Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 125.Rencana Windi


__ADS_3

Setelah memasang cincin Roy langsung mangkat tubuh Jesi dan tanpa sengaja berbicara "Aku jadi ini mencum bibir manis mu." Sontak Jesi terdiam dan Roy yg sadar kata katanya yg tak sopan langsun menurunkan Jesi "Maaf kan aku." Roy pun lang mengalihkan padangan dari Jesi, tiba-tiba dari samping Jesi mencium pipi Roy, karna itu wajah roy menjadi memerah, dan mereka yg mononton dari mobil tadi pun turun lalu menghampiri mereka, sontak jesi terkejut karna di sana ruapnya nona dan tuanya serta Simon menyaksikan mereka "Se..sejak kapan nona dan tuan ada di mobil??" Windi dengan wajah yg senyam-senyum menatap jesi langsung bicara "Sudah dari tadi, wah ada pasangan baru ni. Apakah cincinya cukup di tangan mu Jesi." Jesi menjadi binggung "Maksud nona??" Windi menjawab "Aku membatu Roy untuk mencari cincin yg cocok untuk mu dan aku tidak tau ukuran tangan mu seperti apa, jadia ku cuman kira-kira aja itu." Simon pun tersenyum meantap Roy "Wah ada yg di terima nih, udah gak cemburuan lagi dong"


Roy menatap tajam Simon "Sembarang amat kamu ngomong, emang siapa yg cemburuan??" Simon tersenyum "Wah..wah.. sekarang kamu pintar berbohong, siapa yg kemarin curha bialamganya patah hati meliat wanita yg ia suka jalan sama cowok lain, padahal waktu itu belum jadian juga." Roy menjadi malu lalu menatap simon , ia menghampiri sahabatnya itu laku menarik kerah bajunya "Sekarang kamu diam, ayo kita pulang aku akan merktir kamu malam ini." Roy pun memasukan  simon ke dalam mobilnya lalu ia menoleh ke belakang "Jes, akau pulang dulu." Jesi hanya menggangguk lalu melambaikan tanganya pada peria yg kini menjadi tunanganya itu, dan Roy tersenyum pada saat ia berbalik dan akan masuk ke dalam mobil ia menyempatkan berbalik sebentar lalu berteriak "Hani, besok nanti aku akan mendatangi." Roy langsung masuk ke dalam mobilnya lalu ia menjalan mobilnya pergi.

__ADS_1


Sedangkan Windi menatap Jesi sambil tersenyum "Cie, ada yg lagi bucin niye." Jesi menjadi malu dan dengan gugupnya pergi "Nona saya duluan dulu." Jesi segera pergi dengan tergesa-gesa. Windi menoleh pada suaminya "Ayo kita masuk." Windi pun merik tangan suaminya lalu meraih tanganya dan mereka berjalan bersama-sama menuju ke dalam hotel , pada saat di dalam lift Windi tiba-tiba menyenderkan kepalanya di pundak suaminya "Sayang, jika suatu saat kita berpisah apa kamu akan menikah lagi??" Abraham yg mendengar hal itu sontak menoleh pada istrinya "Apa maksud mu, kita takan pernah terpisah dan aku akan selalu bersama dengan mu. Dan jangan berbicara seperti ini lagi di hadapan ku, aku tidak suka" windi menatap mata suaminya, tanpa Abraham sadari Windi diam-diam merencanakan untuk pergi darinya setelah melahirkan kedua anaknya, karna menurutnya semua masalah yg terjadi selama ini semua karna dia karna sebelumnya Abarahm tak pernah menghadapi masalah seperti ini, windi menunduk lalu menoleh pada perutnya yg sudah buncit itu dan mengelusnya pelan "Sayang, baik-baik di perut mama, bersabarlah untuk 6 bulan lagi maka kalian akan bisa aman di sampai papa mu." Abraham ikut menunduk lalu mengekus Perut Istrinya , tak lama kemudian lift terbuka lalu mereka berdua bersama sama keluar dari lift terlihat para bodyguard mereka sudah berjaga di depan pintu.


Mereka masuk ke dalam kamar lalu Windi berjalan dulu ke kamar sedangkan  Abraham terlebih dahulu ke dapur untuk membuat kopi, Windi yg masuk di dalam kamar langsung meletakan barang-brangnya di atas meja lalu berjalan ke kamar mandi, ia menyiapkan air di bak mandin setelah itu penuh ia melepas semua pakinya dan masuk ke dalam bak, ia tau alasan suaminya mengajak ia berlibur pasti untuk menghilangkan setersnya namun menurutnya hal itu tidak mempan lagi, apalagi ia sudah tau siapa dalang dari kejadian berapa waktu lalu dan bahkan orang tersebut masih berkeliaran dan semakian membuatnya hawatir jika sewaktu-waktu dia akan menculiknya lagi. Dengan suara yg kecil Windi berbiara "Aku rasanya ingin cepat-cepat mati menyusul ayah dan ibu ku. Tapi di sisi lian aku masih mengandung dan tidak mungkin aku dengan egoisnya  menghilangan nyawa ku seadngankan aku masih memiliki taþrnggung jawab untuk mekahirkan mereka."

__ADS_1


Abraham yg mendengar hal itu menjadi bahagia, tapi ia harus tahan karna dia ingin melakukanya di Hawaii nanti "Bagamai mana kalok aku melakukana nanti, apa kah aku masih boleh menikmatainya??" Windi tersenyum "Terserah kamu saja." Dan suasan pun mulai jadi sunyi dan abaraham berpikir lagi, dan berguma dalam hati 'jika aku lakukan sekarang gak papa kan, lagian nanti di hawaii dapat lagi, jadi dobel' abraham tersenyum nakal ia pun menggoyangkan tubuh istrinya "Sayang ayo kita lakukan."


Abraham mencium istrinya namuan tak ada jawaban dari istrinya , ia mulali panik lalu mencoba memegang tangan istrinya yg masih terasa hangata, ia pun kembali menaruh tanganya pada hidung istinya dan terasa masih ada rasa nafas istrinya yg menganai tanganya lalu ia mengoyangkan tubuh istrinya lagi dan istrinya tak bergerak sama sekalia "Apakah istri ku pingsan!!." Tiba tiba terdengar suara dengkuran kecil yg kekuar dari mulunya, dan abraham yg mendengarnya menjadi tenag "Astaga, ku kira dia pingsan ruapanya tertidur. Sepertinya ia sangat lelah, abraham pun keluar dari bak mandi tersebut lalu memakai Batrobenya setelah itu ia menggangkat istrinya dan menutupi tubuh atasnya dengan handuk dan membawanya ke ranjang tempat tidur.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2