
Sesampai di rumah sakit Windi langsung di tangani dan untungnya mereka cepat pergi jadi kondisinya tidak terlalu parah dan kini ia sedang tidur di ruang rawatnya dan abraham masih senang tiasa menunggu istrinya itu untuk bangun, tak lama ia mendengar ketukan dari luar abraham dengan lesu menjawab "Masuk.." pada saat pintu terbuka memperlihatkan roy yg mendorong Stroller "Bagai mana kondisi nona tuan??" Abraham menatap anaknya "Ganguan kecemasanya kambuh lagi, dan dokter menyuntikan obat penenang padanya baru ia tenang dan kini ia sedang tidur."Roy memberikan sebuah tas pada tuannya "Ini sudah ku siapakan barang barang tuan muda kecil, di dalalmnya juga ada pakian tuan." Abraham baru sadar ia masih mengenakan bathrobe "Aku lupa.." abraham membuka tas tersebut lalu mengambil pakiannya dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti tak lama ia keluar dengan pakayan santainya "Roy tolong beli botol dot untuk Farel dan Rafayel." Roy mengangguk lalu segera pergi sedangkan Abraham mulai mengambil anaknya yg masih terbangun ke sebuah kasur yg memang di sediakan umtuk satu orang keluarga pasin yg ingin menginap, abraham sama sekali tidak bisa tersenyum pikiranya begitu pusing dan ia kasihan pada anak anaknya " Maafkan papa, karna tak bisa menjaga mama mu dengan baik." Abraham meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Maafkan papa, papa tak bisa menjaga mama mu sehingga mama mu harus sakit begini." Abraham tak henti hentinya menangis di hadapan anaknya karna menurutnya windi sakit seperi ini semua karanya dan suara tangisnya itu sampai terdengar keluar dan ia terus meminta maaf pada anaknya sedangkan di pintu luar Selena mengurung niatnya untuk masuk "Sial dia menangis.." ia berbalik "Ayo kita kembali ke hotel ." Ia berjalan pergi di ikuti para bodyguardnya namun ia tak sengaja berpaspasan dengan Zefano dan Simon , jika simon hanya melewatinya begitu sedangkan Zefano menatap tajamnya "Usia saja sudah dewasa tapi sikap ada belum juga dewasa, sikap anda tadi terlalu berlebihan kamu kira tuan ku itu akan diam saja .." Zefano melawatinya begitu saja sedangkan selena seketika terdiam ia sebenarnya merasa bersalah namun bukan selena namanya kalok tidak keras kepala jadi ia menepis rasa bersalah itu "Aku tidak berlebihan, lagi pula apa salahnya aku bersikap begitu, lagi pula abraham tak mungkin mempermasalahkanya." Selena segera pergi sedangkan Simon dan zefano kembali ke ruangan nonanya lalu simon terlebih dahulu mengetuk pintu lalu terdengar abraham yg memperbolehkan mereka masuk lalu mereka masuk "Tuan kami membawakan kopi dan berberapa kue untuk anda." Abraham sama sekalai tak mau menolah pada mereka karna ia tak mau mereka tau kalok dia baru saja menangis sedangkan mereka sudah paham lalu menaruh kue dan kopi tadi di atas meja "Kami tauruh di atas meja, kalok gitu kami permisi tuan." Mereka pun segera pergi.
__ADS_1
Tengah malamnya windi baru terbangun "Aku di mana.." ia melihat sekitar dan baru sadar jika dia kini memakai pakian rumah sakit "Apa aku ada di rumah sakit.." ia melihat skitar dan baru sadar jika suaminya sedang berbaring di sebuah kasur bersama anak anaknya dan ia dapat melihat mereka karna cahaya bulan di malam hari yg menembus kaca ia perlahan turun dari ranjang sambil membawa botol infusnya menghampiri mereka dan baru jelas jika anak anaknya sedang tidur menyamping dan sebuah kain di depan mereka yg menjadi tempat abraham menyenderkan botol dot yg berisi asi agar bisa terus bisa di minum anaknya tanpa harus repot memegangnya, windi tersenyum "Ataga mereka imut sekali ketika sedang tidur bertiga begini."tiba tiba perut windi mengeluarkan suara pertanda perutnya perlu di beri makan ia perlahan melihat sekeliling menjacari apa ada yg bisa ia makan dan matanya tertuju pada sebuah kotak yg merupakan kotak kue dan ia pergi menghampiri kotak itu lalu di bukanya "Wah ada donat." Windi mengambil satu lalu langsung di makan "Astaga ini enak sekali."windi segera menghabiskan kue yg ada di tangannya itu.
__ADS_1
Bersambung.....
__ADS_1