Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 241.Jalan Jalan


__ADS_3

Besoknya di meja makan kini mereka bersiap untuk sarapan pagi , windi tersenyum menatap Tiara "Kakak makasih yah untuk obat yg semalam, untungnya sekarang demam mereka sudah turun jadi rasanya aku mulai tenang karna demamnya udah turun." Tiara tersenyum dan mengangguk "Iya, baguslah demamnya udah turun." Tak lama terdengar suara jors "Mama jors udah." Tiara menolah pada anaknya Kalok udah pergilah taruh piring mu di wastafel dan langsung saja berangkat karna papa mu bilang ia gak bisa  mengantae mu karna papa mu banyak kerjaan di kantor jadi kamau berangkat hari ini sama pak dian." Anaknya mengangguk lalu segera pergi sedangkan pak Rangga kembali bertanya "Kalian sampai kapan akan di sini??" Windi menjawabnya "Mungkin kami akan kembali nanti sore." Pak Rangga yg mendengar hal itu terlihat sedih "Kenapa kalian harus cepat cepat pulang, belum juga ku bermain dengan ponakan ku dan sekarang kalian sudah mau pulang saja." Windi kembali menjawabnya "Ya ,mau bagai mana lagi bapaknya masih banyak pekerjaan, nanti kalok kakak tiara udah lahiran nanti kami datang lagi kok." Pak Rangga tetap terlihat sedih "Yasudah biar saya tahan pun kalian pasti akan tetap pergi, bukan kah begitu Abraham??." Abraham sama sekali tak menjawab Pak Rangga dan ia terlihat menikmati manannya dan pak rangga yg melihat hal itu menghela napas pelan "Astaga,sifat anak ini persis sekali dengan mendiang ayahnya."

__ADS_1


Abarahma sama sekali tak pedulu Sedangkan pak Rangga semakain kesal namun mereka lebih terlihat seperti anak anak yg sedang bertengkar dari pada pertengkaran orang dewasa dan selesai makan abraham dan windi berencana keluar untuk berjalan jalan untuk meliht lihat kota namun pada saat mereka akan masuk pak Rangga lebih dulu masuk "Wah ini kah rasanya menaiki mobil orang kaya??" Abraham menatap tajam dia "Hey pak, bisa kah kamu keluar." Peria itu bukanya takut ia malah menyenderkan tubuhnya "Windi duduk di sebelah ku biarkan saumi mu duduk dekat dengan supirnya." Windi berusaha menahan tawanya melihat kelakuan pak Rangga yg berdebat dengan abraham dan pak Rangga malah menatap kesal abraham, dan pada saat Abraham akan membalasnya windi merangkul lengannya sontak ia menolah pada istrinya dan windi pun menggelengkan kepalanya pertanda ia tak mau jika suaminya membalas perkataan peria itu "Sayang gak papa dong pak Rangga mu ikut, kan gak papa sekali kali jalan jalan denganya, lagi pula dia juga teman mendiang papa mu." Abraham tak bisa menolak jika istrinya berbicara namun ia tak mau istrinya duduk di sebelah Rangga jadi windi duduk di depan bersebelahan dengan Simon sedangkan  di belakangnya ada Abraham dan pak Rangga  dan anak anak yg di mana mereka di dudukan di tempat duduk khusus bayi dalam mobil .

__ADS_1


Selama perjalanan Pak Rangga tak berhenti berbicara dengan windi serta Simon walau berjauhan mereka tetap terdengar asik dalam berbicara, berbeda dengan Abraham ia terlihat kesal karna harus berjauhan dengan istrinya lalu mereka berheti di sebuah  pasar lalu mereka semua turun. Simon serta windi sibuk menurunkan anak anak sedangkan Abraham mengambil barang baang lainnya yg ada di belakang mobil sedangkan Pak rangga tak henti melihatnya "Hey nak , kenapa kamu dan istri harus repot mengerjakan semuanya sendiri sedangkan kalian punnya banyak anak buah??" Abraham menjawabnya sambil menutup pintu belakang mobil   "Aku bukan orang malas yg kerjanya hanya memerintah." Lalu abraham mengenakan ransel yg berisi barang anaknya lalu ia menghampiri istrinya dan istrinya baru selesai membaringkan anaknya di atas stroller sedangkan Simon pergi lagi untuk mencari parkiran dan mereka mulai berjalan jalan dan windi melihat berberapa kain batik yg terlihat cantik "Sayang bagai mana menurut mu??" Abraham melihat istrinya "Cantik, kalok kamu mau ambil saja." Windi mengangguk lalu ia memeli berberapa setelah itu ia pun membayar tak lama simon datang dan pak rangga tak henti melihat windi ia tersenyum "Begitu dong, jadi suami itu harus Royal bukan pelit." Abraham menatap tajam pak Rangga "bisakah anda diam anda mau ikut tapi berisiknya luar biasa." windi yg baru selesai mebayar kembali "Ayo kita jalan lagi." Mereka pun berjalan jalan dan mereka menemukan berapa cemilan dan windi membeli berberapa  dan yg membawa semua belanjaanya adalah simon sedangkan abraham ia yg hannya membawa barang barang anak anaknya yg di taruh di dalam ransel.

__ADS_1


Windi terkejut karana tangan suaminya sudah berada di depannya sedangkan pandangan simon serta pak Rangga tertuju padanya sontak windi menolah pada suaminya namun peria itu terlihat tersenyum yg membuatnya tak enak untuk menolak lalu membuka mulut dan Abraham pun menyuapinya setelah di suap windi pun langsung memutup wajahnya karna malu berbera dengan abraham malah semakin gemes dengan istrinys karna tingkahnya lalu windi segera memberi makan anaknya kembali sedangkan abraham terus saja berusaha menyuapinya dan windi tak pernah menolak. Untungnya yg melihat hal itu hanya Simon dan Pak Rangga serta para pekrja di tempat makan itu karna kebetulan tempat makanya juga sedang sunyi dan setelah makan mereka pun mereka kembali untuk istirahat namun kali ini pak Rangga duduk di depan bersebelahan dengan Simon yg menyetir sedangkan Windi ia di belakang bersama Abraham karna ia sedang menyusu anaknya jadi tak ada yg berani sama sekali melirik kaca sepin dalan atau pantulan kaca  walau windi sudah mentup atasnya dengan kain batik yg ia beli tadi dan di tahan oleh Abraham agar tak melorot sedangkan Pak Rangga sedikit tersenyum dan berguma dalam hati 'Dia persis seperti ayahnya ketika sudah menemukan satu wanita yg ia cinta ia akan memperlakukan wanita itu  bagaikan seorang ratu, ku harap kalian akan selalu berbahagia selamanya nak. Jadilah ayah yg terbaik untuk kedua anak mu dan janganlah menjadi ayah seperti ku yg gagal mendidik salah seorang anaknya sehingga harus di hukum.'

__ADS_1


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2