Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
134. Baiklah!


__ADS_3

Sheilla merasa kecewa karena ternyata Bima juga mendukung apa yang sudah direncanakan oleh kedua belah pihak dari keluarga besar mereka. Bahwa pernikahan mereka adalah satu bulan setelah hari ini.


"Satu bulan, bukankah itu terlalu cepat? Akan membutuhkan waktu lama untuk persiapan pernikahan!" ucap Sheilla masih berusaha untuk bernegosiasi.


"Kau tenang saja Sheilla, semuanya sudah kami persiapkan. Kau tinggal duduk cantik di pelaminan tidak usah memikirkan apapun!" ucap Cansu, ibunya Sheila sambil tersenyum kepada putrinya yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh permohonan.


"Baiklah! Kalau memang itu Adalah keinginan kalian semua! Maka aku akan nurut. Tapi aku minta kepada Mas Bima untuk betul-betul memegang janji dia untuk tidak mengganggu kuliahku!" pinta Sheilla kepada Bima untuk memenuhi janjinya yang sudah dia katakan sebelumnya.


Semua orang akhirnya tersenyum bahagia ketika mendengarkan keputusan yang diambil oleh Sheilla yang akhirnya menyetujui tentang waktu pernikahan yaitu satu bulan dari sekarang.


Bima tersenyum melirik kepada Sheila yang saat ini sedang menundukkan kepalanya tampak bahwa Sheilla tidak bahagia dengan keputusan itu.


Bima mengerutkan keningnya ketika dia menyadari bahwa calon istrinya tampaknya tidak bahagia.


Ketika satu persatu keluarga besar mulai meninggalkan kediaman Bramantyo. Ketika Bima mempunyai kesempatan untuk bicara secara pribadi dengan Sheilla. Akhirnya Bima pun bertanya tentang apa yang mengganggu pikirannya sejak tadi.


"Apakah kau tidak bahagia dengan acara lamaran hari ini?" tanya Bima sambil menatap tajam ke arah Sheila yang tampak masih menundukkan kepalanya.


"Aku bukannya tidak bahagia dengan acara lamaran ini. Aku hanya tidak setuju dengan waktu pernikahan yang terlalu cepat bagiku. Aku takut kalau orang-orang akan berpikir bahwa ada apa-apa dengan kita berdua! Aku hanya khawatir kalau mereka berpikir kalau kita ini melakukan MBA!" ucap Sheila dengan suara perlahan yang membuat Bima terkejut.


"Kenapa kau harus memikirkan perkataan orang lain? Bukankah selama ini kita tidak pernah melakukan apapun? Bahkan aku tidak pernah memegang tanganmu. Aku hanya satu kali menciummu bukan?" tanya Bima sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa malu, ketika dia kembali mengingat waktu dirinya yang dengan nekat tiba-tiba saja mencium bibir Sheilla.


Entah setan apa yang waktu itu merasuki kepalanya. Sehingga dia melakukan hal tercela semacam itu terhadap Sheilla yang belum resmi menjadi istrinya.

__ADS_1


"Itu kan hanya kita yang tahu! Kalau orang lain kan tidak mengetahuinya. Aku hanya takut saja, kalau mereka akan berpikiran jelek tentang pernikahan kita!" ucap Sheila menatap serius kepada Bima yang saat ini menatapnya dengan lekat.


"Sudahlah tidak usah memikirkan hal yang belum terjadi yang penting Sekarang kita fokus untuk menyiapkan acara pernikahan kita!" ucap Bima menyudahi pembicaraan yang sepertinya tidak akan pernah ada akhirnya.


"Ya sudah! Aku pulang dulu ya? Aku harus ke rumah sakit juga untuk menyiapkan beberapa hal. Karena pernikahan kita pasti akan membuat kita jadi sibuk untuk mempersiapkannya!" ucap Bima kemudian dia berpamitan kepada Sheila dan juga kedua orang tuanya untuk kembali ke rumah sakit karena dia lupa bahwa dia sebenarnya hari ini memiliki jadwal operasi.


Bima pergi menggunakan mobilnya sendiri Sementara kedua orang tuanya dan keluarga besarnya sudah pergi meninggalkan keluarga Bramantyo dari tadi.


Dipta dan juga ibunya tidak juga berbeda. Mereka pun sudah meninggalkan keluarga Bramantyo sejak tadi. Karena Dipta dan ibunya memiliki rapat yang harus mereka hadiri di perusahaan mereka masing-masing.


"Aku penasaran! Siapakah orang yang sudah merencanakan acara lamaran ini kenapa aku bisa sampai jatuh terjebak seperti ini?" tanys Bima kepada dirinya sendiri.


"Apakah ini adalah perbuatannya ibunya difta karena hanya dia yang mengetahui tentang Rencanaku untuk melamar Sheila hari ini!" Bima kemudian menghubungi ibunya Dipta tetapi sangat lama sekali untuk dijawab.


"Maaf Bima, tante nggak bisa mengangkat teleponmu. Karena saat ini tante sedang menghadiri rapat penting. Kau tinggalkan saja pesanmu nanti kalau Tante sudah selesai tante akan membalasnya!" ucap ibunya Dita melalui pesan Whatsapp di nomor Bima.


"Tidak apa-apa tante! Bima yang mau bertanya sesuatu. Apakah tante yang sudah merencanakan acara lamaran tadi?" tanya Bima kepada ibunya Dipta melalui pesan WhatsApp di Nomor ibunya Dipta.


Pesan tersebut tidak dibuka. Mungkin karena ibunya Dipta sedang sibuk dengan rapat, sehingga belum sempat membaca pesan yang disampaikan oleh Bima saat ini.


Bima langsung melajukan kendaraannya ke rumah sakit. Untuk segera bersiap melakukan operasi yang tadi sempat dia lupakan. Gara-gara perihal lamaran terhadap Sheila yang menjadi secara mendadak.


Begitu sampai di rumah sakit, Bima langsung pergi menuju ruang operasi dan segera mempersiapkan dirinya untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.

__ADS_1


Selama hampir 4 jam Bima berada di dalam ruang operasi. Dia sampai melewatkan makan siangnya. Setelah selesai Bima langsung pergi ke ruangannya dan mengecek ponsel nya untuk membaca jawaban pesan dari ibunya Dipta.


Terlihat ada jawaban dari ibunya Dipta dan Bima pun langsung membacanya.


"Acara lamaran tersebut sudah direncanakan oleh kedua orang tuamu sejak kemarin. Tante hanya memberikan saran kepadamu agar membuatmu datang secara sukarela ke kediaman Bramantyo!" jawab ibunya Dipta sehingga membuat Bima merasa bingung.


"Ah sudahlah! Biarkan saja. Terlepas dari apapun yang penting rencana pernikahanku dengan Sheilla berjalan dengan lancar. Adapun masalah prosesnya. Biarlah! Seharusnya aku bersyukur bahwa semuanya dilancarkan tanpa halangan yang berarti!" ucap Bima pada akhirnya menyerah untuk mengetahui tentang proses dari lamarannya.


"Sekarang yang penting adalah rencana pernikahan itu berjalan dengan lancar dan Sheilla mau menerima lamaranku itu yang lebih penting!" ucap Bima merasa bahagia.


Karena bagaimanapun juga, kemarin dia mengingat bahwa Sheila memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan mereka.


Sementara itu Dipta yang saat ini sudah berada di kantornya kembali tampak sedang merenungkan sesuatu yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Akhirnya Bima menikah juga! Aku berharap pernikahan mereka bahagia dan Bima bisa melupakan perasaannya terhadap Riyanti, yang selama ini seperti ganjalan besar dalam hidup Bima!" ucap Dipta terhadap dirinya sendiri. Karena, bagaimanapun dia merasa bahagia bahwa sahabatnya akhirnya akan menikah juga dengan seorang perempuan.


Berita tentang rencana pernikahan Bima tersebut langsung menyebar di perusahaan Dipta. Sehingga akhirnya hal itu berhasil mematahkan segala rumor yang mengatakan bahwa Dipta dan Bima adalah pasangan gay.


"Ya Tuhan! Mereka sungguh lancang sekali! Karena telah merumorkan aku dan Bima seorang gay. Bagaimana mungkin kami adalah gay? Sementara kami berdua masih memiliki ketertarikan terhadap seorang wanita?" ucap Dipta sambil menggelengkan kepalanya.


Bagaimanapun ketika dia mengingat kembali ke belakang, dengan apa yang selalu dilakukan oleh Bima terhadap dirinya. Yang selalu membuat orang menjadi salah paham kepada mereka berdua.


"Aku hanya perlu mendoakan kebahagiaan Bima dan juga Sheila tidak perlu memikirkan yang lain lagi karena semua itu tidak penting sama sekali!" ucap Dipta. Kemudian dia pun memutuskan untuk mulai fokus kembali dengan pekerjaannya yang menumpuk. Gara-gara tadi dia menghairi acara lamaran Bima dan Sheila di kediaman Bramantyo.

__ADS_1


Setelah hampir 5 jam Dipta fokus dengan pekerjaannya. Akhirnya dia pun meninggalkan kantornya setelah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini. Dipta kembali ke apartemen miliknya untuk beristirahat di sana tanpa perlu gangguan dari para pembantunya.


__ADS_2