
Berapa hari berlalu kini Windi sudah
boleh pulang dan Windi yg mendengar hal itu begitu bahagia walau mereka belum bisa kembali ke negara asal mereka karna Bayi mereka masih berusia satu bulan dan usia yg di perbolehkan membawa bayi ketika berpergin mengunakan pesawat adalah 3 bulan atau lebih, hari ini mereka bersiap-siap untuk pulang windi sudah selesai menganti pakianya dan barang barang lainya juga sudah di bawa Simon, lalu ia mengkat Rafayel yg di baringkan tadi di kasur sedangan Abraham sudah mengangkat Farel, kedua bayi itu di selimuti pakian tebal dan selimut tebal karna di luar cuacanya sudah mulai memasuki musim dingin dan suhu nya di bawah 21°C.
__ADS_1
Pada saat mereka keluar dari rumah sakit Windi sudah dapat merasakan dinginya cuca di luar dan mempercepat langkahnya menuju mobil sedangkan Abraham santai saja "Papa, cepat kasian kakak kedinginan." Abraham pun mempercepat jalanya lalu mereka segera masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun mulai berjalan "Kita nanti setop di supermarket yg dekat rumah yah, ada berapa barang yg ingin aku beli di sana." Supir tersebut mengangguk, dan Abraham yg penasaran bertanya "Kamu mau beli apa ma??" Windi menjawabnya "Aku mau beli popok,susu untuk ibu menyusui dan cemilan." Abragam yg mendengar hal itu tersenyum menatap istrinya "Emanag yah , mulutmu ini takan pernah bisa berhenti mengunyah apa-apa cemilan apa cemilan, pas udah gemukan baru porotes." Windi menatap suaminya "Kali ini aku gak takut gemuk kok lagi pula selama di rumah sakit berat badan ku sudah berkurang 3 kilo jadi tak masalah."
Taklama putranya yg berada di pelukanya manangis lalu ia melepas dulu pakain dinginya setelah ia ia mengkat pakian rajutnya dan memperlihatkan perutnya lalu ia langsung menyusuai anaknya Abraham yg melihat hal itu terkejut langsung mengambil selimut bayi di dalam tas yg memang sudah di siapakan di dalam mobil lalu menutup mereka dan Windi yg melihat hal itu sedikit terkejut "Astaga papa kok wajah adek di tutup sih??" Windi pun langsung menjauhkan selimut tersebut Abraham dengan kesal menjawab "Itu lo dadamu." Windi menoleh ke bawah setelah ia ia kembali menoleh pada suaminya "Oh, lain kali kasih tau dulu jangan main nutup aja kayak mana kalok kenak baby Yel??." Abraham menjabnya "Iya aku minta maaf sekrang kamu tutup." Windi pun mengambil selimut tersebut lalu menutup dadnya hinga ke bawah dan ia sengaja membiarkan sampingnya terbuka lebar agar ada udara yg masuk, tiba-tiba Farel terbangun namun anak itu tak menangis ia hanya diam dan matanya terus melihat sekelilingnya dan Rahel yg melihat hal itu langsung memegang pipi putar pertamanya itu "Astaga anak mama udah bangun saja." Windi pun tak sak sengaja melihat tempat makan cepat sajai "Pak bisa kah kita pergi ke tempat makan cepat saji itu??" Supir itu yg mendengar hal itu memutuskan untuk putar balik dan menuju tempat makan cepat saji tersebut pada saat sudah sampai di parkiran Windi menatap suaminya "Sayang kamu yg pergi beli yah, aku lagi nyusu adek, lagi pula kakak gak cerewet juga sama papanya." Abraham menghela napas pelan ia sudah menduga bahwa ia yg akan di suruh "Kamu mau beli apa??" Windi dengan semangatnya menjawab "Aku mau berger, ayam, dan kentang ." Abraham pun segera pergi dan masuk ke dalam lalu langsung memesan dari monitor setelah selesai ia pun menunggu di sebuah kursi sambil terus berusaha berinteraksi bersama anaknya itu itu tak lama terlihat seorang wanita cantik berpakian mini bersama seorang pria paruh baya dan Abraham yg melihat hal itu pura-pura tak melihat karana wanita itu menurutnya tidak asing namun ia tak peduli wanita itu terliht sedang bertengkar dengan pria paruh baya itu "Sudah jangan mengikuti ku lagi, aku muak melihat wajah ku, bisa gak sih kamu enyah dari hadapan ku." Peria paruh baya itu berusagha membujuknya "Sayang sudahlah, jangan ngambek seperti ini mari kita bicarakan baik-baik dulu." Wanita itu menatapnya "Lebih baik kamu kembali ke mobil atau nanti aku akan semakin marah pada mu ." Peria paruh baya itu pun menurus sedangkan Wanita itu menghela napas pelan "Dasar pak tua gak tau malu, dia bahkan menceraikan istrinya hanya karna mau bersama ku, apa ia masih saja tidak sadar dan begitu naif mungkin ia mengira aku orangnya biak-baik padahal sebenarnya aku cuman mau menghabiskan ungnya saja." Wanita itu pun menekan nekan apa yg ia akan pesan di layar sedangkan Abraham yg melihat hal itu tak menyanga wanita itu membicarakan pasanganya di belakang.
__ADS_1
Abraham menatap sinis "Maaf saya tak menggingat wanita rendahan yg pernah aku tiduri dulu, jadi tak usah ganggu hidup ku lagi." Abraham pun langsung meningalkanya sedangkan Lisa masih berusaha menahanya dan dengan kasar abraham menghempaskanya menjauh dari dirinya "Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu." Abaraham pun segera meninggalkanya dan adegan itu di saksikan oleh berberapa pekerja dan pembeli di tempat makan cepat saji tersebut, setelah sampai di mobil Abraham segera masuk dengan kesal ia berbicara"Apa kamu tau gara gara mu akau bertemu wanita gila di dalam sana." Windi yg mendengar suaminya yg tiba-tiba marah langsung menengkanya "Emanag apa yg terjadi sayang??" Abraham sama sekali tak mau menjawabnya ia terlihat kesal dan Windi pun meraih tanganya dan mengaitkan tangan mereka satu sama lain "Aku minta maaf karna meminta kamu yg pergi dan aku sama sekali tak tau apa yg terjadi di sana tapi aku sangat minta maaf." Abraham berusaha menengkan hatinya yg kesal "Tak papa, sekarang kita pulang saja langsung." Mobil itu pun mulai berjalan mengingalkan parkiran tempat makan cepat saji tersebut.
Bersambung.....
__ADS_1