi kenapa tidak berhasil. Aku terpakasa harus membuangkam Awak media dan polisi serta orang yg menyaksikan kejadian itu." Robi tersenyum "Tuan apa yg kamu lihat hanya pemanasan saja, dan para anak buah ku yang mati di sana hanya hanya sedikit dari anak buah ku dan waktu itu aku hanya mengujinya ternyata ia oranya santi dan tidak Waspada." Peria tadi kembali tersenyum "Benar kah, baik lah akan ku berikan kamu kesempatan ke dua dan jika kali ini berhasil akan ku bayar tiga kali lipat dari yg aku tawarkan pertama kali." Robi tersenyum "Baiklah, jadi aku hanya perlu membunuh Abraham putra dan sisanya bisa ku ambil kan. " pria paruh baya itu berbicara "Terserah saja, mau kamu apakan sisanya yg penting Abraham putra harus mati."
Tiba-tiba pintu ruangan mereka di buka oleh seorang sontak Rudi mengeluarkan pistolnya dan menyodorkanya di pintu tersebut, pada saat pintu terbuka seorang anak wanita keluar yg kira-kira usianya masih 8 tahun anak itu yg melihat pistol langsung ketakutan dan menatap papanya, peria paruh baya itu hanya bisa menghela napas pelan "Apa lagi kamu datang ke sini, bukanya kamu bilang ingin pergi ke Mall bersama mama." Rudi kembali ke posisinya , anak tadi pun sontak berlari pada papanya "Papa, siapa peria menyeramkan itu??" Peria paruh baya itu menunjuk Robi dan Rudi "Oh dia, paman ini sahabat papa, namanya Rudi dan Robi." Robi tersenyum menatap anak itu sedangkan Rudi menatap anak itu dinggin namun walau ekspresi mereka biasa saja anak itu tetap merasa takut, lalu memeluk Ayahnya "Papa ayo kita pulang,aku tak suka dua orang itu, mereka terlihat menyeramkan." Ayahnya menghela napas pelan lalu langsung berdiri dan menggenggam tangan putrinya itu "Ku pulang dulu dan aku sudah memesan makan, jadi makan lah aku mau langsung pulang bersama putri ku." Robi membalas "Di luar jangan memanggil aku Robi..... anda mengerti kan." Peria paruh naya itu berbicara "Iya iya, tenag saja aku di luar akan memanggil mu Robet." Peria itu pun langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Di perjalan tak sengaja Rudi dan Robi melewati Toko bungga "Berhenti sebentar Rudi." Rudi menghentikan mobilnya "Belilah satu buket bunga Spider Lily." Rudi terkejut "Maksud tuan untuk di berikan pada..." Rudi tak berani menyebut nama paman Robi." Sudah diam lah, cepat pergi." Rudi pun dengan tergesah gesah keluar dari mobil , sedangkan Robi menutup matanya sejenak untuk mengistirahatkan dirinya sejenak. Tidak butuh waktu lama akhirnya Rudi datang lalu di taruhnya bungga itu ke kursi belakang lalu mereka pun kembali menjalankan mobil tersebut hinga sampai ke rumah sakit. Sesampai di sana ia turun dari mobil dan dengan gaganya ia membawa bunga itu masuk ke dalam lift, dia dalam Lift semua orang melirik dia bukan hanya karna ketampanannya namun karna bungga yg ia bawa, setelah pintu terbuka ia keluar lalu menghampiri kamar VVIP tempat Pamanya di rawat pada saat pintu di buka Rudi lalu mereka langsung menghindar tak lama kemudian sebuh Vas bunga terlempar dari dalam dan pecah mengenai dinding luar terlihat pamanya yg baru dari kamar mandi dan suster yg mengangkatnya terkejut "Dasar Anak Bodoh....." sedangkan Robi biasa saja menaggapinya.
Bersambung.....
__ADS_1