Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
50. Ali Tergoda?


__ADS_3

Aku lihat dia tampaknya berpikir sejenak. "Kamu benar juga, kalau tinggal disini, kayaknya nanti repot! Kamar di toko sempit dan pengap, bayiku pasti nanti gak nyaman kalau tinggal di sana! Ya sudah, nanti aku telpon istriku. Kalau aku gak jadi jemput dia. Ayo kita berangkat ke toko!" Aku sangat bahagia karena dia mau mendengarkan saranku. Rasanya aku memang telah jatuh cinta kepadanya. Melihat mata teduh itu, yang selalu menatapku dengan lembut. Aku klepek-klepek rasanya setiap di sampingnya.


"Sebentar, Mas! Aku ambil jaket sama helm dulu!" aku lalu lari ke dalam kostku. Demi menjalani rencana ini, aku memang menyewa kost yang sederhana. Agar dia gak curiga kalau aku adalah orang kaya dari Jakarta. Ayahku memiliki Bank swasta di Jakarta. Bisa dikatakan, ayahku adalah konglomerat di negeri ini. Makanya aku semangat sekali dengan misi ini. Bisa kalian bayangkan, berapa banyak harta yang akan aku miliki nantinya? Sangat banyak!


Aku langsung duduk di jok belakang, memeluk pinggang Mas Ali. Ya, dia gak keberatan dengan apa yang aku lakukan. Sesekali dia mengelus tanganku, aku sungguh sangat bahagia. Walaupun hanya dengan hal kecil itu.


"Mas, kita cari sarapan dulu, ya!" ucapku dan dia langsung menurut padaku. Kami berhenti di sebuah warung makan yang sudah buka.


"Kamu mau beli apa?" tanyanya lembut.


"Aku mau nasi kuning aja, Mas!" ucapku manja.


"Kamu menggemaskan!" ucapnya sambil mencubit hidung ku. Aku rasanya sangat bahagia. Rencanaku tampaknya akan berhasil dengan mulus. Aku mendapatkan harta Kak Nadya, aku juga mendapatkan harta orang tuaku. Dan aku mendapatkan bonus pria yang aku cintai.


Tak pantaskah aku bahagia? Aku merasa aku sangat beruntung sekali. "Mas, nanti kalau istri kamu marah tentang aku, bagaimana?" tanyaku.


"Maksudnya?" tanyanya heran.


"Tentang hubungan kita! Apa Mas mau ninggalin dia buat aku?" tanyaku mulai dengan trick sedih.

__ADS_1


"Hubungan kita? Memang ada apa dengan hubungan kita?" tanyanya tampak heran.


"Aku mencintai kamu, Mas! Aku ingin kamu Menikahi aku, dan meninggalkan istrimu!" ucapku sambil memasang wajah sedih.


"Apa? Jangan bicara omong kosong kamu!" bentaknya, aku terkejut mendengar dia melakukan itu. "Aku anggap kamu sebagai adikku! Gak lebih! Aku kasihan dengan kamu, yang hidup sebatang kara di kota ini! Jangan berpikir yang aneh-aneh! Istriku adalah wanita yang baik, dia sudah memberikan aku seorang putra yang tampan! Aku gak akan pernah meninggalkan dia selama hidupku!" ucapnya tegas dan jelas.


Hatiku Seketika sedih dan terluka. Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta kepada targetku? Aku sungguh payah sekali. Sudah gagal sebelum berperang. Jatuh cinta kepada target adalah pantangan bagi seorang pemburu. Dan aku telah melanggar hal itu. Hatiku lemas seketika.


Selama perjalanan ke toko, aku hanya diam saja. Hilang sudah semangat tadi pagi. Hidupku seketika hampa.


"Kamu kenapa, kok lesu?" tanya Mas Ali padaku.


"Tidak apa-apa, oh ya, aku ijin dulu ya. Aku lupa kalau ada kuliah tambahan hari ini!" tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung mengambil tasku dan keluar dari toko. Aku berlari dengan berlinang air mataku. Hatiku sakit sekali.


Impian indah selama beberapa hari ini ternyata hanya fatamorgana yang semu. Semua hanya kepalsuan. Perhatian dia selama ini, ternyata hanya karena kasihan dan menganggap aku sebagai adiknya. Menyedihkan!


'Aku gak mau menjadi adikmu! Aku ingin menjadi wanitamu! Aku ingin kamu menjadi milikku!" isakku dalam pedih. Aku sama sekali tidak peduli dengan keheranan orang-orang di angkot, melihat aku menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak boleh menyerah!" aku terus menyemangati diriku sendiri. Saat angkot yang aku naiki kembali ke tempat awal, melintas depan toko, aku turun dan kembali ke toko. Aku harus semangat! Hal kecil itu tidak boleh melemahkan diriku. Aku harus kembali ke niat awal. Memisahkan Mas Ali dengan istrinya. Misi utamaku. Walaupun aku tidak berhasil mendapatkan cintanya, setidaknya aku harus berhasil membuat istrinya mau meninggalkan dia.

__ADS_1


Dengan tekat itu, aku kembali ke toko. Tidak ada air mata lagi. Aku sudah mengeraskan hatiku untuk melupakan impian gilaku untuk memiliki Mas Ali, biarlah! Kalaupun nanti aku berhasil memiliki dia, anggap saja itu sebagai bonus. Gak lebih! Hatiku sekarang lebih lapang dan lega.


"Assalamualaikum, Mas! Oh ya, kalau Mas mau menjemput istrinya, jemput saja. Aku akan menunggu toko. Jangan khawatir!" ucapku dengan memberikan senyum terbaikku. Senyum palsu tentu saja. Karena hatiku berdarah saat ini.


"Baiklah, kamu bisa naik motor ga?" tanyanya.


"Bisa, kenapa?" tanyaku heran.


"Aku mau menginap sehari di sana. Kamu bawa motorku saja untuk aktifitas kamu, kalau ada apa-apa nanti hubungi aku ya?" tanyanya sambil mengelus pucuk kepalaku. 'Duh, nih orang kenapa, sih? Bikin aku susah move on aja!' 'Rintihku dalam hati. Sungguh sedih bestie, ditolak sebelum berperang sampai berdarah-darah.


"Mas rindu dengan istriku dan anakku. Jadi akan istirahat di sana satu dua hari. Kamu baik-baik jaga toko ya, kalau sibuk dengan kuliah kamu, kamu tutup saja tokonya. Gak apa-apa, jangan memaksakan diri. Mas pergi!" aku terus menatap kepergian Mas Ali.


Duh, orang satu itu terlalu baik ataukah bodoh? dia mempercayakan tokonya kepadaku, orang asing yang baru empat Minggu kerja disini. Bagaimana kalau aku orang jahat, dan menjarah isi toko dia? Sungguh bikin aku frustasi. Kalau dia mencurigai niatku mendekati dia, aku pasti tidak segalau ini.


Hatiku kini sangat bimbang, apakah akan melanjutkan atau tidak rencana balas dendamku. Tapi kalau mengingat harta yang dimiliki Kak Nadya, aku jadi blingsatan lagi. Siapa yang tidak akan tergoda dengan harta dunia?


Belum lagi harta kedua orang tuaku. Oh... sungguh bikin gila! Aku terus memikirkan keputusan apa yang akan aku ambil. Kenapa targetku yang akan aku hancurkan hidupnya, malah bersikap begitu baik kepadaku? Begitu percaya kepadaku? Itu sungguh melukai harga diriku.


Dua hari kemudian, Mas Ali kembali bersama anak istrinya. Anaknya sangat lucu dan tampan. Istrinya wanita biasa saja, tapi aku bisa melihat bahwa dia sangat mencintai suaminya. Terlihat dari matanya saat memperhatikan aku. Nampaknya dia mulai curiga dengan hubungan antara aku dan suaminya. Aku jadi tambah gelisah.

__ADS_1


Aku mendapatkan chat dari bosku, kalau aku boleh libur dulu. Katanya dia mau temu kangen dengan istri dan anaknya. Aku hanya setuju saja. Tanpa membalas chat dia, saat aku berniat akan membalas, aku mendapatkan kenyataan, bahwa nomorku sudah di blokir. Hatiku sakit rasanya.


Aku memutuskan untuk tidak berangkat ke toko lagi. Aku akan pulang ke Jakarta saja. Biarlah, aku gagal dengan misi balas dendam ini. Asal mentalku sehat dan tidak tertekan lagi. Aku akan menenangkan pikiranku di Jakarta dan bertemu dengan kekasihku yang sudah hampir sebulan aku tinggalkan demi misi konyol ini.


__ADS_2