
Keesokanya windi lebih dulu mandi sedangkan Abraham menjaga kedua anaknya sambil bermain dengan mereka tak lama kemudian windi keluar hanya mengunakan handuk ia menoleh pada jendela "Untung saja salju sudah berhenti. Cepat lah mandi setelah itu kita akan pergi." Abraham bangkit lalu berjalan menghampirinya windi sedikit tekejut ketika tau peria itu sudah ada di sampingnya dan langsung mengecup bibirnya singkat, Windi sedikit rish lalu mencubit pingangan Abraham "Dasar mesum.." Abraham tetsenyum lalu segera ke kamar mandi, windi masuk ke ruang ganti baju sebentar lalu mengambil sebuah dres hitam dan berberapa pakian dalamnya lalu ia memakianya di luar sambail melihat kedua anaknya tak butuh waktu lama ia sudah selesai berganti lalu memoleh wajahnya sebentar dan menyisir rambutnya dan ia kembali masuk untuk mengambil pakian suaminya.
Tak lama Abraham keluar dari kamar mandi ia menghampiri ranjang dan mencium-cium kedua buahatinya padahal rambutnya dan badanya masih basah dan ia hanya menggunakan handuk di pinggangnya, kedua anak itu yg terkena basah rambut Abraham sedikit terkejut berbeda dengan peria yg jahil itu ia malah tertawa ketika melihat Ekspresi kedua anaknya yg terkena basah rambutnya mereka terlihat sangat imut baginya dan pada saat windi keluar dari ruangganti baju ia terkejut karna suaminya mengganggu anaknya "Astaga papa.." windi menghampiri suaminya lalu ia menariknya menjauh "Jangan di ganggu anaknya dong.." Abraham malah tertawa lalu Windi pun menyerahkan bajunya "Pakai ini.." Abraham pun menurut dan langsung ke ruang ganti baju sedangkan Windi memeriksa mereka sebenatar setelah itu ia kembali melanjutkan tugasnya kembali mengambil perlengkapan pakaian untuk kedua bayinya, handuk lembut , serta berbagai minyak minyakan dan di taruh di atas kasur, kemudian ia mengambil sebuah ember kecil yg memang sudah ia siapkan dan berjaln ke kamar mandi untuk mengisi airnya.
__ADS_1
Ia tak membutuhkan waktu lama untuk mengisi ember itu dengan air hangat lalu ia keluar dari kamar lalu menaruhnya ke atas meja perlahan ia membuka pakian Farel setelah itu ia kembali membasahi handuk tadi dan mulai menyeka tubuh putranya itu, anak itu terdiam karna air yg windi gunakan ialah air hangat jadi ia tak kedinginan, tak lama Abraham keluar dari ruang ganti baju ia terlihat tergesa-gesa dan langsung duduk di meja kerjanya lalu langsung memegang leptopnya. Windi membutuhkan waktu satu satu jam baru selesai mengurus mereka berdua dan Windi yg melihat kedua pangeranya sudah harum dan tanpan begutu bahagia dan mencium mereka satu persatu "Anak mama udah pada ganteng-ganteng." Windi pun menoleh pada suaminya "Apa pekerjaan mu banyak??" Abraham menjawabnya "Hanya sedikit saja, ini saja sudah mau selesai." Windi pun memanfatkan waktu itu untuk memberikan Asi kepada kedua anaknya namun karna Dress yg ia pakai begitu sulit untuk mengelurkan Dadanya dari atas ia terpaksa mengangkat Dressnya lalu menyusui kedua anaknya itu, akhirnya Abraham selesai dengan pekerjaanya ia menoleh pada istrinya ia sedikit terkejut "Sayang apa yang kamu lakukan." Windi dengan santai menjawab "Apa kamu tak melihat aku sedang menyusui anak-anak." Abraham menepuk jidatnya sebentar "Kenapa baru sekarang sih, coba waktu itu kamu menyusui mereka, pas sudah pakia Dressnya baru ingat." Windi menjawabnya "Aku lupa." Abraham pun menghampiri istrinya "Apa peria tua itu sudah mengirim alamatnya." Windi menjawabnya "Gak tau, coba kamu periksa dulu hp mu." Abraham mengambil hpnya sebentar lalu membuka pesan rupanya sudah di kirim, jadi Abraham langsung membukanya.
Setelah itu ia kembali menaruh hpnya lalu menghampiri windi "Apa sudah selesai, katanya tempatnya di sebauh gedung Kremasi xxx??" Windi menatap Suaminya "Apa kamu gak lihat, mereka." Abraham menatap dua bayi tersebut lalu ia menyentuh pipi salah satu dari mereka dengan jari telunjuknya "Sudah itu, papa dan mama mu ini juga lapar bukan hanya kalian saja yg bisa lapar." Namun karna kedua anak itu masih belum mengerti jadi mereka tak mempedulikanya, windi pun berbicara "Nanti kita membeli bunga untuk di bawa ke sana." Abraham menjawabnya "Tak usah,aku sudah mengirimkan ber-berapa karangan baunga ke sana jadi kamu tak perlu hawatir." Peria itu menatap Istrinya dan kembali melanjutkan kata katanya "Aku masih penasaran apa mimpi mu tadi malam??" Windi terdiam ketika suaminya bertanya namun karna ia sudah berjanji jadi ia memberi taunya dan Abraham yg mendengar hal itu hanya mengangguk yg artinya ia mengerti dengan apa yg di ceritakan istrinya.
__ADS_1
Abraham menatap istrinya lagi "Lalu bagai mana dengan anak-anak, apa kita akan menelantarkan mereka di sini." Windi menggeleng, ia pun menghela napas pelan "Ini susahnya kalok sudah melahirkan jadi susah bergerak ke mana-mana." Windi menatap suaminya dan kembali berbicara "Bagai mana dengan mu sayang, apa kamu akan kembali siapa tau ada pekerjaan penting yg mengharuskan kamu pulang??" Abraham menggeleng "Untungnya tak ada, tapi kita gak tau kedepanya." Windi terlihat sangat bosan "Lalu apa yg akan kita lakuakan, aku sangat bosan...." Abraham menjawab istrinya "Bukanya kamu bisa saja pergi berbelanja seperti wanita-wanita sosialita lainya??" Windi menjawab suaminya "Tapi aku hanya kadang kadang saja suka belanja gak sering-sering, aku lebih suka menghabiskan waktu menton Anime." abraham tersenyum menatap istrinya "Ku kira kamu akan lupa pada Anime setelah memiliki anak." Windi menatap suaminya "Sayang jangan kamu kira yah, setelah memiliki anak aku akan lupa, karna aku tipe wanita setia jadi takan pernah melupakan para mantan kekasih ku apa lagi pacar-pacar ku yg tidak nyata itu." Abraham meminum kopinya lalu kembali berbicara "Bagai mana dengan ku, apa kamu akan setia pada ku."windi lansung menjawabnya "Kamu kan suami ku, yg pasti aku akan selalu bersama mu sampai masa tua ku." Abraham senag mendengarnya taklama windi melanjutkan kata-katanya "Sudahlah ayo cepat kita habiskan makanan kita setelah itu kita pergi." Windi segera menghabiskan makanan dan minumanya dan Abraham yg melihat hal itu merasa gemes dengan istrinya ingin sekali ia mencubit pipinya yg cabi itu.
Bersambung....
__ADS_1