Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 253.kecolongan


__ADS_3

Pada saat akan mengejar windi abraham di tahan olah para wanita itu hingga ia harus mendorong mereka satu persatu namun ketika ia mengejar lagi rupanya Windi dan roy sudah masuk ke dalam lift dan abraham Langsung berteriak "Roy tahan.." pada saat roy akan membuka pintu karna dia tak berani melawan tuannya,Sedangkan windi langsung mendahuluinya untuk menekan tombol tutup pada lift dan lift pun tertutup "Sialan..." abraham berlari ke lift satunya namun dari tadi tak terbuka "cepat lah.." ia menekan tombol lift namun karna lift itu belum juga terbuka jadia berlari ke pintu darurat dan mulai turun dari sana namun ketika sanpai di bawah ia terlambat mobil windi baru saja pergi ia berlari ke mobilnya dan seorang Bodyguard yg membanya lantas berlari menghampirinya "Tuan ada apa??" Abraham tak mempedulikannya ia langsung mengambil kunci mobil dan langsung masuk ke dakam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Bodyguardnya itu, di jalan ia menekan gas mobilnya namun ia tak sempat menyusul istrinya karna sempat-sempatnya terkena lampu merah dan ia harus berhenti sedangkan windi ia sudah pergi hingga tak terlihat dari pandangannya lagi abraham memukul setir mobik "Sialan, kenapa dia harus datang dan kenapa dia harus melihata adegan itu." Abraham terlihat frustasi dan sangking kesalnya ia tak henti memukul setir mobilnya karna ia kecolongan dan kini suasana hatinya tak karuan ia takut akan kehilangan windi.


Sesampainya dia di  rumah ia tak memarkir dulu mobilnya dan langsung meninggalkan mobilnya dan kebetulan ia bertemu pak Rahmat di dalam ia langsung melemparkan  kunci mobilnya pada pak Rahmat "Pak ini kunci mobilnya..." pak Rahmat menangkap kunci itu sedangkan abraham berlari memasuki lift dan menekan naik ke atas pada saat ia masuk ke dalam kamar ia di pertemukan dengan bik ijah yg membawa koper "Bik, koper istri ku mau di bawa ke mana??" Bik ijah menjawab "Bawa ke kamar tamu aja tuan, biar cepat jadi bibik bawa pakai koper. Memang apa yg terjadi pada tuan dan nona kenapa nona sampai tiba tiba minta pindah kamar??" Abraham menjawabnya "Biasa buk, pertengkaran suami istri." Bik ijah menjawabnya "Ia bibik tau, tapi gak juga sampai pisah kamar, kan kalok pisah kamar kelihatanya permasalahnya parah."abraham hanya tersenyum lalu mengambil koper Windi dari bik ijah "Biar Abraham yg antarkan saja." Bik ijah tersenyum lalu meberikan koper itu "Pergilah dan berbaikan lah dengan nona windi, gak baik ibu menyusui banyak pikiran nanti asinya gak lancar." Abraham hannya membalas dengan senyuman lalu ia pun segera pergi jantungnya berdebar kencang

__ADS_1


Lalu ia masuk ke dalam lift dan menekan tobol ke arah ruang tengah dan sesampainya di sana pintu lift terbuka ia pun segera keluar dan menuju kamar tamu pada saat ia akan mengetuk pintu tiba tiba pintu terbuka dan memperlihatkan Keristin.


Wanita itu terkejut ketika melihat abraham dan peria itu menatapnya "Nona mu sedang apa??" Keristin menjawabnya dengan wajah yg tak enak "Tuan lebih baik jangan dulu temui nona, karna nona saat ini emosinya sedang tidak setabil." Abraham menjawabnya "Anak anak ku di mana??" Keristin menjawab "Tadi Kakak Roy bawa ke atas saja, ini aku mau pergi menjaga mereka." Abraham menjawabnya "Baiklah pergilah." Keristin melewatinya tidak lupa pintu di tutup, namun berbeda dengan Abraham ia yg masih hawatir malah masuk ke dalam kamar itu dan ia menemukan istrinya yg menangis diatas kasur sambil menekukan kedua kakinya, ia terlihat gemetar dan abraham tau itu karna cahaya lampu tudur yg ada di sampingnya "Sayang.." windi dapat mendengar suara suaminya namun ia tak mau menoleh pada peria itu sedikit pun "pergi.." abraham semakin mendekat dan windi pun mengangkat wajahnya dan air matanya sudah membasahi pipinya "Pergi dari hadapan ku, aku jijik pada mu..." abraham berusaha menenangkan istrinya "Sayang jangan seperti itu, aku waktu itu cuman.." windi dengan suara yg besar berteriak "Pergi!!..." abraham bukannya pergi ia malah makin mendekat dan langsung memeluk istrinya "Maafkan aku.." windi menangis sambil memukul mukul dada suaminya "Lepaskan aku, jangan setuh aku...hik" abaham menjawab "Tidak, aku takan melepaskan mu sampai kapan pun.

__ADS_1


Ketika ia terbangun ia mencari istrinya di sebelahnya namun tak menemukannya sontak ia menoleh sampingnya dan menemukan istrinya berbaring paling ujung karna kasur mereka sangat lebar jadi tanganya tak menggapainya, abraham tersenyum lalu mendekatinya "Sayang ayo bangun." Pada saat ia mendekat dan memeluk ustrinya dari belakang tak ada respon drai wanita itu dan Guma abraham dalam hati jika ia masih tidur jadi ia bangkit dari baringnya dan menoleh pada istrinya "Sayang.." perkataanya terhenti ketika melihat istrinya kembali menangis namun kali ini windi menutup wajahnya dan tubuhnya terlihat gemetar  sedangkan abraham ia mulai panik "Sayang apa yg terjadi pada mu, dan kenapa.." windi berbicara dengan suara yg berat "Menjauhlah dari samping aku benci kamu.." abraham terdiam mendengar perkataan istrinya rupanya apa yg ia lakukan tak membuat istrinya lupa, jadi hatinya kembali merasa sesak "Sayang mamafkan aku, saat itu aku hanya tak sengaja." Windi berbicra dengan suara tangisnya "Tak sengaja dari man, jelas jelas kamu mencium para wanita itu bergiliran dan sekarang kamu mencium istrimu setelah kamu mencium banyak wanita itu, apa karna aku juga sama seperti mereka makanya kamu melakukan hal seperti itu juga pada ku.." abraham semakin panik "Tidak kamu itu tak sama seerti mereka kamu itu tetap orang pertama di hati ku dan takan pernah tergantikan." Windi menjawabnya "jika seperti itu maka pergilah dari hadapan ku dan biarkan aku sendiri." Abraham tak bisa melakukan apa pun lagi dan tak mau memaksa istrinya dan dari pada masalah ini makin parah jadi ia ia memutuskan untuk pergi "Biklah, tapi aku harap jangan lama-lama , karna aku gak sanggup jika tak melihat wajah mu walau hanya sekali saja." Lalu abraham mencium pipi isyrinya dan segera turun drai kasur dan memakai bathrobenya dan segera keluar dari kamar.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2