Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan

Kontrak Nikah Dengan CEO Tampan
Bab 129.Tak Mau Kehilangan


__ADS_3

Setengah jam lagi sebelum ke brangkatan ke kota Boston mereka menunggu di Bandara windi tengah asik melihat hasil foto yg mereka dapat "Wah pemandanganya cantik sekalai, coba kamu lihat sayang..." windi membritau hasil fotonya, abraham melihat "Apa kamu mau berfoto lagi??" Windi menggangguk "Tapi kita kan rencananya ke hawaii bukan ke Sini." Abraham menjawab "Yah habis pulang dari sana kita akan kembali ke sini lagi." Windi melihat suaminya "Yg bener sayang??" Abraham menggangguk, windi mencium pipi suaminya lalu memeluknya , seorang peria dengan mengenakan jas buru kacamata hitam lewat bersama seorang peria berkacamata bulat dan melewati mereka lalu tiba-tiba berhenti dan berbalik memghampiri Abraham dan Windi para bodyguard yg melihat seorang pria yg tak di kenal mendekat sontak langsung  mengambil posisi dan para Bodyguard yg menyamar dan duduk di sekitar mereka sudah bersiap-siap dengan pistol yg di sebunyikan pada pakaian tebal mereka sedangkan Abarahm menatap sinis ke depan, peria tadi tersenyum"Hey kawan lama tak jumpa. Tak ku sangka kita akan bertemu di sini."


Abraham menatapnya "Apa mau mu??" Peria itu menjawab "Hey berhenti berekting seperti orang yg lupa ingatan, aku sahabat mu Eli." Eli melepas kacamata hitamnya dan Abraham pun mulai ingat "Eli jon apa itu kamu..." Eli menjawab "Iya kawan lama tidak betemu." Eli pun bersaliman dengan Abraham "sudah lama sekali kita tidak pergi bersama-sama ke klup malam, setiap aku pergi ke klup malam tempat biasa kita datangi mereka akan terus bertanya kapan kamu akan datang lagi, apa kamu tau di sana sudah banyak wanita mudanya dan aku jamin pekerjaan mereka akan memuaskan mu." Abraham menatap sinis temanya itu supaya diam dan memberi kode ke sebelahnya, sedang ia langsung menoleh pada windi "Anda siapa Abraham ." Abraham mau menjawab windi langsung menutup mululutnya "Saya keponakanya dan nama saya Windi, dan silakan lanjutkan cerita anda saya mau mendengarnya lagi." Eli malah terlihat tersenyum "Wah benarkah, apakah kamu tau ome mu setiap datang ke Amerika untuk masalah pekerjaan ia selalu meminta ku untuk mencarikan j@l@n* yg tampangnya putih tinggai dan cantik untuk di bawa bermain." Windi berusaha tetsenyum "Wah benar kah." Eli mengagguk "Aku harap kamu jangan memberi tau Ayah dan ibu mu suapaya ome mu tidak terkena masalah. Oh iya, Apa yg kalian lakukan di sini." Tiba-tiba mata Eli tertuju pada perut Windi "Wah apakah kamu mengantar keponakan mu untuk aborsi, wah memang pria jaman sekarang kalok bermain pakai trobos saja sampai lupa mengunakan pengaman." Tiba-tiba terdengar sura yg meminta para penumpang pesawat yg akan pergi ke Boston untuk segera masuk ke pesawat, windi melepas tanganya lalu segera pergi.

__ADS_1


Dan Simon yg melihat hal itu langsung mengikutinya dari belakang Sedangkan abraham menghela napas pelan "Eli dia itu istri ku." Eli terkejut lalu menatap Abraham  "Di istri mu?, ku kira pernikahan mu hanya gosip belaka." Abraham berdiri dari duduknya "Itu bukan gosip, dia benar benar istri ku, dan  saat ini ia menggandung anak ku." Eli terkejut, sedangkan Abraham langsung mengikuti istrinya dari belakang , selama perjalanan ke Boston mereka tak berbicara sama sekali dan sesampi di sana mereka masiah tak berbicara sama sekali dan kini situsainya yg awalnya bahagia mendengar kabar anak mereka kini malah tak ada pembicaraan sama sekali hingga penerbagan ke Hawaii yg berlangsung selama 11 jam di sana mereka langdung ke villa yg sudah di buking terlebih dahulu, di dalam Abraham menahan tangan istrinya yg ingin masuk ke dalam kamar "Kamu mau ke mana , ini bukan kamar kita." Windi melepas genggaman tangan suaminya "Aku mau tidur di sini saja, mungkin lebih baik kita pisah kamar tidur dulu."


Abraham kembali menahan tangan istrinya namun kali ini ia mencengkram tanganya kuat "Aku sudah cukup diam untuk mu win. Apa tidak bisa kah kamu mendengar penjelasan ku." Windi merasa kesakitan namun berusaha di tahan "Aku akan mendengarkan penjelasan mu, tapi aku mau istirahat dulu dan ini masih jam 4 pagi." Abaraham menjawab "Tidak aku ingin menyelesaikan dengan cepat masalah ini." Windi sudah tak bisa menahan sakitnya dan tiba-tiba ia mengis di depan Abraham "Ku mohon lepas tangan ku.." Abraham masih tak sadar dan masih mengira Windi berekting "Berhenti menagis seperti anak kecil, aku harap kamu m tidak menagapi serius perkataan pria tadi ,dengan apa yg peria tadi katakan." Windi yg menagis menggaguk dengan wajah yg berlinag air mata, Abraham bukanya iba menatap istrinya menangis ia malah membentaknya "Kamu dengar tidak, jangan hanya asal ngaguk aja begitu." Windi dengan mulut yg gemetar berbicara "Aku mengerti..." Abraham pun menghempaskan tangan windi dan langsung pergi sedangkan wandi menagis hingga terduduk ke lantai, dan pada saat itu kebetulan simon masuk ke dalam Villa ia menganghampiri windi.

__ADS_1


Di dalam kamar Abraham berbaring di kasurnya ia menggingat semua yg terjadi dan Abaraham tak tahan jika dirinya di acuhkan oleh orang yg ia cinta dan ia juga awalnya tak ingin marah pada windi namun karna seharian di acuh kan dan tidak di pedulikan membuatnya semakin marah dan tak sadar sudah melukai istrinya "Apa yg harus aku lakukan, aku jadi merasa bersalah padanya, sepertinya besok aku akan membawa dia jalan-jalan sebagau bentuk permohonan maaf ku." Pikiran Abraham kacau karna ia takut karan masa lalunya windi akan meninggalkanya ia tak mau kehilangan windi karna menurutnya ia begitu berati di dalam hidupnya walau pernikahan ini baru berjalan berapa bulan namun sejak keghadiranya memberi warna di hidupnya, ia nangit dari tidurnya dan berencana untuk tidur bersama istrinya ke kamar tadi.


Di kamar windi tak henti memikirkan suaminya yg marah "Apa salah aku, aku hanya marah dan aku tak memakinya atau berbicara kasar. Kenapa hidup ini sangat sulit, apa selama ini dia tak bahagia bersama ku." Windi berpikir apa kesalahnya dan ia mengingat semua yg terjadi  "Mungkin karna masalah yg waktu itu, mungkin aku terlalu berlebihan, aku akan berusaha minta maaf padanya." Windi pun menutup matanya lalu tertidur. Tak lama setelah ia tidur Abaraham masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya yg tidur tanpa menutup tubuhnya dengan silimut, lalu langsung memasangkan selimut padanya dan ia baru sadar dengan peregelangan tangan istrinya yg memerah "Maafkan aku." Abarahm pun mencium kening istinya lalu tidur di samping istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2