Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
98. Ragu


__ADS_3

Akhirnya Bagas pun mengikuti keinginan Rianti untuk membawanya serta ke Kalimantan. Pada siang itu juga, mereka bersiap-siap untuk segera berangkat bersama dengan tim medis lainnya yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit dalam rangka membantu gempa di Kalimantan.


"Wah ini adalah perjalanan pertama bagiku, ke daerah yang sangat jauh dari kedua orang tuaku!" ucap Rianti dengan mata berbinar-binar. Bagas tampak tersenyum melihat istrinya begitu bahagia.


"Semoga, Mas bisa melindungi kamu di sana. Dan tidak mengecewakan kedua orang tuamu!" ucap Bagas sambil meremas lemari istrinya. Rianti tersenyum kepada Bagas.


"Tenanglah aku bisa menjaga diriku sendiri kok, kau bisa fokus dengan pekerjaanmu. Aku tidak akan mengganggumu. Percayalah!" ucap Riyanti dengan matanya yang berbinar-binar. Sehingga membuat Bagas merasa yakin akan membawa istrinya tersebut bersamanya ke daerah bencana.


" Apakah kau sebahagia itu?" ucap Bagas sambil meremas jemari istrinya.


Rekan-rekan Bagas yang lain sudah berdatangan. Mereka sudah bersiap untuk menaiki kapal dan mereka siap berlayar ke Kalimantan bersama.


"Tampaknya hanya aku yang membawa istriku. Lihatlah mereka semua pergi hanya membawa diri mereka sendiri!" ucap Bagas tampak malu karena membawa istrinya seorang diri.


"Tidak apa dokter Bagas. Kami paham kok, Kalian kan masih pengantin baru. Mana mungkin bisa berpisah lama-lama. Bedalah dengan kami yang sudah puluhan tahun menikah. Jelas lebih mengutamakan keselamatan anak-anak daripada harus mengikuti kami ke daerah bencana!" ucap dokter Jeremy yang sudah berumur sekitar 50 tahun lebih.


"Betul dokter Jeremy, saya pun khawatir kalau istri saya ikut dengan saya. Biarlah dia di sini saja, menjaga putra-putri kami untuk tetap bisa bersekolah dengan nyaman!" ucap dokter Andra yang usianya tidak terlalu jauh dari Bagas.


"Gempa susulan selalu bisa saja terjadi di sana. Kondisi dan situasinya tidak jelas. Oleh karena itu saya pun tidak berani untuk mengajak keluarga saya ke sana!" ucap dokter yang lainnya sambil menatap kepada Bagas. Bagas hanya bisa tersenyum, menanggapi semua ucapan rekan-rekannya.


"Sudah Mas, enggak usah dipikirkan. Mereka kan hanya menyampaikan pendapat mereka sendiri. Kita juga punya pemikiran sendiri jadi, jangan terlalu dipikirkan!"ucap Riyanti sambil meremas jemari suaminya memberikan dukungan kepadanya agar tidak ragu lagi dengan keputusannya.


Akhirnya mereka pun berlayar ke Kalimantan bersama-sama. Menuju daerah bencana untuk menolong para korban yang membutuhkan pertolongan mereka.

__ADS_1


Sementara itu di kediaman orang tuanya Rianti, ibunya tampak sedang menangisi kepergian Rianti bersama menantunya.


"Papa bener-bener tidak memperdulikan anak lagi. Apakah Papa tidak tahu betapa bahayanya tempat itu? Gempa susulan bisa terjadi kapan saja, Pah!" sengit ibunya Riyanti sambil memukuli dada suaminya.


"Tenanglah Mah! Rianti itu bersama suaminya dia pasti akan menjaga istrinya!" ucap suaminya berusaha menenangkan sang istri yang kini mulai histeris.


"Baga mana dia bisa melindungi istrinya kalau dia sendiri pun belum jelas bisa melindungi dirinya sendiri atau tidak!" ucapnya dengan berderai air mata.


"Berdoalah yang baik-baik Mah untuk mereka. Jangan berpikiran yang negatif, bisa jadi doa buruk untuk mereka!" ucap suaminya sambil berusaha menenangkan istrinya, dengan mengelus punggung sang istri.


"Tidak mungkin mama mendoakan yang buruk-buruk untuk mereka. Hanya saja Mama saat ini sangat khawatir Pah!" kini ibunya Rianti sudah mulai tenang, tutur Katanya sudah mulai masuk akal.


" Ya sudah, sekarang Mama istirahat ya? Biar pikirannya tenang. Kalau bisa salat sunnah dan doakan supaya anak dan menantu kita di sana baik-baik saja!" ucap suaminya berusaha menghibur istrinya.


"Bagaimana bisa pihak rumah sakit mengirimkan Putra kita, ke daerah yang berbahaya itu. Padahal mereka tahu Putra kita pengantin baru!" tampak ibunya Bagas sudah berderai air mata.


"Sudahlah Umy! Doakanlah yang terbaik untuk anak kita. Supaya dia selamat dan berhasil menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Dan menyelamatkan para korban bencana di sana!" ucap suaminya sambil menenangkan sang istri.


"Tahu begitu, kemarin Umi tidak mengizinkan Bagas untuk kembali ke Jakarta. Biarkan saja dia di sini, berlama-lama berlibur di sini. Itu jauh lebih aman!" ucap ibunya Bagas sambil menatap suaminya.


" Sudahlah Umy! Bagas pasti tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Ketika dia memilih profesi sebagai seorang dokter, itu artinya dia sudah siap untuk menolong dan menyelamatkan para pasiennya. Kenapa Ibu jadi bersikap lemah seperti ini?" ucap suaminya dengan menggelengkan kepalanya.


"Abah yang dulu memaksakan Bagas untuk menjadi seorang dokter!" sengit istrinya sambil menatap tajam sang suami.

__ADS_1


"Sudahlah! Berhentilah marah-marah terus. Berdoalah untuk putra kita, agar dia bisa pulang dengan selamat dan menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang dokter dan juga sebagai seorang suami bisa melindungi istrinya di sana!" ucap suaminya kemudian pergi meninggalkan istrinya yang masih terisak dalam tangis.


" Rianti juga mengikuti Bagas ke Kalimantan? Kenapa kedua orang tuanya mengizinkan?" tanya ibunya Bagas tampak syok mendengar berita itu.


"Tentu saja Ibu kedua orang tuanya Rianti mengizinkan. Bukankah Rianti sekarang adalah istrinya Bagas? Sudah menjadi kewajibannya Bagas untuk menjaganya. Sudah bukan kewajiban mereka untuk melindungi Rianti lagi!" jawab suaminya lalu masuk ke kamar.


"Abah Umi belum selesai bicara denganmu. Kenapa kau main Pergi Saja?" tentang istri melihat suaminya meninggalkan dirinya seorang diri di ruang tamu.


"Abah lelah Umi! Besok harus ke sawah kalau mendengarkan omongan Umi terus bisa Stress nanti Abah!" ucap suaminya kemudian memilih untuk tidur dan beristirahat.


Ibunya Bagas misuh-misuh, melihat kelakuan suaminya yang kini malah tidur. Bukannya memikirkan anak dan menantunya yang saat ini sedang berada di daerah bencana.


" Abah selalu saja seperti itu! Tidak mau untuk memperdulikan omongannya Umi!" ibunya Bagas terus menggerutu, melihat suaminya yang kini malah sudah mengorok keasyikkan dalam tidurnya.


"Ya Allah semoga engkau melindungi Putraku dan juga menantuku. Jangan biarkan mereka mengalami hal yang buruk di sana ya Allah!" doa ibunya Bagas pada akhirnya.


Setelah selesai mengaji dan berdoa untuk putra dan menantunya. Ibunya Bagas pun akhirnya memutuskan untuk tidur juga karena dia pun sudah lelah seharian membantu suaminya di sawah.


Ibunya Bagas tidak bisa tidur sama sekali pikirannya terus saja berkelana kepada Putra dan menantunya.


"Kebiasaan Bagas kalau apa-apa itu selalu saja mendadak. Tidak mengatakannya secara gampang dan jelas!" ucapnya masih khawatir.


"Sudah Bu, tidur! Apa tidak lelah dari tadi menggerutu terus? Apa ada bedanya ibu menggerutu dengan tidak?" ucap suaminya kemudian menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya memaksanya untuk tidur bersama dirinya. Akhirnya dengan terpaksa ibunya Bagas pun tidur bersama suaminya.

__ADS_1


__ADS_2