Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 171.Mencari


__ADS_3

Windi kembali masuk ke kamar tamu tersebut lalu menghampiri Tira ke kasur ia menaruh pakian tadi "Gantilah pakian mu dengan ini." Tiara mengangguk "Apa pelayan tadi sudah membawa kamu minuman hangat." Windi melihat sekelilingnya dan matanya tertuju pada sebuah gelas yg ada di atas meja samping kasur "Munumlah, untuk menghangatkan diri mu."Tiara masih terus mengangguk lalu windi kembali keluar dari kamar "Aku harus segera mandi, habis itu aku menyusui anak-anak." Ia berjalan menuju kamarnya pada saat ia ke kamar terlihat suaminya bersama kedua bauahtinya "Apa para Baby sitternya sudah pulang??" Abraham mengangguk "Sudah,Kamu mandilah dulu, aku sudh menyiapkan air untuk mu.."windi tersenyum "Makasih sayang." lalu segera menuju kamar mandi.


Windi pertama tama melepas seluruh pakainya yg berada di tebuhnya lalu ia berjalan ke bak mandi yg sudah di isi dengam air lalu masuk ke dalamnya setelah itu ia menyadarakan tubuhnya lalu menutupmatanya ia berguma dalam hati 'Dari mana dia tau Alamat rumah kami, apa suami ku yg memberitaunya dan apa dia datang untuk menemui suami ku.' Windi membuka matanya lalu ia memegang dadanya yg terasa sakit  "Gak, kamu harus bisa kuat Win, kamu gak boleh marah sebelum kamu tau kebenarnya." Windi berusaha menenanggkan hatinya yg sedang sakit itu, di luar Abraham tengah bermain dengan mereka berdua anaknya dan ia terliht sangat senang namun tiba-tiba ia berpikir mengenai wanita yg di maksudkan istrinya "Jika itu benar Adalah Tiara istri ku pasti dia berpikir bahwa aku yg memberi tau alamat rumah padanya." Abraham berpikir apa yg harus yg ia katakan pada istrinya ia pun berbaring di samping kedua putranya sambil melihat ke atas.

__ADS_1


Setelah membersihkam tubuhnya windi keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimono ia melihat suaminya yg berbaring di samping kedua anaknya sambil melihat ke arah atas hatinya mulai tenang melihat hal itu ia begitu bahagia melihat Abraham sebegitu dekat dengan kedua anaknya  windi menghampiri mereka lalu duduk di pinggir ranjang "Kamu kenapa sayang??" Abraham yg baru sadar kedatangan istrinya sontak menoleh padanya "Aku sedang memikirkan mu." Windi menatap binggung suaminya "Memikirkan ku??..."Abraham tak tau mau menjawab apa ia terlihat kebinggungan mau menjawab apa pada istrinya, windi naik ke ranjang lalu ia  menaruh satu bantal di pangkuanya lalu ia mengakat satu persatu anaknya setelah itu ia  mulai menyusui kedua anaknya Abraham mendekat padanya "Sayang apa benar yg di luar tadi adalah Tiara??" Windi yg mendengar hal itu terdiam sedangkan taklama kemudian ia pun menjawabnya "Iya.." Abraham pum langsung mengungkapkan  kata-kata yg sudah ia pikirkan tadi "Sayang, aku tak tau bagai mana ia tau rumah kita yg jelas, aku tak pernah memberitaunya." Windi menatap suaminya "Lalau bagai mana dia tau datang ke rumah.." Abraham menjawab istrinya "Aku saja tak tau.." windi berpikir apa penyebab yg pasti kenapa dia bisa datang.


Sedangkan di dalam kamar Tiara wanita itu mulai merasa tak enak badan setelah mengganti baju ia meminum minuman hangat yg di berikan untuknya setelah itu ia berbaring ke mbali lalu masuk ke dalam selimutnya namun karna badanya yg merasa pegel-pegel ia memutuskan untuk tidur setengah jam kemudian Windi dan Abraham datang mereka datang sambil menggendong buahati mereka yg sedang tidur "Sayang apa ia tidur." Abraham mengangguk, windi pun mendekat padanya pada saat di peganya keningnya begitu panas "Sayang sepertinya ia demam." Abraham menatap istrinya "Trus bagai mana??" Windi menjawab "Apa kamu bisa menelfon dokter ke rumah??" Abraham menggeleng "Aku tak punya nomor mereka."Windi berpikir "Bagai mana kita membawanya ke rumah sakit saja, soalnya dia sangat panas." Abraham memeriksa pada jendela kamar terliht salju mulai turan lagi "Tapi salju kembali turun, tak mungkin kita pergi pasti jalanan sangat licin."Windi berpikir lagi "Kalok gitu kamu suruh para pelayan untuk memasak bubur, sama suruh juga mereka bawakan ember berisi air hangat dan handuk kecil ke sini, biar aku kompres dia." Abraham mengangguk lalu pergi sedangkan Windi menunggu di dalam kamar.

__ADS_1


belum tidur, bibik mu mana??" Anak itu mendekat pada ayahnya lalu Jordan langsung menggangkatnya dan anak itu pun menjawab "Bibik sudah tidur, jors tak bisa tidur jors rindu mama." Mulai terasa rasa bersalah dari hati Jordan karna telah meninggalkan Tiara ia "Nak, apa kamu mau ikut papa??" Jors menatap ayahnya "Ke mana paa.." Jordan pun kenjawab "Menjemput mama dong." Anak itu terlihat sangt senang, Jordan terlebih dahulu memangil Baby sitter putrnya untuk bangun lalu mereka bersama sama pergi, di parkiran Jordan diluan masuk setelah itu dari pintu samping adalah Baby sitter mereka dan Jors namun Baby sitter tadi tak sengaja menendang sesuatu di bawah kakinya pada saat ia meraba rupanya sebuah tas "Buksnya ini tas Nona.." Jordan yg melihat tas hitam itu baru paham jika istrinya di tainggal tanpa membawa apa pun "Astaga Tuhan, Tiara..." peria itu segera menyalakan mobilnya lalu segera pergi.


Sesamli di daerah teampat ia meninggalkan istrinya ia sama sekali tak menumukam Tiara ia mulai panik apa lagi salju sudah mulai turun namun untungnya jejak kaki istrinya masik ada ia mengikuti jejak kaki yg perlahan tertutup karna salju itu, walau sudah gelap ia tetap nekat menyusuri mobilnya mengikuti jejak kaki tersebut dan seperti dari jejak kaki itu mengarah terus dan untungnya lagi tak ada jejak kaki lain selian jejak kaki itu, kenapa Jordan bisa berpikir itu jejak kaki istrinya karna bentuknya yg kecil rata-rata orang luar negri memiliki kaki yg besar dan panjang sedangkan yg ini kecil dan pendek, ia merasa pusing dan rasa bersalah mulai menyelimutinya apa lagi menggingat istrinya sedang hamil dan parahnya ia mencarinya setelah 2 jam meninggalkanya peria mana yg tak akan hawatir, mereka sampai di seberang supermarket dan salju mulai turun lebat dan jejak kaki itu pun tertutup salju, namun Ia tak menyerah ia mengira-ngira "Istri ku pasti masuk ke dalam perumahan itu, karna tak mungkin ia ke Supermarket jadi karna jejaknya terakhir terlihat di tikungan ini." Jordam pun melajukan mobilnya ke dalam perumahan tersebut, dan benar saja masuk di sana jejak kakinya terlihat namun jejak kaki terhenti di sebuah rumah yg sangat besar "Rumah siapa ini, dan kenapa Istri ku bisa ke sini.." Jordan tak berpikir ke Abraham yg ia pikir istrinya sedang meminta bantuan pada salah satu rekan bisnisnya. ia memutuskan untuk bertanya pada seorang penjaga yg menjaga di depan sana.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2