
Windi berbaring di tempat tudur rumah sakit sambil terus melihat jendela rumah sakit tanpa berbicara sama sekali sedangkan di sofa ruang tamu Julius dan Marim me jaganya dan Eli beraa di luar sambil terus berusaha menelfon Abraham yg sama sekali tak ada jawaban dari peria itu "Sialan, dia masih tak mau menjawab telfon ku." Eli mematikan hpnya lalu memasukanya pada sakunya pada saat ia akan membuka pintu ia melihat ibunya menghampiri windi terlihat dari kaca pintu kamar yg tidak terlalu besar hanya kcil dan ia juga bisa mendengar apa yg ibunya bicarakan "Win apa kamu lapar, ayo makan dulu dari semalam kamu belum makan." Gadis itu masih tak mau bicara dan masih terus terdiam dan tiba-tiba hp Eli berdering dan peria itu pun segera menggmbil hpnya dan memeriksa siapa yg menelfon.
"Akhinya ini anak menelfon juga..." ia menjawab telfon itu sambil berbicara "Hey bajingan di mana kamu, berani sekali kamu pergi setelah membuat istri mu menangis..." Abraham sempat terdiam sejenak mendengar suara Eli, perlahan ia buka suara , suaranya terdengar berat seperti orang yg frustasi "Tolong jaga dia buat aku, aku akan kembali lebih dulu dan menyeledaikan masalah ku...."Eli berdecak kesal "Cih.., salam perpisahan mu itu sangat bruk, apa membuat istri menangis adalah salam perpisahan terbaik yg pernah kamu pikirkan. Apa kamu tau, dari semalam istri mu belum makan dan dia juga belum mengelurkan sapath katapun dari kami datang menjenguknya sepertinya ia cukup tertekan...".
__ADS_1
Abraham merasa bersalah meninggalkan istrinya dengan cara seperti ini namun ia sudah bertekat untuk kembali tidak mungkin ia kembali lagi ia sudah berjanji pada dirinya untuk segera menyelesaikan masalahnya setelah itu ia akan segera menjemput istrinya "Maaf tapi aku sudah tak bisa kemabli dan ini sudah menjadi pilihan ku." Eli tersenyum kecut "Jangan pernah menyesal jika suatu saat setelah kamu kembali kamu akan di benci oleh istrimu sendiri..." Abraham menajwabnya "Karna ini sudah menjadi pilihan ku, maka aku akan menanggung semua kosekuwensinya, jadi jaga dia baik-baik aku percaya pada kalian...." telfon itu pun berakhir. Setelah menelfon Abraham ia mekbali masuk "Paa, sudah pergi.." Ayahnya yg mendengar hal itu sangat menyayangkan dengan keputusan Abraham "Tak ku sangka dia akan mengucapkan salam perpisahan dengan cara seperti ini. Jalan pikirnya memang sulit untuk di tebak..." ibunya yg mendengar hal itu menjadai iba pada Windi, ia di samping windi sambil terus mengelus puncang kepalanya "Sudahlah sayang jangan sedih di sini mama akan menjaga mu." Perlahan di sudut mata windi mengelurkan Air mata namun tak ada yg sadar kana windi membelakangi mereka.
Di bandara Wasington Abraham menunggu keberangkatan pesawat peribadinya yg akan sampai dari Jerman sementara itu ia keluar dan melihat daun-daun sudah berubah menjadi kuning dan merah dan ia menggingat keingin istrinya yg ingin kembali untuk berfoto "Tenag saja semua ini akan segera selesai dan kita akan segera melihat pohon yg indah-indah ini." Tak lama seoang anak buahnya mendekat pada Abraham "Tuan sepertinya mereka sudah menemukan peria yg menyup polisi dan saksi yg melihat peristiwa waktu itu." Abraham tiba-tiba menjadi serius ia mengulur tanganya dan peria tadi pun memberikan tablet padanya dan para bodyguardnya memeriksa sekitar lalu Abraham berjalan masuk ke sebuah tempat makan di bandara dan benar saja Ruangan itu sudah di kosongkan untuknya dan CCTV juga sudah di matikan dan ia duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
Hp windi berdering di sampinya namun ia tak menjawabnya sama sekali dan masih diam , Mariam pun memutuskan untuk menjawabya "Hah Abraham..." wanita paruh baya itu pun menjawab telfon Abraham "Ada apa ??" Abraham tersenyum "Aku merindukan istriku tolong berikah hp padanya " Miaraim melirik Windi sebenatar namun sangat meragukan sekali untuk memberikan hp padanya, apakah ia akan menajwab perkataan suaminya apa lagi dia saja sangat tahan mendiamkan mereka apalagi nanti kalok yg menelfon suaminya mungkin ia akan tetap diam namun tak salahnya mencoba, wanita parub baya itu menekan sepiker lalu menaruh hp tadi di bealkang tubuh Windi lalu kembali duduk di Sofa bersama suaminya dan anaknya "Ada apa maa??" Mariam menjawab suaminya "Itu Abraham mau bicara dengan istrinha jadi mama birkan mereka bicara dulu."
Terdengar suara lembuat Abraham "Sayang...." namun taka da jawaban tapi peria itu tak menyerah "Sayang udah dong ngambeknya, maaf kan aku gak bermaksud menyakiti mu waktu itu..." belum selesai ia menjawab windi membalikan bandaya lalu mengambil hpnya dan berbiacar dekat dengan hp dengan suara yg besar "Pergia saja sana, kalok bisa gak usah balik lagi." Abraham tersenyum akhirnya istrinya mau bicara wakau suaranya sedikit membuat ia terkejut setiaknya istrinya yg suka marah-marah balik "Benarkan, apa kamu tidak akan merindukan ku nantinya??" Windi dengan kesal menjawab "Gak bakal, aku muak liat wajah ku dasar Abraham putra Jelek..." Abraham akhinya bisa tertawa karna istrinya setelah berberapa jam terdiam memikirkan Apa kosekusi yg akan ia dapat "Itu berati anak kita juga nanti jelek dong kayak aku??" Windi dengan kesal menjawab "Gak akan, karna mereka berdua hanya mirip aku, gak ada yg mukaknya kayak kamu." Abraham tersenyum "Iya iya kamu yg paling bener deh. Kamu nanti di sana jaga kesehatan baik-baik aku akan segera menjemputmu karna aku gak akan lama, jagan menyusahkan Mariam dan Julius turutilah kata mereka, kalok Eli berani mendekati mu suruh saja simon hajar wajahnya, doakan selama aku di seni dan semoga semuanya berjalan dengan baik." Terdengar suara tangisan Windi yg membuat Abaraham terkejut "Eh sayang kamu menanggis..." windi yg menagis sempat sepatanya berbicara "Dasar bodoh..." lalu Tekfon itu pun di matikan Dan Abarham terkejut lalu tersenyum menatap layar hpnya "Setelah semua hal yg kau lakukan kamu masih mau berbicara padaku, aku sangat beruntung bisa mendapt mu dan penyesalan karna pernah menyakiti akan selalu terasa ."
__ADS_1
Bersambung.....